Jejak Tertutup

905 Words
“Kalau kau datang untuk memaksaku bicara, sebaiknya pulang saja.” Cassie tidak menoleh ketika mengucapkannya. Ia berdiri membelakangi Manggala, menatap etalase toko yang sudah tutup, pantulan lampu jalan membuat wajahnya terlihat asing lebih keras, lebih tertutup. “Aku datang karena kau pergi tanpa menjelaskan,” jawab Manggala. “Dan karena ayahku ada di antara kita.” Kalimat itu membuat Cassie akhirnya berbalik. Tatapannya singkat, tajam, seperti seseorang yang sudah lelah berkelit. “Jangan libatkan aku lebih jauh,” katanya. “Aku sudah cukup jauh terseret.” Manggala melangkah mendekat. Jarak mereka tinggal satu langkah jarak yang dulu terasa aman, kini penuh duri. “Ayahku mendatangimu. Mengajakku bicara seolah aku tidak ada. Kau pikir aku bisa diam?” Cassie tertawa kecil, hambar. “Diam atau tidak, hasilnya sama.” “Tidak,” potong Manggala. “Hasilnya tidak sama jika kau mengatakan apa yang ia inginkan.” Hening. Suara kendaraan lewat seperti dengung panjang yang mengganggu. Cassie menunduk, jemarinya meremas tali tas. Ada jeda yang terlalu lama untuk sekadar ragu. “Ayahmu menawarkan solusi,” ucapnya akhirnya. “Solusi?” Manggala mendengus. “Atau ultimatum?” “Dua-duanya,” jawab Cassie lirih. “Ia selalu pandai membungkus tekanan dengan pilihan.” Manggala menahan napas. “Apa yang ia minta darimu?” Cassie menggeleng. “Bukan dariku. Dari kita.” Kata itu jatuh berat. Kita. Sesuatu yang seharusnya sudah berakhir, tapi terus dipaksa hidup dalam kalimat-kalimat yang tertahan. “Bilang padaku,” Manggala mendesak, suaranya menurun. “Aku berhak tahu.” Cassie menatapnya lama. Ada luka di sana, tapi juga tekad. “Jika aku bilang, kau akan melawan.” “Memang itu niatku.” “Dan kau akan kalah,” sahut Cassie cepat. “Ia tidak sedang menguji perasaanmu. Ia sedang menutup jejak.” Manggala mengernyit. “Jejak apa?” Cassie menarik napas dalam, seolah menimbang risiko. “Jejak yang melibatkan masa lalumu. Dan masa laluku.” Nama mereka seperti diseret mundur oleh kata-kata itu. Manggala merasa dadanya ditekan. “Ayahku tidak punya urusan dengan masa lalumu.” “Dia punya,” Cassie membalas. “Lebih dari yang kau kira.” Sebelum Manggala sempat mengejar, Cassie sudah melangkah pergi. Kali ini ia tidak berhenti. Tidak menoleh. Tidak memberi celah. “Cassie!” panggil Manggala, langkahnya tertahan oleh kerumunan yang tiba-tiba padat. Ia berdiri di tempat, menyaksikan punggung Cassie menjauh. Ada sesuatu yang retak di dadanya bukan hanya kehilangan, tapi ketakutan bahwa ia sudah terlambat. Malam itu, Manggala pulang dengan pikiran yang tidak berhenti berputar. Setiap sudut rumah terasa terlalu rapi, terlalu terkontrol. Ia melepas jam tangannya, meletakkannya di meja, lalu menyandarkan punggung ke sofa. Jejak yang ditutup. Kata-kata Cassie kembali menghantam. Ia bangkit, berjalan ke ruang kerja ayahnya. Pintu tidak terkunci. Rak buku berdiri tegak, map-map tersusun. Segalanya tampak seperti biasa terlalu biasa untuk seseorang yang baru saja menyembunyikan sesuatu. Manggala membuka laci bawah. Kosong. Ia beralih ke laci lain. Masih kosong. Hingga di laci ketiga, jarinya menyentuh map cokelat tipis. Tidak berlabel. Tidak tercatat. Jantungnya berdegup. Ia membukanya. Di dalamnya ada beberapa lembar dokumen lama. Nama perusahaan kecil. Tanggal yang sudah lewat bertahun-tahun. Dan satu foto yang membuat napasnya terhenti. Cassie. Lebih muda. Berdiri di depan bangunan tua yang ia kenal samar—tempat magang lamanya dulu. Tempat yang tutup mendadak karena kasus internal. Manggala menelan ludah. “Apa hubunganmu dengan ini…?” Langkah kaki terdengar di belakangnya. “Apa yang kau lakukan?” Suara Bhava datar. Terlalu datar untuk seseorang yang memergoki anaknya mengacak-acak ruang pribadi. Manggala berbalik, map masih di tangannya. “Menemukan sesuatu yang ayah sembunyikan.” Bhava menatap map itu, lalu wajah Manggala. Tidak ada keterkejutan. Hanya perhitungan. “Letakkan,” perintahnya. “Tidak,” jawab Manggala. “Bilang padaku apa ini.” Bhava mendekat. “Itu urusan lama.” “Urusan lama yang melibatkan Cassie?” Manggala mengangkat map itu sedikit. “Ayah bilang tidak punya hak atas hidupnya. Tapi ayah menyimpan fotonya. Dokumennya.” Bhava berhenti di hadapannya. “Aku melindungimu.” “Dengan menghancurkan dia?” suara Manggala bergetar. Bhava menghela napas tipis. “Dengan mencegahmu mengulang kesalahan.” “Kesalahan siapa?” Manggala membalas tajam. “Ayah atau aku?” Tatapan Bhava mengeras. “Kau tidak tahu apa-apa.” “Karena ayah tidak pernah membiarkanku tahu.” Hening menegang. Detik berjalan lambat. “Ada konsekuensi dari setiap pilihan,” ucap Bhava akhirnya. “Cassie adalah salah satunya.” Kalimat itu seperti palu. Manggala merasakan kemarahan naik bukan meledak, tapi mengendap, berat, berbahaya. “Kalau begitu,” katanya pelan, “aku akan mencari tahu sendiri.” Bhava menatapnya lama. “Jika kau melangkah lebih jauh, tidak ada jalan kembali.” Manggala tersenyum tipis. “Mungkin itu yang aku butuhkan.” Ia menutup map itu, menggenggamnya erat. Untuk pertama kalinya, ia tidak menunggu izin. Malam semakin larut ketika Manggala meninggalkan rumah. Ponselnya bergetar. Pesan masuk dari nomor yang sama. Berhenti sekarang. Ini bukan untukmu. Manggala mengetik cepat. Aku sudah di dalamnya. Tidak ada balasan. Ia menghidupkan mesin mobil, menatap jalanan yang terbentang di depannya. Ada rasa takut iya. Tapi di baliknya, ada sesuatu yang lebih kuat. Tekad. Jika ayahnya menutup jejak, maka ia akan membukanya. Satu per satu. Meski itu berarti kehilangan lebih dari sekadar cinta. Dan tanpa ia sadari, dari sudut kota yang lain, Cassie berdiri di bawah lampu jalan, memegang ponsel dengan tangan gemetar. Nama Manggala masih menyala di layar. Ia menutup mata. Karena ia tahu jejak yang mulai dibuka tidak hanya akan menyeret Bhava. Tapi juga dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD