Alasan Bernama Keluarga

535 Words
“Jangan berdiri di situ. Duduk.” Suara itu tidak keras, tapi cukup membuat langkah Manggala terhenti. Ia menutup pintu ruang kerja ayahnya perlahan terlalu perlahan, seolah bunyi apa pun bisa dianggap perlawanan. Ayahnya duduk di balik meja besar, tangan saling mengunci, wajah tenang. Tenang yang selalu muncul sebelum keputusan diambil. “Ayah bahkan belum bertanya apa yang kurasakan,” kata Manggala akhirnya. Tatapan itu terangkat. “Perasaan bukan agenda.” Manggala tersenyum tipis. “Sejak kapan?” “Ini bukan diskusi,” lanjut ayahnya. “Aku hanya ingin jelas.” “Klarifikasi atau vonis?” potong Manggala. Hening turun. Rapat. Menekan. “Hubunganmu dengan perempuan itu harus berhenti.” Kalimat itu jatuh tanpa pengantar, tanpa basa-basi. Seperti palu. Manggala menarik napas dalam. “Kenapa?” “Karena dia tidak cocok.” “Tidak cocok menurut siapa?” “Menurut realitas.” “Realitas Ayah,” Manggala membalas cepat. Tatapan itu mengeras. “Kau terlalu emosional.” “Karena ini hidupku,” suara Manggala naik sedikit. “Bukan laporan bisnis.” Ayahnya berdiri. Bayangannya menutup cahaya lampu. “Hidupmu membawa nama keluarga. Jangan lupa.” Manggala mengepalkan tangan. “Sejak kapan mencintai seseorang jadi ancaman?” “Sejak cinta itu membuatmu lemah.” Kata itu menghantam lebih keras dari tamparan. Manggala terdiam. Wajah Casie Amora muncul di benaknya—tenang, sederhana, tidak pernah menuntut apa pun. Jika itu disebut lemah, ia tidak ingin kuat. “Ayah tidak berhak menentukan siapa yang kucintai,” katanya pelan. “Aku tidak menentukan,” jawab ayahnya dingin. “Aku memberimu pilihan.” “Pilihan?” “Keluarga,” katanya. “Atau dia.” Udara terasa menipis. “Itu bukan pilihan,” ucap Manggala lirih. “Itu pemaksaan.” “Dunia tidak peduli perasaanmu,” balas ayahnya. “Ia menghargai keputusan.” Manggala memejamkan mata sesaat. “Aku butuh waktu.” “Kau punya,” jawab ayahnya. “Tidak banyak.” Manggala keluar sebelum dadanya pecah oleh sesuatu yang tak bisa ia ucapkan. Di kamarnya, ia duduk di tepi ranjang. Ponselnya bergetar. Sudah sampai rumah? — Casie Ia menatap layar itu lama. Iya. Aku baik-baik saja. Kebohongan itu ringan di jari, berat di d**a. Di ruang kerja, ayahnya kembali duduk. Wajahnya tenang. Baginya, ini bukan soal cinta. Ini soal kendali. Dan Manggala baru saja diseret masuk ke dalamnya. Manggala mematikan lampu kamar, tapi gelap tidak membuat pikirannya tenang. Ia berbaring menatap langit-langit, mencoba menghitung napas, namun bayangan ayahnya terus muncul—tenang, dingin, yakin bahwa ia selalu benar. Ia bangkit, membuka jendela sedikit. Udara malam masuk, membawa suara kota yang jauh. Ponselnya kembali bergetar. Besok kamu sibuk? —Casie Manggala menatap pesan itu lama. Jarum jam bergerak, tapi ia tidak segera menjawab. Aku ingin bertemu. Kalau kamu tidak keberatan. Pesan kedua masuk, lebih hati-hati. Manggala mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi. Kita ketemu besok. Ia tidak menambahkan emotikon. Tidak menambahkan kalimat penenang. Seolah jarak kecil itu bisa menyelamatkan sesuatu yang sudah retak. Ia meletakkan ponsel dan memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri: sejak kapan hidupnya terasa seperti pinjaman? Di ruang lain rumah itu, ayahnya masih terjaga. Ia membaca laporan, menandai angka-angka, memindahkan prioritas. Baginya, malam adalah waktu terbaik untuk memastikan segala sesuatu tetap di tempatnya. Termasuk anaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD