Ada kebiasaan baru sejak Silvi menjadi nyonya Rafli, pagi setelah mandi dan sholat subuh ia segera menyiapkan sarapan untuk Rafli. Silvi bersyukur Rafli tak terlalu merepotkan. Apa saja yang ia siapkan selalu saja dihabiskan, hanya yang harus ada teh manis hangat.
Seperti pagi ini Silvi sedang menyiapkan roti bakar dengan dua macam isian, pasta cokelat dan pasta kacang, dan tiba-tiba saja ia merasakan pelukan hangat Rafli. Silvi menoleh, ia mendapat ciuman hangat Rafli.
"Hmmmm .... tau gini kok nggak langsung aja kita nikah, lebih banyak enaknya." Ucapan Rafli membuat Silvi tertawa pelan.
"Ngeri akunya."
Rafli melepaskan pelukannya di pinggang Silvi. Sambil tetap mengerutkan kening ia menatap istrinya.
"Ngeri? Maksudnya?"
"Ya ngeri sama Ibu Re dan ngeri sama napsu kamu yang nggak ada habis-habisnya."
Rafli terkekeh lalu mencium pipi Silvi.
"Alaaah kayak kamunya nggak aja, mau aja aku napsuin."
"Lah enak ternyata." Keduanya terkekeh bersama.
"Eh iya Sayang, aku diajak bos survey lokasi baru untuk bikin properti baru, pembebasan tanah juga sudah beres, promo juga sudah, mau bangun satu unit untuk contoh, biar para konsumen pada tertarik dan mungkin agak malam juga aku pulang, karena mau ketemu klien baru, kata bos sih untuk segala bahan bangunan mau kerja sama dengan klien baru itu, nanti selanjutnya aku semua yang urus."
"Waaah keren, jadi kepercayaan bos nih."
"Nggak juga sih, dia cuman ingin semua hal yang nggak semestinya orang tau ya udah stop ditempat itu, bos merasa aku bisa menyimpan rahasia."
"Oh, tapi ya jangan hal-hal yang jelek Mas jadi ikutan."
"Nggak lah, bosku kan duda, paling ya minta ditemenin makan atau jalan, udah gitu aja."
"Oh gitu, eh Mas gimana kalo kita jodohin sama Mbak Neta bos duda tajir itu, pasti gak ada masalah kan udah sama-sama tahu gimana gak enaknya hidup sendiri."
"Maaas? Waduuu Mak nyes rasanya dipanggil Mas."
Sekali lagi Rafli mencium pipi Silvi.
"Idih, dari tadi juga sudah panggil Mas." Silvi menyajikan roti yang sudah ia panggang di piring yang segera di comot oleh Rafli dan mulai menikmatinya.
"Mas ayo dooong kita jodohin sama Mbak Neta aja Pak Gunawan."
"Ck jangan ah, kasihan Mas Lanang, kayaknya dia suka ke Mbak Neta."
Rafli meraih tisu dan mengusap bibirnya yang sedikit berlepotan pasta cokelat. Lalu meraih gelas berisi teh manis yang ternyata masih terasa agak panas, ia mendesis kepanasan.
"Kan cuman nyoba Mas siapa tahu cocok."
"Gampanglah, kita lihat aja gimana enaknya ntar."
"Udah sana mandi dulu Mas, udah kenyang kan? Kita sama-sama siap ke kantor."
"Mandi bareng yuk? Kamu kan meski udah mandi pasti mandi pagi kalo mau berangkat."
Silvi menatap mata suaminya yang mulai mengarah ke dadanya yang pagi itu ia memang belum menggunakan bra setelah mandi dan sholat subuh tadi.
"Hayo lihat ke mana?"
"Salah kamu sendiri mancing-mancing, udah tahu ukuran lebih dari biasanya malah gak pake bra, ya jelas kayak ngundang aku, pake gerak-gerak e****s lagi."
"Ya Allah, siapa yang gerak-gerak e****s, ini loh gerak sendiri."
"Alah bilang aja pengen tapi malu."
Dan tanpa aba-aba Rafli mengendong Silvi ke kamar mandi, ia tak peduli meski istrinya berteriak-teriak ingin turun. Ia harus segera menuntaskan hasratnya yang sudah tak terbendung lagi.
.
.
.
"Gimana Sil, si Rafli? Nggak rewel kan? Nggak bikin kamu pusing dengan kebisaan dia?"
Redanti bertanya saat Silvi masuk ke ruangannya dan menyerahkan map yang berisi orderan baju ready to wear dari beberapa onlineshop.
