Rafli terpaksa memarkir mobilnya di luar karena di depan pagar rumah kakaknya berjajar beberapa mobil yang ia yakin itu mobil teman-teman saudara iparnya, juga kepunyaan iparnya dan entah siapa lagi yang jelas Rafli memarkirkan mobilnya agak jauh dari rumah kakaknya.
Setelah memastikan mobil terkunci, Rafli melangkah pelan menuju rumah kakaknya, semakin dekat suara canda dan tawa semakin jelas terdengar.
"Rafliii ayo sini gabung di sini, biar santai meetingnya di ruang keluarga aja, cuman nunggu kamu sama Nuning ini."
Teriakan Redanti membuat semuanya menoleh ke arah langkah seseorang yang melangkah mendekati ruang keluarga.
"Waaaah ini Rafli? Jadi beda banget setelah lima tahun nggak ketemu, gagah dan keren, makanya si Silvi sampe gak bisa tidur, ternyata bener keren banget." Neta melongo menatap Rafli dengan badan tegapnya.
"Ih Mbak Net apaan sih, aku nggak bisa tidur kan karena kepanasan di kamar Mbak Neta."
"Tak usir kamu kalo ke aku lagi wong ac sampe dinginnya kayak gitu bilang kepanasan."
Semua yang ada di ruang keluarga rumah Redanti yang nyaman jadi tertawa melihat Silvi yang salah tingkah, mata Rafli menatap Silvi yang pura-pura tak melihat padanya. Entah mengapa d**a Rafli berdegup kencang dengan hanya melihat wajah putih itu menjadi kemerahan karena menahan malu.
"Mbak Neta bikin aku malu, siapa juga yang mikir dia."
"Udah ... udaaah nggak usah saling nggak mau, nanti setelah aku nikah gantian mereka berdua ini yang nikah." Ucapan Redanti kembali membuat semuanya tertawa.
.
.
.
Meeting kecil-kecilan itupun akhirnya selesai semuanya pulang kecuali Neta dan Silvi. Silvi membawa beberapa piring kotor ke dapur saat yang lain telah pulang, ia merasa tak enak jika langsung pulang tanpa membantu semuanya bersih seperti semula, meski Redanti bolak-balik menyuruhnya segera pulang, hanya Neta yang sepertinya masih berbicara dengan Redanti dan Abdi mengenai honeymoon mereka yang direncanakan seminggu lamanya.
Saat tiba di dapur Silvi sempat berbicara agak lama dengan pembantu Redanti, terlihat tertawa dan seketika tawanya hilang saat Rafli menuju ke arahnya membawa beberapa gelas kotor.
Saat akan melewati Rafli, lengannya di tahan oleh laki-laki itu. Silvi hanya menatap tangan besar Rafli yang memegang lengannya.
"Mau ngajak aku tengkar lagi? Jangan sekarang aku lagi nggak mood."
Rafli menarik Silvi semakin dekat hingga keduanya hampir tanpa jarak. Pembantu Redanti memilih meninggalkan dapur menuju bagian belakang rumah karena melihat wajah keduanya yang semakin tak jelas antara marah dan canggung.
"Betul yang dikatakan Mbak Neta?"
"Jangan ge-er, aku nggak mikirin kamu, aku nggak bisa tidur bukan karena ciumanmu, tapi karena ya gak bisa tidur aja, jadi nggak usah punya pikiran macam-macam."
"Mbak Neta kan nggak ngomong masalah ciuman tadi, kenapa kamu sampe ngomongin itu? Jadi benar 'kan karena ciumanku kau tak bisa tidur?"
Silvi diam tak menjawab, ia akhirnya menunduk karena tak bisa menatap mata Rafli lebih lama.
"Kalo kamu nggak ngaku nggak papa, tapi aku juga gak bisa tidur setelah cium kamu bahkan sampe sekarang masih ingat terus, rasanya aku selalu ingin menemui."
Silvi menarik lengannya yang masih dipegang oleh Rafli. Ia menggeleng. Matanya mulai mengabur, ia takut hatinya merasa tak siap lagi jika ada laki-laki yang berusaha dekat padanya.
"Jangan, nggak usah diteruskan, aku nggak mau punya rasa yang lain sama kamu, Ibu Redanti sudah memberikan segalanya buat aku, terlalu tamak kalo aku berharap yang lain."
Silvi berlalu dari hadapan Rafli yang masih termangu menatap tubuh kecil itu menjauh. Ada rasa bimbang dan bingung dalam diri Rafli, ia tak bisa menebak perasaan Silvi padanya. Ia merasa jika Silvi juga menyukainya tapi mengapa ia punya pikiran seperti itu?
Tak jauh dari Rafli berdiri, tampak Redanti dan Neta yang saling pandang. Redanti menarik Neta ke samping kolam renang.
"Betul ternyata mereka ada sesuatu kan Mbak Re, sejak awal Rafli datang matanya selalu saja mengarah ke Silvi yang pura-pura melihat sisi lain, kita kan sudah sama-sama tua, taulah kalo bocah kayak mereka saling menyimpan rasa, pake acara nggak ngaku lagi."
"Ho oh bener, kemakan omongan mereka sendiri yang sama-sama sok jual mahal eh ternyata sama-sama suka, malu akhirnya mau ngakuin, cuman kita gak dengar ya mereka ngomong apa, jauh sih."
"Halah gampang Mbak Re, nanti aku cari info dari si Silvi."
Redanti memeluk Neta dengan perasaan terharu, Neta adalah orang yang telah banyak berjasa hingga ia bisa bersatu lagi dengan Abdi.
"Boleh kan aku minta tolong lagi?"
"Ih Mbak sampe minta, bilang aja apa?" Neta menatap wajah Redanti, wanita sabar yang sangat ia sayangkan mengapa dulu Abdi pernah melepaskannya.
"Bantu aku biar Rafli bersatu sama Silvi, aku pingin Silvi merasakan bahagia punya keluarga yang menyayanginya."
Neta mengangguk, baginya Silvi sudah seperti adik, dan Redanti pun sudah seperti saudara. Menyatukan apa yang terserak akan sangat membahagiakannya.
"Pasti Mbak, kita atur strategi biar nanti pas pesta pernikahan Mbak Re, dia kita pasangkan sama Rafli."
Redanti tersenyum lebar, ia yakin Neta selalu punya jalan untuk menyatukan siapapun.
"Mbak Neta sendiri gimana? Masih betah sendiri?"
Neta diam saja, entah mengapa dia selalu saja enggan berbicara mengenai pernikahan. Ia pernah merasakan kebahagiaan itu, tapi Tuhan punya rencana lain.
.
.
.
"Udah beneran ini nggak mau nginep di rumah?" tanya Neta pada Silvi, saat Silvi telah sampai di kontrakannya.
"Iya Mbak, malam ini biar aku di sini aja."
"Eaaak lagi ingin membayangkan Rafli seorang diri."
"Iiih Mbak Neta, apaan sih."
Silvi melambaikan tangan saat mobil Neta berlalu dan kaget saat sebuah mobil berhenti dan semakin kaget saat tahu yang turun adalah Rafli.
"Mau apa kau ke sini? Ini sudah sangat malam."
"Aku ingin bicara, sebentar saja."
Silvi berjalan mendahului Rafli, membuka pintu dan kaget saat mendengar pintu ditutup, ia merasakan lengannya ditarik Rafli hingga berbalik dan ia kembali menatap mata Rafli yang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Kau membuat aku nggak bisa berhenti berpikir tentang kamu." Suara Rafli terdengar lirih dan Silvi merasakan tubuhnya bergetar, jantungnya berdegup kencang.
Rafli meraih dagu Silvi, menundukkan wajah dan melumat bibir terbuka itu dengan lembut. Rafli merasakan Silvi membalas ciumannya, erangan Silvi menyadarkan Rafli hingga ia melepaskan ciumannya, napas mereka masih menderu. Rafli memeluk erat tubuh mungil Silvi. Mengusap punggungnya perlahan.
"Jangan ajari aku yang aneh-aneh, aku nggak pernah tahu hubungan lebih laki-laki wanita selain duduk berdua dan jalan-jalan."
"Aku menyukaimu, dalam waktu yang sangat singkat tapi kau telah membuat aku tak bisa berpikir yang lain."
"Nggak, aku takut, aku nggak mau Ibu Re jadi ...."
"Ssstttt ... nggak ada yang perlu ditakutkan, aku yakin kakakku mau menerimamu."
"Aku yang harus tahu diri."
Rafli melepas pelukannya, ia usap pipi Silvi.
"Kau menyukaiku kan?"
"Aku nggak tahu, aku ..."
Silvi berjinjit meraih wajah Rafli hingga laki-laki itu menurunkan wajahnya dan mereka kembali menyatukan bibir dan saling bertukar Saliva.
.
.
.
"Rafli kok tiba-tiba ngilang kemana sih tuh anak?"
"Yaudah aku tungguin sampe dia balik." Abdi masih saja betah duduk di samping Redanti yang gelisah karena adiknya tak biasanya pergi tanpa pamit.
"Nggak usah, Mas pulang aja ya, dah larut gini ntar Mas pingin yang aneh-aneh."
Abdi terkekeh, akhirnya ia bangkit namun terlebih dahulu mencium ujung kepala Redanti.
"Tau aja, emang dari tadi maunya nidurin kamu aja."
Redanti memukul lengan Abdi, selalu saja pikiran laki-laki di sampingnya ini ke arah itu saja.
"Udah ya, aku pulang, tidur aja, Rafli paling ke rumah ceweknya."
Redanti mengangguk pelan, dan mulai berpikir bisa jadi begitu karena tadi Rafli menghilang setelah Silvi dan Neta pamit pulang.
Redanti melambaikan tangan saat mobil Abdi bergerak perlahan dan laki-laki yang ia cintai juga melambaikan tangan.