“Kau naik mobil itu sekarang.” Cassie berhenti di bawah lampu parkiran yang berkedip. Udara subuh dingin, menusuk. Dua orang berdiri di kiri-kanannya tidak menyentuh, tapi cukup dekat untuk mengingatkan: ia tidak punya ruang mundur. “Aku bisa jalan sendiri,” katanya. “Perintah,” jawab salah satu dari mereka singkat. Cassie menatap pintu mobil hitam yang terbuka. Di kaca, bayangannya sendiri tampak asing mata bengkak, rahang mengeras, punggung terlalu lurus untuk seseorang yang baru saja menyerah. Ia masuk. Pintu menutup. Klik yang sama. Klik yang menutup segalanya. Mobil melaju. Kota masih setengah tidur. Lampu lalu lintas berganti tanpa saksi. Cassie menempelkan dahi ke kaca. Napasnya berembun. Ia mengingat wajah Manggala saat borgol dilepas bukan lega, bukan marah. Takut. Takut ya

