Umpan

894 Words
“Kau terlambat.” Cassie berdiri di tengah ruangan yang terlalu bersih untuk disebut aman. Dinding kaca satu arah. Lampu putih. Jam tanpa suara. Ia tidak duduk. Tidak sejak pintu ditutup. “Aku menunggu kau mengerti,” jawab sang paman dari balik meja. “Dan tampaknya, kita sudah sampai.” Cassie menyilangkan tangan. “Aku setuju jadi umpan. Bukan tahanan.” Sang paman tersenyum tipis. “Umpan tetap berada di kail.” “Tidak,” Cassie menatapnya lurus. “Umpan bergerak. Kalau kau mengurungku, dia akan tahu ini jebakan.” Hening beberapa detik. Sang paman menilai bukan Cassie sebagai perempuan, melainkan sebagai variabel. “Kau belajar cepat,” katanya akhirnya. “Baik. Kita buat ini terlihat alami.” “Tidak ada yang alami dari ini,” balas Cassie. “Cukup alami untuk Manggala.” Nama itu jatuh seperti beban. Cassie menelan ludah, lalu mengangkat dagu. “Apa rencanamu?” Sang paman menggeser tablet ke arahnya. Peta kota muncul. Titik-titik merah. Satu biru. “Besok sore,” katanya. “Kau kembali ke pusat. Sendiri. Tanpa pengawal. Kau akan terlihat....” “Rapuh,” Cassie memotong. “Dan marah.” “Dan putus asa,” tambahnya. Cassie menatap titik biru. Sebuah kafe kecil. Terlalu biasa. Terlalu dekat dengan kenangan. “Dia akan datang,” sang paman melanjutkan. “Dan ketika dia datang, kita lihat sejauh apa dia mau melangkah.” Cassie menutup tablet. “Jika kau menyentuhnya....” “Kau akan apa?” tanyanya ringan. Cassie mendekat satu langkah. Suaranya rendah, dingin. “Aku akan membuka semua sebelum kau sempat menutup satu pun.” Tatapan sang paman mengeras sesaat. Lalu senyum itu kembali. “Kau sangat mirip dengannya.” “Dengan siapa?” “Dengan orang yang membuat kesalahan sepuluh tahun lalu,” jawabnya. “Berani, tapi terlambat.” Cassie tidak membalas. Ia berbalik menuju pintu. “Cassie,” panggil sang paman. “Ingat. Umpan yang baik....” “.....tidak berharap diselamatkan,” Cassie menyelesaikan. “Tenang. Aku tahu peranku.” Pintu menutup di belakangnya. “Dia bergerak.” Bhava mencondongkan badan ke layar. Wajahnya tegang. “Sendiri.” Manggala berdiri di belakangnya, tangan bersedekap. “Lokasi.” “Kafe di pusat. Jalur terbuka. Terlalu terbuka.” “Ya,” Manggala mengangguk. “Itu memang maksudnya.” Bhava menoleh. “Kau yakin mau datang?” “Aku sudah di jalan,” jawab Manggala. “Kau tahu ini jebakan.” “Dia juga tahu,” balasnya. “Dan dia tetap datang.” Bhava menghela napas. “Kau selalu memilih yang paling berbahaya.” Manggala tersenyum tipis. “Karena yang aman tidak pernah benar-benar aman.” Mobil melaju menembus lalu lintas. Kota sore itu tampak biasa—orang tertawa, lampu toko menyala, hidup berjalan. Tidak ada yang tahu bahwa dua orang sedang saling mendekat dengan rahasia di tangan. Cassie duduk di kursi dekat jendela. Secangkir kopi di depannya, tak disentuh. Ia menatap pantulan kaca wajahnya tenang, tapi matanya waspada. Ia merasakan kehadirannya sebelum melihatnya. “Kau seharusnya tidak di sini.” Suara itu rendah, tertahan. Cassie menutup mata sejenak. Lalu membuka. “Manggala.” Ia berdiri. Jarak mereka hanya satu langkah. Terlalu dekat untuk aman. Terlalu jauh untuk tenang. “Kau pergi tanpa pamit,” katanya. “Kau dilepaskan,” jawab Cassie. “Aku tidak.” Tatapan mereka bertabrakan. Kata-kata yang ingin keluar tertahan, menumpuk di d**a. “Ini jebakan,” Manggala berkata pelan. “Aku tahu.” “Kau tahu dan tetap datang.” Cassie mengangguk. “Aku tidak datang untukmu.” “Bohong,” Manggala membalas cepat. Cassie tersenyum kecil. “Aku datang untuk menghentikan ini.” “Dengan mengorbankan dirimu?” “Dengan mengambil alih,” jawabnya. “Aku lelah kau selalu menutup pintu di belakangku.” Manggala mendekat setengah langkah. Suaranya menurun. “Kau tidak harus kuat sendirian.” Cassie mengangkat wajah. “Aku tidak sendiri. Aku memilih.” Lampu kafe meredup sejenak. Hujan mulai turun. Orang-orang berlarian kecil, mencari teduh. Cassie merasakan getaran di ponselnya, pesan singkat tanpa nama. Sekarang. Ia menatap Manggala. “Kau percaya padaku?” Manggala ragu sepersekian detik. Lalu mengangguk. “Ya.” “Kalau begitu,” Cassie menarik napas, “biarkan aku memimpin.” Pintu kafe terbuka. Beberapa orang masuk terlalu rapi, terlalu terkoordinasi. Mata mereka menyapu ruangan. Manggala menegang. Cassie menggenggam pergelangan tangannya sekilas, kuat. “Ikut aku.” Mereka bergerak bersamaan. Di luar, hujan jatuh lebih deras. Lampu merah memantul di aspal basah. Sirene jauh terdengar—atau hanya di kepala mereka. Cassie berlari, menarik Manggala ke gang sempit. Napas mereka terengah. Jantung berdentum. “Kau yakin?” tanya Manggala di antara langkah. Cassie menoleh cepat. Senyum tipis, berbahaya. “Aku yang mengatur waktu, ingat?” Seseorang berteriak di belakang. Langkah kaki mendekat. Cassie berhenti mendadak di depan pintu besi tua. Ia merogoh tas kartu logam kecil, sama seperti milik Bhava dulu. Ditempelkan. Klik. Pintu terbuka. Mereka masuk. Gelap. Bau besi dan air hujan. Pintu menutup. Di kegelapan, Cassie bersandar sebentar, napas bergetar. Manggala di depannya—dekat, nyata. “Apa yang kau lakukan?” bisiknya. Cassie mengangkat wajah. Matanya berkilat. “Mengganti peran.” Di luar, langkah-langkah berhenti. Seseorang tertawa kecil. “Menarik,” suara sang paman terdengar dari balik pintu. “Kau benar-benar belajar.” Cassie menegakkan bahu. “Permainan dimulai.” Manggala menatapnya takut, kagum, marah, cinta semua bercampur. Dan di detik itu, keduanya tahu tidak ada jalan kembali tanpa kehilangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD