“Kau tidak akan keluar dari sini sendirian.” Kalimat itu terdengar datar, tapi cukup untuk membuat Cassie berhenti melangkah. Ia berdiri tepat di ambang pintu besi, satu tangan masih menggenggam tali tas kecilnya, napasnya tertahan setengah. “Siapa yang bilang aku mau keluar?” tanyanya pelan. Pria di depannya yang sejak tadi tersenyum seolah ini pertemuan bisnis menautkan jari. “Aku tahu caramu berpikir. Kau selalu ingin memastikan pintu terbuka, bahkan saat kau pura-pura tidak peduli.” Cassie mengangkat dagu. “Dan kau selalu berpikir mengenalku.” “Karena aku yang mengajarimu bertahan,” balasnya tenang. “Sebelum Bhava.” Nama itu jatuh di ruangan seperti benda berat. Cassie tidak menghindar, tapi rahangnya mengeras. “Apa yang kau mau?” tanyanya. Pria itu melangkah mendekat, berhenti

