Asha sibuk merawat Hanifa sejak satu bulan kedatangannya di negeri Kincir Angin, Belanda. Setiap seminggu sekali ia menemani berkonsultasi dengan dokter Psikologi, kemudian menjaga wanita itu dalam menjalani proses kemoterapi guna menetralisir bibit kanker yang mulai menyebar di paru-parunya. Asha sadar ia banyak mengambil peran, selagi tekanan batin bergumul di kepala dan hatinya membuat hidupnya di Netherland tak pernah tenang. Sebetulnya makin tak tenang sejak kepergiannya dari Indonesia, Asha tak lagi bisa tidur nyenyak. Mungkin karena hal itu pulalah asam lambungnya bereaksi keras di seminggu terakhir ini. Rasa mual itu menjungkir balikkannya, bahkan 2 hari terakhir Asha hanya mampu berbaring lemas di atas sofa. Dengan wajah sepucat mayat dan keringat dingin bercucuran dari dahi. Ya

