“Kau tidak seharusnya sendirian di sini.” Suara itu datang dari belakang Manggala dingin, datar, tanpa napas tergesa. Seolah situasi di atap bukan pengepungan, bukan ancaman. Hanya percakapan biasa. Manggala tidak menoleh. “Dan kau tidak seharusnya muncul sekarang,” jawabnya. “Terlambat satu menit.” Langkah kaki mendekat. Berat. Terukur. Sepatu kulit berhenti tepat di belakangnya. “Aku menunggu kau membuat kesalahan,” kata suara itu. “Dan kau melakukannya. Membiarkan mereka pergi.” Manggala menghembuskan napas pelan. Sorot lampu helikopter masih menyapu, tapi kini menjauh. Waktu yang ia ciptakan hampir habis. “Dia bukan target,” kata Manggala. “Hari ini, semua jadi target,” balas pria itu. “Termasuk kau.” Manggala akhirnya berbalik. Wajah yang ia hadapi tidak asing. Terlalu famil

