Jejak Yang Aneh

549 Words
“Ayah makan malam di luar?” Bhava melirik kartu nama itu singkat. “Ya.” “Dengan siapa?” Bhava menyesap kopinya. “Kau tidak perlu tahu.” Dan untuk pertama kalinya, jawaban itu terasa seperti ancaman. Nama sebuah restoran tercetak di sana. Restoran yang ia kenal. Restoran yang dulu sering ia datangi bersama Cassie, sebelum semuanya berantakan. Di balik kartu itu, ada catatan kecil dengan tulisan tangan ayahnya Reservasi jam 7. Manggala mengernyit. Ayahnya jarang makan di luar tanpa alasan bisnis. Dan restoran itu bukan tempat pertemuan klien. Terlalu kecil. Terlalu personal. Langkah kaki terdengar. Bhava masuk, mengenakan jas abu-abu, rapi seperti biasa. “Ayah mau makan malam di luar?” tanya Manggala, mengangkat kartu itu. Bhava melirik singkat. “Ya.” “Dengan siapa?” “Kenalan,” jawab ayahnya datar. Manggala menatapnya. “Kenalan siapa?” Bhava meraih cangkir kopi. “Kau tidak perlu tahu semuanya.” Jawaban itu membuat d**a Manggala mengencang. Ada sesuatu dalam nada ayahnya bukan defensif, bukan marah. Lebih seperti menutup pintu. Sepanjang hari, Manggala tidak bisa fokus. Kartu nama itu terus terbayang. Restoran itu. Jam tujuh. Dan satu pikiran yang ia dorong berkali-kali, tapi selalu kembali. Mungkin aku hanya curiga berlebihan. Malamnya, Manggala pulang lebih lambat. Namun mobil ayahnya belum ada di garasi. Tanpa benar-benar merencanakan, Manggala berbalik arah. Restoran itu tidak ramai. Lampu-lampunya temaram, suasananya hangat terlalu hangat untuk seseorang yang mengaku tidak membawa urusan pribadi. Manggala parkir agak jauh, berdiri di luar beberapa saat, ragu pada dirinya sendiri. Ini gila, pikirnya. Aku hanya ingin memastikan. Ia masuk. Matanya menyapu ruangan. Meja demi meja. Wajah demi wajah. Hingga akhirnya, ia melihat sosok yang membuat langkahnya terhenti. Bhava duduk di sudut. Di seberangnya Cassie Cassie. Dunia seakan berhenti. Cassie mengenakan gaun sederhana berwarna krem. Rambutnya tergerai rapi. Wajahnya tenang, tapi ada ketegangan halus di bahunya. Ia sedang mendengarkan. Ayahnya berbicara, gesturnya pelan, terkendali gestur yang biasa ia gunakan ketika meyakinkan seseorang. Manggala berdiri mematung. Jarak beberapa meter itu terasa tak terjangkau. Otaknya menolak menerima apa yang matanya lihat. Tidak. Ini kebetulan. Mungkin urusan kerja. Mungkin perpisahan sopan. Tapi kemudian ia melihatnya cara ayahnya mendorong piring ke arah Cassie, cara Cassie tersenyum kecil sebagai balasan. Bukan senyum bahagia. Senyum tertekan. Senyum yang Manggala kenal. Dadanya terasa sesak. Napasnya pendek. Ia mundur satu langkah, hampir menabrak pelayan. “Maaf,” gumamnya, tanpa benar-benar sadar pada siapa. Ia keluar dari restoran sebelum ada yang menyadari kehadirannya. Udara malam terasa terlalu tipis. Ia bersandar pada dinding, menutup mata, mencoba bernapas. Tidak mungkin, bisiknya dalam hati. Ayahnya tidak mungkin melakukan itu. Tidak mungkin mendekati perempuan yang baru saja ia paksa Manggala lepaskan. Tidak mungkin melewati batas yang bahkan Manggala sendiri takut menyentuh. Namun gambar itu terus terpatri dua orang itu duduk berhadapan, di tempat yang sama, pada jam yang sama, dengan rahasia yang belum ia mengerti. Manggala pulang dengan kepala berdenyut. Rumah masih kosong. Ia naik ke kamar, menjatuhkan diri ke ranjang. Tangannya bergetar. Untuk pertama kalinya sejak perpisahan itu, Manggala tidak hanya merasa kehilangan. Ia merasa terancam. Dan di balik rasa takut itu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya kecurigaan yang perlahan berubah menjadi keyakinan bahwa perpisahan itu bukan akhir. Melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih kelam. Manggala menutup mata. Perpisahan itu bukan akhir. Itu hanya pembukaan dari sesuatu yang jauh lebih kejam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD