“Kalau kau datang untuk memaksaku bicara, sebaiknya pulang saja.” Cassie tidak menoleh ketika mengucapkannya. Ia berdiri membelakangi Manggala, menatap etalase toko yang sudah tutup, pantulan lampu jalan membuat wajahnya terlihat asing lebih keras, lebih tertutup. “Aku datang karena kau pergi tanpa menjelaskan,” jawab Manggala. “Dan karena ayahku ada di antara kita.” Kalimat itu membuat Cassie akhirnya berbalik. Tatapannya singkat, tajam, seperti seseorang yang sudah lelah berkelit. “Jangan libatkan aku lebih jauh,” katanya. “Aku sudah cukup jauh terseret.” Manggala melangkah mendekat. Jarak mereka tinggal satu langkah jarak yang dulu terasa aman, kini penuh duri. “Ayahku mendatangimu. Mengajakku bicara seolah aku tidak ada. Kau pikir aku bisa diam?” Cassie tertawa kecil, hambar. “Di

