"Dari mana kamu, sampe jam segini baru nyampe rumah?"
Rafli hanya diam saja setelah menatap wajah kakaknya ia berlalu menuju kamarnya. Redanti mengejar adiknya, menahan lengan Rafli hingga Rafli berbalik.
"Dari kontrakan Silvi 'kan?"
Rafli menatap wajah Redanti dengan memelas.
"Gimana caranya agar dia mau aku nikahi Kak?"
Mata Redanti terbelalak, dia tak menyangka sama sekali jika Rafli punya pikiran akan menikahi Silvi.
"Loh kamu, kamu suka dia beneran? Suka, cinta apa napsu saja?"
Rafli menggeleng sambil memejamkan matanya. Meremas rambutnya dan menatap mata Redanti yang masih terbelalak.
"Jadi satu kayaknya Kak, tadi aja aku hampir nelanjangin dia, dan aku semakin gak bisa tidur ini pasti."
"Rafliiii ih kamu ini yaaaa jangan macam-macam loh, dia gadis polos, dia gak pernah macam-macam, kalo sampe kamu ngerusak dia aku gantung kamu!"
Rafli tak peduli Redanti yang masih marah, ia masuk ke kamarnya dan langsung menuju kamar mandi.
"Heeeeeiiii anak nakal, mau ke mana kamuuu!"
"Nuntasin yang belum selesai Kak, bisa pusing aku."
Redanti hanya istighfar berulang dan ia bertekad akan membujuk Silvi agar mau menikah dengan Rafli.
.
.
.
Silvi dan Rafli benar-benar tak bisa tidur malam itu. Silvi memeluk guling dengan erat ia tak mengerti mengapa ia biarkan saja Rafli menjamah setiap jengkal tubuhnya. Membiarkan dirinya rebah di sofa dan merasakan bibir dan lidah Rafli membangkitkan sisi liar yang tak pernah ia sadari. Beruntung ia segera sadar dan Rafli segera menghentikan aktivitas yang membuat keduanya terengah dan saling menjauh.
Di kamar mandi Rafli membiarkan air mengalir membasahi tubuhnya, selesai menuntaskan hasrat yang tak sempat ia capai segera ia membasahi badannya, membayangkan tubuh putih tanpa cela dengan d**a membusung indah membuat Rafli kembali mengerang.
.
.
.
Kurang dua hari dari pernikahan Abdi-Redanti, Neta dan Silvi terlihat lebih sering berada di rumah Redanti. Menemani sang calon pengantin yang entah mengapa selalu terlihat melow.
"Aku jadi ingat mendiang ibu dan bapak." Air mata mengalir dan Redanti terisak dalam pelukan Neta.
"Ck Ojo mikir sing sedih-sedih to, mikir engko gawe gaya opo pas malam pertama Ben gak sedih terus (jangan mikir yang sedih-sedih to, mikir nanti pake gaya apa pas malam pertama biar nggak sedih terus)."
Redanti berusaha tersenyum meski air matanya terus mengalir.
"Ibu sedihnya kayak gini ya, apalagi aku yang nggak tau siapa orang tuaku, misalnya nanti pas aku mau nikah."
Tiba-tiba saja Silvi seolah bergumam pada dirinya sendiri.
"Looooh Jo khawatir cah cilik, engko nek awakmu arep rabi tak dekep pisan Nang kelek Ben Ra nangis (looooh jangan khawatir anak kecil, nanti pas kamu mau nikah aku peluk kamu di ketiakku biar gak nangis)"
"Ih Mbak Neta ya, masak sedih di kasi ketiak."
Redanti akhirnya tertawa mendengar ucapan Neta, melepas pelukannya dan mengusap air matanya.
"Mbak Neta jahat Ibu, masak saya dikasi ketiak 'kan kecut." Silvi mencubit lengan Neta.
"Lagian siapa yang ngajak kamu nikah hayo, kok tiba-tiba bilang gitu."
Silvi terlihat gugup ia menatap sekilas wajah Redanti yang juga menatapnya.
"Jika ada yang serius mengajakmu nikah terima saja, toh usiamu sudah cukup untuk menikah." Redanti melihat Silvi yang hanya menunduk saja.
"Iya bener dari pada nanti terlibat hubungan gak jelas kan lebih baik nikah." Neta menimpali ucapan Redanti.
"Jangan khawatir Silvi, kami akan selalu berada di sampingmu dan mendukungmu, kamu sudah seperti keluarga bagi kami."
Tiba-tiba Silvi memeluk Redanti, ia merasa bersalah, wanita yang ia peluk sudah sangat baik padanya tapi mengapa ia seolah merasa tak tahu diri jika masih saja menanggapi uluran kasih Rafli, sementara hatinya semakin terjerat pesona laki-laki berbadan kekar dan telah beberapa kali menciumnya bahkan lebih dari itu.
"Maafkan saya Ibu."
"Loh kenapa minta maaf, kamu nggak punya salah." Redanti mengusap punggung Silvi, ia tak mengerti, apa yang membuat Silvi meminta maaf. Silvi hanya menangis. Ia ingin menjauh dari Rafli tapi entah mengapa selalu saja ia tak bisa mengelak dari getar aneh tiap kali mereka berdekatan.
"Pasti kamu suka Rafli kaaan tapi merasa gak enak sama Mbak Re kaaaan?"
Dan tangis Silvi semakin jadi, Neta dan Redanti menahan tawa saat perlahan Silvi mengangguk.
.
.
.
Sehari sebelum akad nikah dan pesta pernikahan, kerabat Ibu dan Bapak Redanti telah berdatangan. Rafli yang mewakili Redanti telah menyilakan para kerabat menempati kamar yang telah disiapkan oleh Redanti dan Abdi. Segala persiapan telah matang, segala proses tahap demi tahap telah dijalankan tinggal menunggu besok acara akad nikah dan pesta pernikahan akan digelar. Saat sedang menunggu kerabat yang lain datang, Rafli dikejutkan oleh kehadiran Silvi yang melangkah ragu mendekat ke arah tempat Rafli duduk.
"Aku disuru Ibu agar menemanimu di sini." Tanpa ditanya Silvi menjelaskan kehadirannya yang ia yakin Rafli tak tahu untuk apa ia di sini.
Rafli menarik lengan Silvi hingga Silvi duduk sangat dekat dengan Rafli. Harum tubuh Silvi membuat Rafli gelisah.
"Ada apa?" tanya Silvi dengan suara lirih karena canggung.
"Seandainya kamu mau, aku ingin mengajakmu masuk ke salah satu kamar di sini."
Silvi hanya menatap Rafli dengan tatapan sendu, ia tak tahu harus berbuat apa, selalu saja begini tiap berada di dekat laki-laki bertubuh tegap ini. Seolah ia terhipnotis dan hanya mampu diam.
"Kita nikah ya? Segera setelah Kakakku!"
Sekali lagi Silvi diam saja, ia merasakan tangannya digenggam erat oleh Rafli. Tatapan mata Rafli seolah membawanya jauh ke negeri antah berantah.
.
.
.
Hari bahagia itu akhirnya tiba juga, tangis haru dan bahagia akhirnya pecah juga saat Redanti mendengar lagi Abdi mengucap ijab kabul dengan lancar. Kerabat Redanti dan Abdipun demikian karena kedua orang tua pasangan sudah meninggal, momen bahagia ini akhirnya menjadi peristiwa yang mengharu biru.
Rafli yang terlihat tegar akhirnya tak bisa menahan air matanya, sesekali ia tampak mengusap matanya. Wajah ibunya terbayang kembali, ia sangat dekat dengan ibunya maka saat ibunya meninggal, Rafli yang paling terpukul, apalagi meninggalnya ibunda mereka karena peristiwa yang tak mengenakkan.
Selesai proses ijab kabul, dilanjut dengan penyerahan mas kawin lalu surat nikah kemudian langsung dilanjutkan pesta pernikahan, memang dibuat simpel, toh ini pernikahan mereka yang kedua kalinya, dengan orang yang sama.
Rafli terlihat menatap wajah bahagia kakaknya, ia bersyukur menyingkirkan egonya dan hadir diantara sanak keluarga.
"Nggak makan?"
Rafli kaget saat mendengar suara lembut yang akhir-akhir ini menganggu mimpinya, ia menoleh dan takjub saat melihat Silvi dalam balutan kebaya dan kain panjang.
Rafli menarik tangan Silvi agar mendekat.
"Aku nggak suka kamu pake baju kayak gitu, dadamu hanya untuk aku, lihat, coba lihat, terlalu pas di badanmu dan dadamu semakin membusung, setelah ini segera pulang, aku antar, dan selama di sini jangan jauh-jauh dari aku, aku nggak mau mata laki-laki lain bebas melihatmu, lebih-lebih dadamu."
Silvi hanya menunduk, ia memang minder dengan kekurangannya yang satu ini, sudah pendek, d**a besar lagi.
"Kamu malu kan kalo punya pacar kayak aku, makanya gak usah ngajak aku nikah."
Rafli semakin mendekatkan wajahnya.
"Siapa yang malu, aku nggak mau kamu dinikmati orang lain!"
"Kebaya ya gini, ngepas badan."
"Ya jangan ngepas bangetlah, jadinya malah aku ..."
"Udah ah aku nggak mau kamu m***m aja."
"Kamu yang bikin aku mesum."
"Yaudah aku pergi."
"Heiii ... Heiii ... Mau ke mana?"
Dan Rafli melangkah cepat menjajari langkah Silvi.