Satu jam kemudian, di salah satu kamar, di hotel tempat pernikahan Redanti dan Abdi, Rafli memeluk tubuh Silvi, wanita itu menangis di dadanya. Baju keduanya telah tak pada tempatnya, kebaya Silvi bagian d**a telah terbuka penuh, dan Rafli kembali melahap dua d**a besar itu bergantian, desah Silvi kembali terdengar diantara isak tangisnya, sedih namun nikmat yang tadi sempat terhenti kini muncul lagi. Rafli merebahkan Silvi di kasur nan lembut menciumi d**a, perut sedang tangan Rafli menjelajah di pangkal paha Silvi menggerakkan tangannya dengan cepat hingga Silvi merasakan ledakan hebat dan erangan Silvi terdengar merdu di telinga Rafli. Ia raih tangan wanitanya lalu ia arahkan pada miliknya yang telah keras sempurna, meski ragu Silvi menggerakkan tangannya naik turun, semakin lama semakin cepat hingga geraman keras Rafli mengakhiri aktivitas panas keduanya. Rafli meraih tisu, membersihkan tangan Silvi juga miliknya. Lalu saling memeluk dengan keringat penuh di kening keduanya.
"Aku semakin merasa bersalah pada Ibu Re."
"Kamu mikirnya terlalu jauh, kakakku itu suka sama kamu, kalo kita jadian, dia pasti mau."
"Tapi aku malu, aku tidak punya ... "
"Ssstttt ... Kamu selalu gitu, kita cepet benahi baju kita lagi, bajumu sudah entah kemana, kita bersihkan badan dulu."
"Jangan gini Raf, aku nggak mau hamil diluar nikah."
Rafli mengembuskan napas. Ia usap pipi Silvi.
"Aku juga nggak tahu kenapa selalu gini kalo dekat kamu."
.
.
.
Neta melihat Silvi dan Rafli yang keluar dari sebuah kamar, Neta segera bersembunyi khawatir keduanya malu jika ia tahu, melihat dari jauh bagaimana Rafli berusaha membetulkan bagian belakang kebaya Silvi. Lalu memeluk pinggangnya dan sesekali menciumi ujung kepala Silvi yang tingginya memang sedada Rafli. Lalu mereka bergandengan tangan menuju arah tempat parkir. Neta segera mengambil ponselnya dan bergerak cepat ke arah tempat parkir juga tapi melalui jalan berbeda.
Kamu di mana Sil?
Eh Mbak Neta, anu ini menuju tempat parkir
Sama siapa sih kamu
Sama Rafli tadi diajak keliling hotel bentar
Keliling hotel kok sampe lama, Rafli itu di cari Mbak Re karena bentar lagi mau berangkat ke Bali, uda ah aku tunggu di mobil ya
Ii ... iya Mbak
Neta setengah berlari menuju tempat parkir dan segera masuk ke mobilnya.
Dari arah berbeda ia melihat Silvi menuju mobilnya lalu membuka pintu dan masuk.
Neta tersenyum melihat lipstik di bibir Silvi yang memudar, juga rambutnya yang dibiarkan tergerai karena tadi sempat di model cepol sederhana. Juga yang membuat Neta agak kaget di d**a Silvi yang kebetulan berkrah rendah terlihat samar-samar berwarna merah.
Neta melajukan mobilnya tanpa bertanya, jika saatnya tiba ia akan memberi nasehat pada Silvi yang ia anggap seperti adik.
"Udah sana turun, mandi, tidur, nggak usah mikir yang aneh-aneh," ujar Neta saat Silvi akan turun dari mobilnya setelah sampai di depan kontrakannya.
"Iya Mbak, makasih."
Silvi melambaikan tangan pada Neta dan bergerak ke arah pintu untuk membuka pagar, namun deru sebuah mobil membuatnya menoleh, lalu terlihat Rafli yang turun dari mobil.
"Raf, jangan ke sini, di sini kita cuman berdua nanti kayak tadi lagi."
"Aku cuman numpang mandi, ayo ah jangan pelit."
Silvi mengangguk, ia yakin Rafli tak akan membiarkannya begitu saja, ia yakin apa yang mereka lakukan di hotel akan terjadi lagi, pikiran sehatnya menolak tapi tubuhnya malah bereaksi lain.
Silvi menjerit saat Rafli tiba-tiba menggendongnya dan merebahkan dirinya di sofa.
Dengan mata khawatir Silvi menatap wajah laki-laki tampan yang sangat dekat dengan wajahnya, dan mulai menyapu bibirnya.
"Raf, aku nggak mau kita selalu begini, aku mau kita nikah Raf, aku mau, aku nggak mau kita kebablasan dan ... aaahhh."
Silvi menjerit lagi saat Rafli telah membuka kebayanya dan membuka semua yang melekat di badannya, wajah Redanti berkelebat di benak Silvi, rasa bersalah yang amat sangat membuatnya tak bisa menikmati apa yang Rafli lakukan padanya namun saat laki-laki itu telah menindihnya dan mereka saling mendekap tanpa sehelai benangpun, Silvi mulai lupa, ia terbawa permainan Rafli, berpindah dari sofa, kamar tidurnya dan kamar mandi hingga kembali berakhir di kasur Silvi karena kelelahan.
Silvi menangis, ia hampir saja menyerahkan miliknya, dan jika ini terjadi lagi, ia yakin semuanya akan semakin tak terkendali.
