“Kau yakin mau melanjutkan ini?” Pertanyaan itu melayang ringan, hampir sopan. Terlalu sopan untuk sesuatu yang sedang dipertaruhkan. Cassie berdiri tegak di tengah ruangan. Lampu putih memantul di lantai, membuat bayangan kakinya terlihat rapuh bertolak belakang dengan sorot matanya. “Aku sudah di sini,” jawabnya. “Bukankah itu jawaban?” Sang paman menyandarkan punggung ke meja. “Banyak orang datang ke ruangan ini. Tidak semuanya pulang dengan hal yang sama.” Cassie menoleh sekilas ke arah Manggala. Borgol itu masih ada. Dingin. Mengikat. Membuat dadanya berdenyut pelan. “Lepaskan dia,” Cassie mengulang. “Lalu aku bicara.” Manggala menggeleng pelan. “Cassie, jangan.” Cassie akhirnya menatapnya penuh. “Kau dengar caranya dia bicara? Dia sudah tahu. Diamku tidak lagi melindungimu.”

