Rumah Sunyi

590 Words
“Kau baik-baik saja?” Pertanyaan itu terdengar biasa. Terlalu biasa untuk seseorang yang baru saja kehilangan segalanya. Manggala mengangguk. Itu kebohongan paling rapi yang pernah ia ucapkan. Pagi datang tanpa suara. Manggala terbangun dengan mata terbuka, menatap langit-langit kamar yang terasa lebih tinggi dari biasanya. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada nama Cassie di layar ponselnya. Sunyi itu bukan ketenangan ia adalah ruang kosong yang memantul, bergaung, dan terus mengingatkan. Ia bangkit, mandi, berpakaian rapi. Rutinitas berjalan seperti mesin. Di lantai bawah, meja makan sudah tersaji. Ayahnya duduk seperti biasa, membaca berita ekonomi, secangkir kopi hitam di tangan. “Pagi,” kata Manggala. “Pagi,” jawab Bhava tanpa menoleh. Mereka makan dalam diam. Dulu, diam ini terasa normal. Hari ini, diam itu memekakkan. “Kau akan kembali ke kantor?” tanya Bhava akhirnya. “Ya.” “Bagus,” kata ayahnya singkat. “Kau butuh fokus.” Manggala mengangguk. Fokus kata yang selalu dipakai ayahnya untuk menutup segala hal yang berbau perasaan. Ia menyelesaikan sarapannya, lalu berdiri. “Manggala,” panggil Bhava. Manggala berhenti. “Ini tidak mudah,” kata ayahnya, masih tanpa menatap. “Tapi kau melakukan hal yang benar.” Ren Shen menunggu kelanjutannya. Tidak ada. Ia keluar rumah dengan d**a yang berat. Di dalam mobil, ia menyalakan mesin tanpa tujuan jelas. Tangannya refleks menuju ponsel lalu berhenti. Ia ingat. Ia sudah memilih. Dan pilihan itu berarti tidak lagi mengetik nama yang paling ia hafal. Kantor terasa asing. Rekan-rekannya menyapa, membahas proyek, tertawa kecil. Ren Shen ikut tersenyum di tempat yang tepat, mengangguk di saat yang tepat. Tidak ada yang tahu bahwa kepalanya dipenuhi suara hujan semalam, langkah Cassie yang menjauh, kalimat terakhir yang tertinggal. Siang itu, ia tidak makan. Kopi menggantikan perut. Sore menjelang tanpa hasil yang berarti. Ketika jam pulang tiba, ia menyadari satu hal yang membuatnya tercekat tidak ada lagi seseorang yang menunggu kabar sudah sampai. Ia pulang lebih cepat. Rumah menyambutnya dengan keheningan yang rapi. Pembantu sudah selesai bekerja. Ayahnya belum pulang. Manggala berdiri di ruang makan, menatap kursi yang kemarin ditempati Cassie. Ia duduk di sana, sendirian, mencoba mengingat suara tawa kecil yang dulu mengisi ruang ini. Tidak ada. Malam datang perlahan. Manggala menyalakan lampu-lampu, satu per satu, seolah terang bisa mengusir sesuatu yang gelap di dadanya. Ia membuka kulkas, menutupnya kembali. Tidak lapar. Ia naik ke kamar, menjatuhkan diri ke ranjang. Ponselnya menyala sebuah notifikasi dari aplikasi kalender. Ulang tahun Cassie besok. Manggala menutup mata. Dadanya bergetar. Ia ingin mematikan notifikasi itu, menghapus tanggalnya, menghapus segalanya. Tapi jari-jarinya tidak bergerak. Ia teringat cara Cassie merayakan hal-hal kecil kue sederhana, lilin satu, senyum yang tulus. Ia teringat janji yang tidak akan ia tepati. Pintu kamar diketuk. “Masuk,” kata Manggala cepat, menyeka wajahnya. Bhava berdiri di ambang pintu. “Kau pulang cepat.” “Pekerjaan selesai.” Bhava mengangguk. Ia menatap kamar itu sejenak, lalu Manggala. “Jangan mengurung diri.” “Aku baik-baik saja,” jawab Manggala otomatis. Ayahnya menatapnya lama. Untuk sesaat, Manggala berharap ada sesuatu—pertanyaan, empati, penyesalan. Tapi yang datang hanyalah kalimat singkat. “Waktu akan memperbaiki semuanya.” Pintu tertutup. Langkah kaki menjauh. Manggala menatap ponselnya lagi. Notifikasi itu masih ada. Ia mematikannya. Layar gelap. Malam itu, Manggala tidak tidur. Ia duduk di tepi ranjang hingga dini hari, ditemani kesunyian yang terlalu teratur untuk disebut rumah. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa kehilangan terbesar bukanlah Cassie melainkan dirinya sendiri, yang perlahan menghilang di dalam keputusan yang tidak pernah ia buat dengan sepenuh hati. Rumah ini tidak kosong. Ia hanya tidak lagi miliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD