Cassie menahan napas. Setiap detak langkah terdengar lebih keras dari sebelumnya, memantul di dinding beton yang basah oleh hujan semalam. Ia merasakan ketegangan yang menempel di kulitnya bukan sekadar rasa takut, tapi ketajaman yang menuntut konsentrasi penuh. Manggala berdiri di sampingnya, jaraknya cukup dekat untuk menahan jika diperlukan, namun cukup jauh agar tidak menjadi target langsung. Matanya mengamati bayangan-bayangan yang bergerak perlahan dari sudut gelap ruangan. Setiap gerakan, setiap langkah, terdengar derap sepatu atau desis logam. “Cassie,” bisik Manggala, “siapkah kau menghadapi ini?” Cassie menatapnya lurus. “Aku tidak punya pilihan.” Langkah mereka berhenti beberapa meter sebelum bayangan pertama. Siluet yang muncul lebih jelas kini—tinggi, tegas, tubuhnya dilap

