Pilih Diam

1006 Words

“Aku yang akan bicara.” Suara Cassie terdengar lebih tenang daripada isi dadanya sendiri. Mereka masih duduk di dalam mobil, mesin mati, lampu parkir gedung memantulkan bayangan wajah mereka di kaca depan. Manggala menoleh cepat, seolah kalimat itu baru saja menamparnya. “Tidak,” jawabnya singkat. “Kita bicara bersama.” Cassie menggeleng. “Justru itu masalahnya.” “Cass...” “Dengar aku dulu,” potong Cassie. Tangannya terangkat sedikit, menahan Manggala sebelum kalimatnya meluncur lebih jauh. “Ayahmu tidak sedang menawar. Dia sedang menguji. Kalau kau ada di tengah, dia akan menaikkan taruhannya.” Manggala tertawa pendek, pahit. “Dia sudah menaikkan semuanya.” “Belum,” sahut Cassie pelan. “Belum sampai kau jatuh bersamanya.” Manggala memejamkan mata sejenak. Napasnya berat. “Kau piki

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD