“Cassie, angkat teleponnya.” Nada itu bukan lagi permintaan. Manggala berdiri di tepi jalan, mesin mobil menyala, jarum jam di dashboard bergerak terlalu pelan dibanding denyut di dadanya. Panggilan keempat. Kelima. Keenam. Semua berakhir sama sunyi. Ia memukul setir sekali. Keras. BRENGSEK!! Pesan singkat itu terus terngiang di kepalanya. Jangan cari aku malam ini. Kalimat yang terlalu singkat untuk sebuah perpisahan. Terlalu rapi untuk sebuah keputusan yang tidak direncanakan. Manggala memutar mobil. Ban berdecit saat ia mengambil belokan tajam menuju rumah ayahnya. Jika Cassie menghilang, hanya ada satu orang yang tahu ke mana arahnya. Dan satu orang yang sengaja membiarkannya pergi. “Ayah di mana?” Pelayan rumah besar itu terkejut saat Manggala masuk tanpa melepas jaket. Waja

