“Berhenti sekarang.” Suara itu terdengar dari balik telepon, rendah dan menekan. Manggala berdiri di lorong sempit belakang gedung arsip, napasnya masih belum teratur setelah berlari dalam gelap. “Kalau aku berhenti,” jawabnya dingin, “semua ini tidak pernah berakhir.” Hening di seberang sana. Lalu Bhava tertawa kecil bukan tawa senang, melainkan tawa orang yang tahu lawannya mulai lelah. “Kau pikir dengan satu map kau bisa mengguncang apa yang sudah kukunci puluhan tahun?” tanya ayahnya. Manggala menekan punggung ke dinding. Lampu jalan berkedip. Tangannya masih gemetar, tapi suaranya tidak. “Aku tidak ingin mengguncang. Aku ingin membuka.” “Itu sama saja.” “Tidak,” sahut Manggala cepat. “Ayah menutup demi kuasa. Aku membuka demi kebenaran.” Bhava menghela napas pelan. “Kebenaran

