“Kau tidak perlu datang sepagi ini.”
Manggala berhenti menuang kopi. Ia menoleh.
“Aku tidak bisa tidur.”
Ayahnya duduk di meja makan, tablet di tangan, rapi seperti biasa. Tidak ada tanda bahwa semalam mereka hampir saling menghancurkan.
“Kau sudah memikirkan keputusanku?” tanya ayahnya.
“Ayah menyebutnya pilihan.”
“Itu memang pilihan.”
“Yang berat sebelah.”
Tatapan itu naik perlahan. “Kau selalu suka membesar-besarkan.”
Pintu depan terbuka. Seorang pria masuk membawa map cokelat tipis.
“Asisten,” kata ayahnya singkat. “Letakkan.”
Map itu diletakkan tepat di tengah meja.
“Itu apa?” tanya Manggala.
“Informasi,” jawab ayahnya. “Tentang perempuan yang kau bela.”
Manggala membeku. “Ayah menyelidiki Casie?”
“Melindungimu.”
Manggala meraih map itu. Tangannya gemetar saat membukanya. Nama Casie Amora tercetak jelas. Riwayat hidup. Foto. Hal-hal yang seharusnya tidak berada di tangan orang lain.
“Ini keterlaluan.”
“Ini perlu.”
“Tidak ada yang salah,” suara Manggala pecah. “Tidak ada.”
Ayahnya tersenyum tipis. “Justru itu.”
“Apa maksud Ayah?”
“Dia tidak membawa apa pun ke hidupmu,” jawabnya tenang. “Tidak jaringan. Tidak nilai. Tidak masa depan yang sejalan.”
Manggala tertawa pahit. “Sejak kapan cinta butuh portofolio?”
“Sejak kau lahir sebagai Bhava.”
Manggala menutup map itu keras. “Ayah tidak mengenalnya.”
“Aku tahu cukup,” balas ayahnya. “Dan cukup untuk tahu bahwa dia perempuan yang salah.”
Kata-kata itu jatuh pelan, tapi menghancurkan.
“Aku akan bicara dengannya,” kata Manggala, berdiri.
“Bagus,” jawab ayahnya. “Itu sikap dewasa.”
“Dewasa menurut Ayah.”
Manggala keluar dengan langkah tergesa. Di mobil, ia menggenggam setir terlalu erat dan menghubungi Casie.
“Halo?” suara itu lembut.
“Casie,” suara Manggala serak. “Kita perlu bertemu.”
Ada jeda. “Sekarang?”
“Iya.”
“Baik,” jawabnya. “Di tempat biasa.”
Sambungan terputus.
Manggala menutup mata sesaat.
Dari balik jendela, ayahnya menatap mobil itu pergi. Wajahnya tetap tenang.
Baginya, ini bukan perpisahan.
Ini penataan ulang.
Dan Manggala melaju dengan satu kesadaran pahit bahwa mencintai seseorang, dalam keluarganya, adalah kesalahan yang mahal.
Kafe itu belum ramai ketika Casie datang lebih dulu. Ia memilih duduk di sudut, punggungnya menghadap jendela. Tangannya melingkari cangkir kopi yang masih terlalu panas untuk diminum.
Ketika Manggala masuk, Casie langsung berdiri. Senyumnya muncul otomatis, tapi matanya menelusuri wajah Manggala seolah mencari sesuatu yang hilang.
“Kamu kelihatan capek,” katanya.
Manggala menarik kursi, duduk perlahan. “Aku tidak tidur.”
Casie mengangguk. Ia tidak langsung bertanya. Diamnya memberi ruang—ruang yang justru membuat Manggala semakin tertekan.
“Ayahmu?” tanya Casie akhirnya, suaranya pelan.
Manggala menghela napas. “Dia tidak menyukaimu.”
Casie tersenyum tipis. “Aku sudah tahu.”
Jawaban itu membuat Manggala menatapnya cepat. “Tahu?”
“Dari caranya tidak melihatku,” kata Casie. “Orang yang menolak biasanya bahkan tidak repot menyembunyikannya.”
Ada jeda. Pelayan datang, mencatat pesanan. Setelah pergi, hening kembali jatuh.
“Aku tidak ingin kamu berada di posisi ini,” ucap Manggala.
“Posisi apa?” Casie bertanya, meski ia tahu.
“Dipilih atau ditinggalkan,” jawabnya lirih.
Casie menunduk, jarinya menyentuh tepi cangkir. “Aku tidak pernah meminta dipilih.”
Manggala menelan ludah. “Tapi aku yang membuatmu ada di sini.”
Casie mengangkat wajah. Tatapannya tenang, tapi ada sesuatu yang retak di sana. “Kamu mencintaiku. Itu bukan kesalahan.”
“Dalam keluargaku,” kata Manggala pelan, “itu bisa menjadi kesalahan.”
Casie tersenyum, kali ini lebih pahit. “Kalau begitu… apa yang akan kamu lakukan?”
Pertanyaan itu menggantung. Tidak menuntut, tapi berat.
Manggala membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak punya jawaban yang aman.
Casie mengangguk kecil, seolah sudah mengerti. “Tidak apa-apa kalau kamu belum siap.”
Kalimat itu terdengar lembut, tapi justru menyakitkan.
Manggala menyadari sesuatu dengan perih bahwa di hadapannya duduk seorang perempuan yang tidak pernah memaksanya memilih dan justru karena itu, ia takut kehilangannya.
Di luar kafe, lalu lintas bergerak seperti biasa. Dunia tidak berhenti hanya karena satu hati sedang runtuh. Dan Manggala tahu, apa pun keputusan yang akan ia ambil, seseorang pasti terluka.