"Kenapa wajah kamu Sil? Kayak orang bingung?" Neta melihat hal aneh pada Silvi, ia tak banyak bicara, hanya memberi kode ingin meminjam baju tidur Neta, lalu menuju kamar mandi setelah baju tidur berada di tangannya.
"Aneh-aneh aja tuh anak, yang kapan hari triak-triak, lah sekarang malah dieeem aja."
Neta yakin ada sesuatu yang terjadi pada diri Silvi, Neta memutuskan untuk tidak bertanya lagi, akan ia biarkan Silvi bercerita jika saatnya tiba.
Di dalam kamar mandi Silvi termangu, ia sentuh bibirnya perlahan sambil memejamkan mata, mengapa ia tak marah saat Rafli tadi menciumnya? Mengapa ia hanya diam dan membiarkan Rafli menjelajah setiap inci bibir dan mulutnya. Semakin memejamkan mata semakin terbayang suara cecapan Rafli di bibirnya yang membuat Silvi merinding. Lalu ia tersadar dan segera berhenti saat tangan Rafli menyentuh dadanya, ia mendorong d**a Rafli perlahan lalu segera berlalu dari hadapan Rafli sambil menahan malu.
.
.
.
Di tempat lain, Rafli berusaha memejamkan matanya, ia menyesal telah mencium Silvi tadi. Tapi entah mengapa rasanya ia ingin mengulangnya lagi. Bibir lembut itu bergetar saat ia kulum dan hanya pasrah saat bibir dan lidahnya lama bermain di sana.
"Aaarrgggghhhh ...."
Rafli meremas rambutnya dengan keras. Kejadian tadi seolah terus mengganggunya. Di satu sisi ia merasa kalah karena telah mencium Silvi lebih dahulu, tapi disisi lain ciuman yang awalnya hanya agar Silvi menghentikan ocehannya menjadi Boomerang baginya. Bibir mungil dan d**a besar yang ia rasakan menempel di dadanya telah mengganggu pikirannya, tangannya juga sempat menyentuh d**a besar Silvi, gara-gara itu juga Silvi jadi kaget, mendorongnya dan segera berlalu.
"Aaahhhh kenapa aku jadi m***m gini, b******k banget aku."
Rafli masih memejamkan matanya. Mencoba merasakan apa yang telah ia alami bersama Silvi.
"Kamu mesumin siapa Rafli? Hayo ngaku, kakak sudah curiga waktu liat kamu pulang dari cafe sambil senyum-senyum, kamu itu sudah waktunya nikah, kalo ada yang cocok nikah aja setelah kakak nikah nanti."
Rafli membuka mata dan menegakkan badannya, kakaknya duduk di samping, berdua mereka duduk di kursi taman yang menghadap ke kolam, seperti biasa, rasanya itu tempat favorit mereka berdua jika sedang ada masalah.
"Kamu kayak sedang jatuh cinta Rafli, sama siapa kalo kakak boleh tahu?"
"Bukan jatuh cinta kak, aku yakin bukan, biasalah namanya laki-laki penasaran aja."
"Penasaran? Lalu pikiran liar kamu jadi kemana-mana gitu?"
"Yah begitulah, aku menciumnya tadi, dan setelah itu aku jadi penasaran."
Redanti tertawa, ia tahu jika adiknya laki-laki normal, pernah pacaran dan ia yakin pernah juga berciuman dengan mantan pacarnya, tapi wajah Rafli kali ini sangat aneh, ia terlihat seperti orang bingung.
"Maksud kamu penasaran apa? Setelah nyium cewek itu kamu jadi pengen nyium lagi gitu?"
"Semacam itu lah Kak, ia diam saja saat aku cium, kayak ketakutan tapi menikmati, saat aku peluk juga dia kayak ragu balas meluk aku, kelihatan banget kalo dia gak pernah melakukan itu sebelumnya, setelah aku ciumpun dia gak marah, hanya menunduk dengan wajah memerah dan bergegas pergi."
Mata Redanti terbelalak, kini dia mengerti sudah dan dapat menerka ke mana arah pembicaraan Rafli.
"Rafliiii, jangan bilang kalo kamu sudah nyium Silvi!"
Rafli menatap wajah kakaknya yang masih menunggu jawabannya dan perlahan mengangguk.
"Iiiiih, nih anak yaaaaa!" Redanti memukuli lengan keras Rafli. Rafli membiarkan saja toh tidak terasa sakit pukulan kakaknya.
"Kok bisaaa kamu nyium Silvi?!"
"Lah dia ngoceh aja, ngatain yang nggak-nggak kan aku jadi mangkel, biar dia brenti ngoceh ya aku cium dia eh malah jadi ketagihan gini."
"Ih kamu ini yaaaa." Redanti memukuli Rafli lagi.
.
.
.
Malam semakin larut, Silvi benar-benar tak bisa tidur, ia hanya membolak-balikkan badannya, teringat terus bagaimana laki-laki itu telah mencuri ciuman pertamanya. Ia tak mengira jika pengalaman pertamanya akan berakibat seperti ini. Terbayang terus bahkan ia merasa seolah bibir Rafli masih bergerak liar di bibirnya. Perlahan Silvi menyentuh bibirnya, mengusapnya pelan dan ...
"Kamu ini kayak lagi jatuh cinta untuk pertama kali deh, jadi aneh, dieeeem aja, dan kenapa juga itu pake acara mata merem sambil ngusap-ngusap bibir? Apa yang terjadi sama kamu sebelum ke sini heeeeeh? Dicium Rafliiii?" Neta menatap jengkel pada Silvi yang baru kali ini sangat mengganggunya, ia jadi tidak bisa tidur gara-gara Silvi yang terus bergerak sejak tadi.
"Kok nggak jawab kenapa? Hmmm beneran kan dicium Rafli?"
Silvi pura-pura memejamkan mata sambil memeluk guling dan membelakangi Neta.
"Ih, diajak ngomong malah aku dikasi bokong." Neta menepuk b****g Silvi yang masih tetap saja diam tak menanggapi ocehannya.
"Bodo ah, aku mau tidur."
.
.
.
Keesokan harinya saat Rafli akan segera kembali ke kota tempat ia mencari nafkah, dari kamarnya, ia mendengar suara tawa dan canda, Rafli yakin pasti kakak dan mantan suaminya itu.
Rafli akhirnya harus berpikir realistis bahwa kakaknya butuh pendamping, butuh orang yang melindungi, dan jika ternyata masih berjodoh dengan mantan suaminya, ia bisa apa? Meski kadang masih tersisa rasa marah, ia tak bisa menghalangi keinginan kakaknya untuk kembali pada laki-laki itu.
Setelah siap semua, Rafli melangkah ke luar kamar, hendak pamit pada kakaknya akan ke Sidoarjo tempatnya bekerja.
Dari arah kamar yang tak jauh dari ruang makan, Rafli berdiri, memandang kakak dan mantan iparnya sedang makan dan bercanda. Keduanya terlihat bahagia. Ada kebahagiaan yang terpancar dari wajah keduanya. Dalam hati Rafli ada keinginan mulai serius dengan wanita, tapi siapa? Apa dengan wanita yang tadi malam datang dalam mimpi erotisnya? Hingga ia harus segera bangun dan keramas agar tak tertinggal sholat subuh. Rafli kembali memejamkan matanya, ia sadar sepertinya ia mulai tertarik pada wanita liliput yang ia kira akan tergila-gila padanya, tapi kejadian malah berbalik seperti ini. Ego laki-lakinya melarang ia mendekati lebih dulu, tapi ia terus tersiksa jika tak melihat lagi bagaimana reaksi wanita itu setelah ia cium.
"Eh Rafli, gabung sini yuk sarapan."
Panggilan Redanti mengagetkan Rafli, ia hanya menggeleng.
"Nggak Kak, aku harus segera berangkat kerja, takut terlambat."
"Sidoarjo kan dekat Rafli, makan aja dulu," ujar Abdi.
"Nggak Mas, ada meeting juga pagi ini."
"Eh iya, nanti malam segera pulang ya Raf, ada meeting kecil-kecilan untuk persiapan nikahan Kakak, nanti juga hadir Mas Lanang, Mas Ardi dan Mas Rafa kayaknya pada bawa cewe mereka, trus Mbak Neta dan Silvi, pulang ke sini lagi ya?!"
"Iya, pasti aku pulang Kak, aku berangkat dulu Kak, Mas."
"Iya," sahut Redanti dan Abdi bersamaan.
"Tumben adikmu mau nyapa aku, biasanya juga mode kulkas, dan semangat banget dia mau balik ke sini lagi."
"Kayaknya dia sedang jatuh cinta."
"Emang beneran loh, cinta itu bikin laki-laki jadi kehilangan akal, wanita juga sih."
Redanti dan Abdi tertawa, mengingat tingkah aneh Rafli yang tak seperti biasanya.
"Waduh Mas udah jam berapa ini, ntar ya aku mau ganti baju dulu Mas, bisa terlambat ini, bos ya bos tapi jangan sampai terlambat ke butik."
"Ikuuuut ganti baju."
"Maunyaaa!"