"Jangan buat aku kayak gini Raf, kamu selalu bisa bikin aku menyerahkan diri, aku nggak mau kayak gini terus, apa dengan pacar kamu sebelumnya juga kayak gini? Kamu kayak udah biasa."
Rafli memeluk erat Silvi, mengusap punggung basah wanita yang selalu membuatnya tergila-gila untuk menjamah setiap jengkal tubuhnya.
"Kau tahu, dengan pacarku yang sebelumnya kami hanya berciuman, berpacaran dalam waktu lama dan aku menjaga betul agar ia tak tersentuh tapi apa yang terjadi? Dia malah menikah dengan orang lain, aku mungkin egois karena kejadian itu maka aku nggak mau itu terjadi lagi, kita segera menikah dan satu hal lagi bentuk tubuhmu yang membuat aku selalu ingin dan ingin seperti ini."
Silvi menangis semakin jadi, ia selalu rendah diri jika menyingung masalah bentuk tubuhnya yang pendek dan berdada besar.
"Kau mengejekku, kau tak benar- benar tulus."
"Aku mengatakan yang sebenarnya, ini yang membuat aku selalu ingin kita segera menikah." Rafli membalik Bandan Silvi agar menghadap ke arahnya.
"Nanti saat kakak sudah pulang kita minta ijin nikah dan kau ikut aku ke tempat aku bekerja, nggak usah ikut kakak lagi, udah ah kita tidur aja, semakin larut juga, ntar aku pingin lagi, semakin malam kan semakin banyak setannya."
Silvi menarik selimut untuk menutupi badannya dan melangkah ke kamar mandi.
"Ikuuut."
Silvi melotot ke arah Rafli.
.
.
.
Rafli bergerak malas, saat pagi hari ia bangun di kasur nan nyaman dan ingat jika semalam setelah mandi ia tidur berdua di kamar Silvi. Rafli melangkah ke luar kamar dan mendengar suara dari arah dapur, ia menemukan Silvi sedang memasak.
Rafli tersenyum dan memeluk Silvi yang kaget lalu berusaha melepaskan pelukan Rafli.
"Duduk sana dulu, aku masak yang simpel untuk sarapan."
Rafli melepaskan pelukannya dan mencium pipi Silvi lalu duduk dengan manis di ruang makan, tak lama Silvi muncul dengan dua piring nasi goreng dan telur ceplok.
"Nggak papa ya kayak gini?"
"Ini udah cukup." Rafli mulai menikmati sarapan pertamanya bersama Silvi.
"Aku nggak mau pulang, boleh? Aku mau di sini selama kakak belum balik dari Bali."
"Kalo sekarang nggak papa, ini kan Sabtu, sampe besokpun boleh tapi kan setelah itu kamu ngantor?"
"Ah Sidoarjo aja, kan dekat dari sini, boleh yaaa?"
Silvi diam saja ia tak ingin aktivits panasnya dengan Rafli semakin jadi, ia menyadari jika ternyata apa yang ia lakukan dengan selalu membuatnya ingin dan ingin tapi ketakutan akan berbuat lebih selalu terbayang di pikirannya.
"Rumah ini Bu Redanti yang milih juga bayar tiap bulan, aku bisa bilang apa kalo kamu mau di sini."
"Jadi kamu nggak mau sebenarnya kalo aku di sini?"
"Bukan gitu, aku takut kita tambah ingin lebih dan lebih Raf, aku nggak mau munafik jika sentuhanmu membuat aku ingin dan ingin lagi tapi kita kan harus mikir juga, takut kita jadi kebablasan dan ...."
"Aku janji nggak akan lebih dari ciuman."
"Ah kamu janji aja, tapi pas kayak gitu."
"Lah gimana itu d**a kamu bikin aku jadi ..."
"Assalamualaikum eh ada tamu ini ya? Kayaknya bukan tamu deh kalo melihat penampilan kalian yang masih kucel kayak baru bangun tidur, kepayahan dan heeeei adik manis itu di leher kamu kenapa juga ada tato bertebaran."
Neta langsung duduk dan menyendok nasi goreng dari piring Silvi.
"Ntar Mbak aku ambilkan ya, tinggal satu porsi itu, sekalian sama telur ceplok ya?!" Silvi mencoba mengalihkan
"Nggak usaaaah ini sama krupuk udah enaaaak."
"Maaf ya Raf, aku asal nyelonong aja, panggil Rafli aja ya tanpa embel-embel Mas, aku kan dah tua banget."
Rafli hanya mengangguk dan tersenyum. Ia menyukai gaya Neta yang santai dan ceplas-ceplos.
"Apa aku salah Mbak kalo suka sama Silvi dan melakukan hal sebenarnya nggak boleh tapi kami sama-sama menikmatinya?"
Neta menatap wajah Rafli yang seolah menunggu jawabannya.
"Kalo menurut kalian berdua ok sih gak masalah sebenarnya, hanya yang harus kalian pikir kalo Silvi hamil di luar nikah gimana? Ada banyak kesulitan yang akan kalian alami, rasa bersalah pada beberapa orang lebih-lebih pada Tuhan, juga pada janin yang ada dalam perut pasanganmu, aku bukan orang suci Raf, tapi melakukan hal seperti itu di luar nikah sangat besar resikonya, nikmat yang kamu dapat nggak sebanding dengan rasa bersalah yang akan kamu rasakan, pikirkan itu, menikahlah jika kalian sudah merasa cocok, jangan menunggu kejadian yang bisa membuat kalian berdua menyesal."