12

1016 Words
Jam menunjukkan hampir pukul dua belas malam saat Rafli masuk ke rumahnya dan tersenyum saat melihat istrinya yang tertidur di kursi. Ada rasa bahagia di dadanya juga rasa iba pada Silvi yang menunggunya hingga tertidur sambil duduk di sofa, kepalanya bersandar dan miring, rambut sebahunya menutupi sebagian wajahnya. Rafli menggendong Silvi ke kamar, terlihat jika Silvi lelah dan sangat nyenyak hingga tetap memejamkan matanya meski digendong dan direbahkan di tempat tidur. Lalu Rafli menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat kasur bergerak dan terasa ada yang memeluk pinggangnya, Silvi perlahan membuka mata, terasa berat karena ia sangat mengantuk namun ia merasa jika itu Rafli yang mulai menciumi dirinya dari samping. "Kerja apaan seharian sampe keliatan capek kayak gini, deuh deuh istriku yang cantik kok ya kayak baru kerja paksa aja." "Hmmm ... seharian tadi memang sibuk aku sama Bu Re, melihat langsung persiapan pengiriman baju-baju ready to wear ke beberapa online shop yang pesan ke kita, banyak tahu, Alhamdulillah deh pokoknya rejeki bulan ini." "Jangan capek-capek ntar gak jadi-jadi dedeknya." "Hadeuh baru juga seminggu, tapi aku yakin jadi, liat Mas yang kayak gitu." Mata Silvi mulai terpejam lagi, tapi merasakan tangan Rafli yang mulai mengusap dadanya pelan, ia menoleh dan mencubit perut Rafli yang terdengar mengaduh. "Iya iyaaa tidur Sayaaaang." Lalu Rafli memeluk pinggang Silvi dengan erat. Mencoba memejamkan mata meski sebenarnya ia sangat ingin mencumbu istrinya, namun sebagai suami ia paham jika Silvi sangat lelah. . . . "Apa nggak lebih baik brenti aja kamu Sayang dari kerjaan kamu?" Ucapan Rafli cukup mengagetkan Silvi, karena tidak pernah terpikir jika ia harus berhenti bekerja. Tak terbayangkan bagi Silvi jika ia hanya duduk-duduk di rumah, karena meski telah menikah sampai saat ini pekerjaan rumah masih bisa ia tangani sendiri. "Kenapa Mas bilang gitu? Aku kan masih bisa nyiapkan sarapan dan kalo Mas pulang kerja juga bisa nyiapkan makan malam, tadi malam aja karena Mas pulang larut banget jadinya aku ketiduran dan urusan hubungan itu juga aku selalu layani." Suara Silvi terdengar tak enak di telinga Rafli yang sedang sarapan nasi goreng dengan telur ceplok dan kerupuk udang pagi itu. "Sayaaang jangan tersinggung, ini bukan masalah pelayanan kamu, tapi aku mikir capeknya kamu loh, gak usah masak, udah beli aja, gak usah nyuci nyetrika sendiri ke laundry saja, aku merasa bersalah lihat kamu kelelahan kayak tadi malam, ujung-ujungnya aku pengen nyusu sebenarnya jadi gak tega." Tawa kecil Rafli terdengar. "Ih Mas protes ya karena gak bisa gituan, kenapa tadi malam gak diterusin cuman ngusap-ngusap d**a aja dan masalah masak juga bukan masalah bagi ku, toh Mas apa aja mau, dan nyuci nyetrika juga gak berat, ada mesin cuci dan setrikaan juga cuman berdua kan dikit, nanti aja kalo sudah punya bayi aku akan mikir punya pembantu, trus kenapa juga tadi malam Mas gak nerusin, cuman elus-elus aja." "Kamu kayak kelelahan, akunya jadi gak tega dan kamu emang kayak gak mau tadi malam kayak lelah." "Sekarang mau?" "Ayo siapa yang nolak? Di mana?" "Di sini aja." "Hah?! Di meja makan maksudmu?" "Ho oh." "Oh nantangin, ayo aku ladenin." . . . Redanti melihat Silvi yang pagi itu terlihat mengantuk, matanya yang seolah enggan terbuka membuat Redanti melangkah pelan sambil membawa secangkir kopi, tadi ia sempat menyuruh ob. "Ngopi dulu Sil, biar gak ngantuk." "Eh ibu, maaf, tadi malam nunggu Mas Rafli sampe malam dan tadi juga sempat gituan hehe kasian Mas Rafli yang pengen sejak semalam cuman kelelahan kayaknya saya Bu, 'kan Mas Rafli gak bisa cepat kalo gituan, selalu agak lama." Tawa Redanti akhirnya pecah juga, ia tepuk bahu Silvi, alangkah polosnya wanita yang telah menjadi istri adiknya itu, sampai ke urusan hubungan suami istri juga diceritakan secara detil. "Makanya ngopi dulu, biar rada Segeran." "Iya Ibu makasih dan maaf jadi merepotkan." "Ah nggak, yang bikin juga si Sapri, aku cuman nyuruh aja, udah ya Silvi, aku mau lanjut kerajaanmu lagi." "Iya Ibu silakan." Redanti melangkah kembali ke ruangannya, dan Silvi menggelengkan kepalanya pelan. "Ih gara-gara ngeladeni Mas Rafli jadi capek dan ngantuk, heran aja tu orang, sampe gitu semangatnya kalo lagi gituan, gak tau aku capek apa nggak, sampe sekarang ini masih kerasa capeknya." Silvi menggerutu sendiri sambil sesekali menyesap kopi yang masih mengeluarkan uap panas. . . . Keengganan Rafli kembali terlihat saat Tiara dan sekretarisnya muncul di kantornya. Hal yang semakin membuatnya kesal karena bosnya menyerahkan penuh urusan Tiara padanya. Rafli tak mungkin menolak karena ia ingin profesional tapi mau tak mau hati kecilnya enggan berhubungan dengan Tiara lagi. "Ada apa Anda lagi ke kantor ini? Bukankah urusan telah selesai?" Suara dingin Rafli terdengar datar. Wajah Tiara mengeras, sejujurnya ia kangen pada laki-laki yang telah bertahun-tahun menjaganya dengan sayang, tapi ia tak bisa serta Merta menolak keinginan papanya yang jika ia tak mau menikah dengan laki-laki pilihan papanya maka hutang papanya senilai 1,5 M tak akan pernah dianggap lunas, maka jalan satu-satunya ia menyerahkan hidup dan kehormatannya pada laki-laki yang telah bersedia melunasi hutang papanya, kini meski ia telah menjadi istri Burhan Adiyatama, pemilik berbagai macam usaha tapi tetap tega memperlakukannya seperti pekerja. Ia diberi wewenang di salah satu perusahaan bukan sebagai pemilik sah tapi hanya sebagai salah satu bentuk pelayanan yang harus ia berikan pada suaminya karena telah mengangkat keluarganya dari hutang piutang. Semua harus dilaporkan pada suaminya, tak boleh ada kesalahan jika salah maka ia akan disiksa, Meksi kini ia sedang hamil. Suaminya punya kelainan seksual yang lebih suka dan puas jika ia berteriak kesakitan dan berdarah-darah. Sungguh hidup yang sangat tidak diinginkan oleh Tiara. "Ada hal lain yang ingin saya sampaikan pada bos Anda tapi beliau berpesan tadi lebih baik menemui Anda, pemilihan bahan Anda lebih jeli menurut beliau." Akhirnya suara Tiara terdengar. "Jika hanya itu, tak perlu Anda yang ke sini, cukup mendelegasikan staf Anda, anda pemilik perusahaan harusnya tak perlu repot-repot ke sini." Sekretaris Tiara merasa tak enak melihat bosnya dan tuan rumah di depannya yang tak kunjung menyilakan duduk. "Jika dendam padaku jangan dibalaskan dengan cara begini, kita harus profesional, tumben kau tak seperti biasanya." "Karena hidup mengajarkanku, bahwa kebaikan ternyata tak selamanya dibalas dengan kebaikan, maka aku harus memilih pada siapa aku akan berbaik hati dan bersikap lembut."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD