Mobil bergerak pelan di jalan basah yang memantulkan lampu kota. Cassie menatap jalan di depannya, namun pikirannya jauh melampaui aspal yang basah. Pesan terakhir di ponsel masih berkedip samar di layar “Lihat lebih dekat pada yang paling dekat.” Kata-kata itu sederhana, tapi terasa seperti peringatan berlapis. Manggala duduk di sampingnya, diam. Ia tidak bertanya, karena tahu bahwa pertanyaan salah bisa memecahkan fokus Cassie. Tatapannya tertuju ke depan, namun matanya sesekali menyapu wajah Cassie, membaca setiap garis ekspresi, setiap ketegangan yang sengaja atau tidak sengaja ia tunjukkan. Cassie menarik napas pelan. “Pesan itu… bukan tentang Ravian,” gumamnya. “Ini tentang seseorang yang selalu ada di sisi kita, tapi tidak pernah terlihat.” Manggala menoleh sebentar. “Kau maksud

