Cassie tidak langsung pergi setelah pertemuan itu berakhir. Ia berdiri beberapa detik di ambang pintu, punggungnya tegak, wajahnya tenang, seolah dunia belum baru saja bergeser satu derajat ke arah yang salah. Padahal di dalam dadanya, ada sesuatu yang mengendap bukan takut, bukan panik, melainkan kesadaran bahwa ia telah melewati batas yang tidak bisa ditarik ulang. Udara terasa lebih berat ketika ia melangkah keluar. Bukan karena cuaca, melainkan karena keputusan yang telah dibuat tanpa suara. Cassie berjalan tanpa tergesa, membiarkan langkahnya berbaur dengan arus orang-orang yang tidak tahu apa pun. Mereka tertawa, berbicara, hidup seperti biasa. Cassie tidak. Tangannya tidak gemetar. Itu yang paling mengganggu. Ketika rasa takut hilang, biasanya bukan karena bahaya menjauhmelainkan