"Alhamdulillah nggak Ibu, apa saja yang saya siapkan dia mau, nasi goreng, roti bakar, malam kadang dia yang masak, bikin iga bakar atau udang asam manis."
Redanti tersenyum, ia ingat dulu almarhumah ibunya selalu menyuruh adiknya untuk ikut terlibat dengan pekerjaan rumah, hingga akhirnya Rafli terbiasa memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
"Alhamdulillah kalo gitu, dia emang biasa sih ngerjakan apapun di rumah sejak kecil, paling nggak nanti kalo kalian punya bayi, Rafli bisa bantu-bantu, yang aku ini Sil, punya suami manjaaaa banget, minta dipeluk cium tiap bangun tidur."
Silvi tertawa pelan, tak bisa ia bayangkan suami bosnya yang tinggi besar bermanja-manja dan bergelayut mesra pada Redanti.
"Lucu ya Bu Pak Abdi, suka ngajak bergurau, juga santai orangnya, ibu jadi gak stres di rumah sekarang."
"Iya sih tapi manjanya gak ketulungan, kalo pulang kantor pasti minta dicium, sebelum tidur juga, bangun tidur apa lagi."
"Mungkin karena sempat berpisah lama, jadinya begitu berjodoh lagi langsung kayak gitu Ibu."
"Yah mungkin saja."
.
.
.
Rafli benar-benar tak menyangka jika klien baru yang selama tiga tahun akan bekerja sama dengan bosnya adalah perusahaan yang dipegang langsung oleh Tiara, mantannya yang terang-terangan memilih meninggalkannya demi laki-laki kaya raya. Kini di depannya terlihat wanita berkelas dengan perut yang tak bisa disembunyikan lagi jika ia dalam keadaan hamil namun pakaian yang dikenakannya terlihat jika harganya tak mungkin bisa ia penuhi jika Tiara menjadi istrinya.
Pak Gunawan, bos Rafli mengenalkan Tiara pada Rafli, Rafli hanya mengangguk dan sedikit mengangkat bibirnya. Ia juga melihat sinar mata terkejut dari wanita yang ada di hadapannya. Ia didampingi sekretarisnya. Tak lama kemudian Tiara terlibat pembicaraan yang hangat dengan bos Rafli, dan menanda tangani perjanjian yang telah mereka sepakati.
"Ibu Tiara selanjutnya jika ada apa-apa silakan bisa menghubungi Pak Rafli jika saya sedang sibuk, Pak Rafli ini orang yang sangat saya percaya, mulai bulan lalu dia jadi sekretaris saya, juga merangkap teman curhat yang menyenangkan, bukan begitu Pak Rafli?"
Rafli hanya mengangguk, tersenyum lebar pada bosnya dan memasang wajah datar kembali setelahnya, dalam hati sebenarnya ia sangat tak ingin bertemu lagi dengan wanita yang ia pikir munafik dan matre. Bertahun-tahun berpacaran dengannya, menyatakan cinta yang akan dibawa sampai mati ternyata hanya karena kekayaan akhirnya rela meninggalkannya bahkan rela hamil di luar nikah demi laki-laki dengan kekayaan melimpah. Heh wanita ... Rafli tersenyum sinis, kini dihadapannya seolah Tiara mengejeknya dengan perut yang mulai buncit. Seolah berkata padanya jika kini ia memiliki segalanya.
"Eh Pak Rafli malah melamun saja, gimana sih."
Rafli tersentak dan segera tersenyum pada bosnya.
"Biasa Pak, namanya pengantin baru, jadi ingat istri terus."
Tawa Gunawan pecah, ia tepuk pundak Rafli.
"Iya iya maaf saya lupa jika Pak Rafli pengantin baru, gimana saya ya kok gak ngerti, malah setelah ini masih ikut lihat lokasi kita yang terbaru."
Wajah Tiara terlihat kaget, ia tak menyangka jika Rafli ternyata sudah bisa move-on.
"Nggak papa kok Pak, istri saya pengertian kok, apa adanya juga, mungkin karena dia terbiasa hidup sederhana bukan wanita yang hanya bisa menyiksa hidup saya, saya beruntung punya istri kayak dia, semoga Bapak juga kayak saya segera dapat jodoh yang tidak hanya cantik wajahnya tapi juga hatinya."
Tiara merasa jika Rafli sedang menyindirnya. Entah mengapa ia merasa perih dadanya.