“Kalau aku memilihmu, kau tahu apa yang akan aku kehilangan?”
Casie tidak langsung menjawab. Ia menatap Manggala lama, seolah sedang memastikan apakah pertanyaan itu benar-benar ditujukan padanya atau pada dirinya sendiri.
“Kau tidak bertanya apa yang akan kau dapatkan,” katanya akhirnya.
Manggala menunduk.
Dan di sanalah ia tahu, pagi itu tidak akan berakhir baik.
Kafe itu masih sama meja kayu terang, jendela besar, aroma kopi yang menenangkan. Tempat yang dulu terasa aman. Pagi ini, semuanya tampak terlalu terang, seolah tidak memberi ruang untuk bersembunyi.
Cassie sudah duduk di sudut favorit mereka. Ia tersenyum ketika melihat Manggala, tapi senyum itu memudar begitu menangkap wajahnya.
“Kau pucat,” katanya pelan. “Ada apa?”
Manggala duduk berhadapan dengannya. Ia membuka mulut, menutupnya lagi. Kata-kata terasa seperti duri di tenggorokan. Ia menyesap air, berharap jeda singkat itu memberinya keberanian.
“Ayahku,” katanya akhirnya. “Dia… tidak setuju.”
Cassie mengangguk pelan, seolah sudah menduga. “Aku tahu.”
Manggala terkejut. “Kau tahu?”
“Aku bisa merasakannya semalam,” jawab Cassie. “Tatapannya. Cara ia berbicara. Itu bukan penolakan biasa.”
Manggala menunduk. “Dia menyelidikimu.”
Cassie terdiam. Jarinya yang semula melingkari cangkir kopi mengendur. “Sejauh apa?”
“Segalanya,” kata Manggala lirih. “Pekerjaanmu. Keluargamu. Hidupmu.”
Ada senyum kecil di bibir Cassie bukan senyum bahagia, melainkan senyum orang yang sudah sering dinilai. “Aku tidak menyangka akan sejauh itu.”
“Aku minta maaf,” ujar Manggala cepat. “Aku tidak tahu dia akan....”
“Aku tidak menyalahkanmu,” potong Cassie lembut. “Aku hanya ingin tahu… apa yang kau inginkan.”
Pertanyaan itu membuat Manggala terdiam lama. Ia memandang wajah Cassie —mata yang jujur, tenang, menunggu tanpa menuntut. Dan justru itulah yang menyakitkan.
“Aku ingin bersamamu,” katanya. “Tapi.....”
“Tapi keluargamu,” sambung Cassie.
Ren Shen mengangguk.
Hening menggantung di antara mereka, diisi oleh bunyi mesin kopi dan percakapan orang lain yang terasa jauh. Cassie menghela napas panjang, lalu menegakkan bahu.
“Jika kau memilih aku,” katanya hati-hati, “apa yang akan terjadi?”
Manggala menelan ludah. Ia teringat wajah ayahnya, map cokelat di meja, suara datar yang tak memberi ruang. “Aku… akan kehilangan keluargaku.”
“Selamanya?”
“Ayah bilang begitu.”
Cassie memejamkan mata sejenak. Ketika ia membukanya kembali, ada keputusan di sana.
“Dan jika kau memilih keluargamu?”
Manggala tidak langsung menjawab. Ia tahu jawabannya, tapi mengucapkannya terasa seperti mengkhianati sesuatu yang suci. “Aku akan kehilanganmu.”
Cassie tersenyum tipis. “Kau tidak kehilanganku,” katanya pelan. “Kau hanya melepaskanku.”
Manggala menggeleng. “Itu sama saja.”
“Tidak,” Cassie membalas lembut.
“Kehilangan adalah ketika kau tidak punya pilihan. Ini… ini pilihan yang dipaksakan.”
Kata-kata itu menusuk tepat di tengah dadanya.
“Dia memberiku ultimatum,” kata Manggala akhirnya. “Keluarga atau kau.”
Cassie menatapnya lama. Tidak ada air mata. Tidak ada drama. Hanya kesedihan yang matang, seperti luka lama yang tahu cara bertahan.
“Apa yang kau pilih?” tanyanya.
Manggala membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar. Kepalanya dipenuhi bayangan rumah besar yang sepi, meja makan panjang, ibunya yang menghilang dari hidupnya satu per satu. Ia takut. Takut sendirian. Takut menjadi anak yang durhaka. Takut kehilangan satu-satunya tempat yang ia kenal sebagai rumah.
“Aku.....” Suaranya pecah. “Aku tidak tahu apakah aku cukup kuat.”
Cassie mengangguk, seolah sudah mengantisipasi jawaban itu. “Aku tidak ingin kau memilihku karena terpaksa,” katanya. “Dan aku tidak ingin menjadi alasan kau membenci keluargamu.”
“Ini tidak adil,” Manggala berbisik.
“Tidak,” jawab Cassie. “Tapi ini nyata.”
Ia meraih tangan Manggala di atas meja. Sentuhannya hangat, menenangkan, dan itulah yang membuat d**a Manggala makin sesak.
“Jika suatu hari kau datang padaku karena kau bebas,” kata Cassie, “aku akan menyambutmu. Tapi jika hari ini kau datang dengan ketakutan… aku tidak bisa.”
Manggala menatap tangan mereka yang saling menggenggam. Ia ingin menggenggam lebih erat, seolah itu bisa menahan waktu. Namun Cassie perlahan melepaskan.
“Aku mencintaimu,” katanya.
Kata-kata itu jatuh pelan, tapi beratnya seperti menenggelamkan.
Manggala mengangguk, air mata akhirnya jatuh tanpa suara. “Aku juga.”
Cassie berdiri. Ia meraih tasnya, lalu menatap Manggala untuk terakhir kalinya pagi itu.
“Apa pun keputusanmu nanti… jangan biarkan siapa pun membuatmu merasa kau adalah milik mereka.”
Kalimat itu akan menghantui Manggala lebih lama dari yang ia duga.
Cassie berjalan pergi. Pintu kafe terbuka, lalu tertutup kembali. Dunia terus berjalan, seolah tidak ada yang runtuh.
Manggala duduk sendirian. Di sakunya, ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari ayahnya.
Sudah bicara dengannya?
Manggala menatap layar itu lama. Ia mengetik satu kata, lalu menghapusnya. Akhirnya, ia mengirim pesan singkat yang terasa seperti menyerahkan dirinya sendiri.
Sudah.
Di ujung kota, Bhava membaca pesan itu dan meletakkan ponselnya. Tidak ada senyum. Tidak ada lega. Hanya kepastian bahwa kendali masih berada di tangannya.
Sementara itu, Manggala menunduk, menyadari bahwa ultimatum itu telah bekerja dan harga yang harus ia bayar baru saja dimulai.
Kendaka tidak pernah berpindah tagan. Dan Manggala baru saja menyerahkannya.