15 – This Feel
Satu hal yang tak akan pernah bisa kau kendalikan
Perasaan
“Kecuali Brian, semua sudah melakukan dengan baik,” ucap Tiger saat evaluasi.
Joe melirik Brian yang sedari tadi tampak diam. Joe tahu kemampuan Brian dalam menangani bom, dan Brian pun tahu. Namun kali ini, ia bahkan tak protes pada komentar Tiger tentang pekerjaannya hari ini. Brian memang berhasil menjinakkan bomnya, tapi dia tidak melakukannya sebaik biasanya.
Untuk pertama kalinya, Joe melihat Brian panik saat menangani bom. Ia tak tahu apa yang sedang dipikirkan Brian, tapi ia curiga ini ada hubungannya dengan Brianna. Tidak hanya Joe, tapi yang lain pun dibuat terkejut ketika Brian tiba-tiba memeluk Brianna tadi. Dan yang lebih mengejutkan, alih-alih menghajar Brian karenanya, Brianna malah membalas pelukan Brian.
Sejak Brian dan Brianna semakin dekat beberapa hari lalu, Joe memang sudah curiga, pasti sesuatu terjadi tanpa sepengetahuannya. Brian tak mengatakan apa pun tentang Brianna, bahkan tidak dengan taruhan mereka. Joe tidak yakin, apakah Brian melakukan ini untuk taruhan mereka atau ...
“Keluarkan Brianna dari tim,” kata Brian tiba-tiba, sontak mengejutkan semua orang.
“Brian, kurasa kau perlu istirahat dan ...”
“Aku tidak bisa berkonsentrasi pada misi jika aku masih harus mengkhawatirkan keselamatannya,” Brian menyela kalimat Tiger.
Di sebelah Brian, Brianna mendengus tak percaya ketika menatap Brian. “Bukankah sudah pernah kukatakan padamu? Aku tidak lemah. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Jadi mulai sekarang, kau tidak perlu repot-repot menolongku, atau mengkhawatirkanku,” kata gadis itu dingin. “Apa pun yang dikatakan ayahku padamu, lupakan saja. Jika kau datang padaku untuk itu, lebih baik jangan muncul lagi di hadapanku.”
Setelah mengatakan itu, Brianna berbalik dan pergi lebih dulu. Joe menatap Brian yang tampak begitu muram.
“Kita sudah membicarakan ini sebelumnya, kan?” Joe mengingatkannya pelan.
Brian tak membalas kata-kata Joe dan malah berbalik, lalu mengejar Brianna. Sepeninggal Brian, Tiger dan yang lain menatap Joe, menuntut jawaban, seolah Joe tahu segala hal tentang Brian.
Joe berdehem sebelum berkata, “Aku akan berbicara dengannya nanti.”
***
“Brianna,” panggil Brian seraya menangkap lengan Brianna, menahan gadis itu.
“Lepaskan aku dan enyahlah dari hadapanku,” desis Brianna seraya berusaha menarik lengannya dari Brian.
“Brianna, kumohon ...” Brian benar-benar sudah putus asa.
“Apakah semua yang kau lakukan selama ini hanya untuk ini?” Brianna menatap Brian dengan kecewa.
Brian menggeleng sedih. “Aku mengkhawatirkanmu.”
Brianna tampak terluka. “Aku tidak lemah.”
“Aku tidak mengatakan sebaliknya,” balas Brian. “Aku hanya mengkhawatirkanmu. Membayangkan situasi seperti tadi benar-benar terjadi dan ...”
“Situasi seperti tadi bisa saja terjadi. Jika kau merasa tidak sanggup menghadapinya, lebih baik kau mundur dari tim ini,” sengit Brianna seraya mengempaskan tangan Brian yang masih memegang lengannya. “Aku juga tidak butuh dikhawatirkan olehmu,” ucap Brianna seraya berbalik dan meninggalkan Brian.
Brian menatap punggung Brianna yang semakin jauh dengan muram. “Tapi, kau tidak tahu betapa mengerikannya situasi tadi bagiku. Kau tidak tahu betapa itu menakutkan bagiku.”
***
“Apa yang kita lakukan di sini?” tanya Brian bingung ketika mereka memasuki kawasan taman hiburan.
“Direktur memintaku membawa kalian berlibur sebelum memulai misi besok,” sahut Tiger santai.
Brian mendengus tak percaya. Masih sempat-sempatnya mereka mengatur acara seperti ini. Brian melirik Brianna yang sedari tadi diam. Gadis itu tak mengatakan apa pun lagi pada Brian sejak mereka bertengkar tadi. Semua panggilan Brian diabaikannya, membuat Brian tampak menyedihkan.
Di pintu masuk taman hiburan, beberapa petugas menyambut mereka, kemudian memimpin mereka pergi ke suatu tempat.
“Apakah ini pelayanan khusus?” tanya Gading iseng.
“Tentu saja,” sahut Tiger mantap.
“Wah, apakah itu berarti kami tidak perlu antri untuk naik wahana-wahana itu?” Gading tampak bersemangat.
“Tentu saja,” ucap Tiger lagi.
Gading tersenyum lebar. “Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku akan mencoba semuanya.”
Tiger hanya mengangguk, sementara Brian tidak percaya begitu saja kata-kata Tiger. Untuk apa dia membawa mereka kemari padahal masih ada misi penting yang harus mereka selesaikan?
Tak lama kemudian, mereka masuk ke dalam sebuah gedung, dan mereka dibawa ke lantai paling atas. Brian tidak heran ketika mendapati mereka sudah berada di ruang monitor.
“Jadi, misi kali ini ...”
“Tunggu,” sela Gading. “Misi apa? Latihan lagi?”
Tiger tersenyum. “Bukan latihan. Ini misi sebenarnya.”
“Apa? Tapi, tadi ...”
“Kau masih bisa mencoba wahana mana pun yang kau inginkan begitu kau menyelesaikan misi ini,” kata Tiger untuk menenangkan Gading.
Meski masih mengeluh bahwa Tiger curang, tapi akhirnya Gading setuju. Tiger lalu menjelaskan situasinya.
“Sebelum kita berangkat kemari, aku mendapat telepon dari pusat. Di taman hiburan ini, ada beberapa bom waktu yang disebar, dan semuanya diaktifkan dengan pengendali jarak jauh. Masing-masing bom disetel dengan waktu satu menit setelah pengendalinya diaktifkan. Penjahatnya hanya satu orang, dan dia meminta tebusan pada pemerintah kota. Jika ada tanda-tanda kehadiran polisi, atau tanda-tanda evakuasi, maka bomnya akan diaktifkan. Dia memberi waktu hingga jam delapan malam tepat. Jadi, kita punya waktu delapan jam untuk menemukan semua bom dan menangkap pelakunya.
“Pihak taman hiburan ini menghubungi kantor pusat untuk meminta bantuan tadi, dan kebetulan kita berada di lokasi paling dekat. Tugas kalian adalah, menjinakkan semua bom tanpa diketahui target, dan terus mengawasi target.” Tiger menatap kelima agen itu satu-persatu. “Gading akan memonitor dari sini, mengawasi tanda-tanda target. Kalian akan kubagi menjadi dua tim. Rega dan Joe, kalian akan menyamar sebagai petugas, sementara Brian dan Brianna, kalian akan menyamar menjadi pasangan yang sedang berlibur di taman hiburan ini.”
“Tidak,” tolak Brian dan Brianna seketika.
“Aku akan membereskannya sendiri, tapi jangan libatkan Brianna dalam misi ini,” Brian berkata.
Brianna mendengus. “Aku tidak bisa bekerja sama dengan pengecut seperti dia.”
Tiger menatap kedua orang yang keras kepala itu dengan kesal. “Jika kalian tidak mau, kalian bisa berjalan-jalan saja dan biarkan teman-teman kalian bekerja.”
Ekspresi Brian dan Brianna seketika berubah. Brian mengerti apa yang dipikirkan Brianna. Bahkan meskipun mereka membenci ini, mereka tetap harus melakukannya karena tidak mungkin mereka meninggalkan misi hanya karena masalah ini. Brian sendiri, meski ia khawatir, ia tak punya pilihan lain.
“Jika kalian masih ingin membantu, lakukan apa yang kuperintahkan,” Tiger kembali berbicara pada Brian dan Brianna. “Tim ini membutuhkan kalian. Karena itu, tolong bekerjasamalah.”
Brian dan Brianna tak punya pilihan selain mengangguk dengan patuh.
Tiger menegakkan tubuh dan berkata, “Sementara Gading akan mencari dari sini, kalian akan berpencar dan mencari bomnya. Gading akan berusaha mencari pelakunya dan dia akan memberitahukan pada kalian tempat-tempat yang dikunjungi pelaku itu, yang mungkin ada bomnya. Tapi, tetaplah waspada karena mungkin pelakunya mengawasi kalian. Laporkan setiap pergerakan dan tunggu konfirmasi aman dari Gading. Mengerti?”
“Mengerti, Pelatih!” sahut mereka berlima.
Setelah membagi lokasi untuk masing-masing tim, mereka memakai mic dan headset, sebelum kemudian berpisah untuk memulai misi mereka hari itu.
“Jika aku menyuruhmu lari, untuk kali ini, kumohon larilah,” Brian berkata pada Brianna saat mereka sedang bersiap-siap.
“Jika kau terus menganggapku lemah, kau sendiri yang akan terluka karena lengah,” sinis Brianna.
***
“Bom terakhir ada di ferris wheel, tapi target kita mengawasinya,” Gading memberitahu.
Brian dan Brianna bertukar tatap. Mereka tidak banyak bicara kecuali untuk misi. Dan sejauh ini, mereka sudah berhasil menjinakkan dua dari enam bom yang ada, sementara Joe dan Rega membereskan tiga lainnya. Sekarang hari pun sudah gelap dan waktu mereka tinggal dua jam.
Berkat kejelian Gading, mereka bisa menemukan target mereka sore tadi. Target mereka adalah pria yang mengenakan jaket abu-abu, dengan ransel yang tampak kosong di punggungnya, dan topi merah menutupi kepala. Dengan petunjuk dari Gading, mereka berhasil menemukan bom-bom yang ada di wahana-wahana di taman hiburan itu.
Namun saat ini, mereka harus berhati-hati dengan bom terakhir karena target mereka terus mengawasi. Jika Rega, atau Joe masuk ke sana, penjahat itu pasti akan curiga. Satu-satunya cara adalah Brian dan Brianna naik ke wahana itu sebagai pasangan.
Hanya saja, Brian khawatir jika bom terakhir ini dibuat berbeda. Melihat bagaimana penjahat itu terus mengawasi bom yang di sini, Brian khawatir jika di dalam sana, bom itu cukup berbahaya. Bagaimana jika di dalamnya ada tuas air raksa, atau bagaimana ada kabel-kabel jebakan di sana? Dan bagaimana jika penjahat itu curiga dan langsung meledakkan bomnya saat Brian dan Brianna masih ada di sana? Bagaimana jika ...
“Aku dan Brian akan mencari tahu di mana bomnya, lalu kami akan masuk ke sana,” Brianna berbicara pada Gading.
“Berhati-hatilah,” pesan Gading.
“Brian, kita harus berdiri lebih dekat agar bisa melihat lebih jelas,” kata Brianna seraya menyelipkan tangannya di lengan Brian seraya menarik pria itu mendekat ke pagar ferris wheel. “Perhatikan setiap sudut dengan teliti, kita hanya punya waktu sepuluh detik.”
Brian tak menyahut, tapi ia melakukan apa yang dikatakan Brianna. Meski begitu, saat ia sudah menemukan tempat bomnya, ia tak segera memberitahu Brianna. Dan ketika Brianna juga sudah menemukannya sendiri, hanya dua detik sebelum pintu ditutup dan bom itu bergerak naik bersama penumpangnya, dia segera menghitung barisan, memastikan mereka mendapatkan tempat di mana bom itu berada.
“Ayo,” kata Brianna seraya menarik Brian ke antrian setelah membiarkan beberapa orang mengantri sebelum mereka. “Aku sudah melihat bomnya dan aku sudah memperhitungkan antrian kita.”
Brian tahu itu. Namun, ia tak mengatakan apa pun. Saat ini, ia sedang memikirkan bagaimana caranya mencegah Brianna masuk ke sana. Ia bisa menangani bom itu sendirian, dan justru lebih baik jika ia sendirian. Kemarin saat menghadapi bom saat latihan, Brian tak bisa fokus karena terlalu mengkhawatirkan Brianna. Dua bom sebelumnya pun Brian menjinakkannya saat meminta Brianna pergi untuk membelikan makanan atau minuman untuknya. Dan kali ini ...
“Begitu putaran ini selesai, kita akan naik, Brian,” bisik Brianna.
Brian tak menanggapi itu dan masih terus berpikir, mencari cara untuk menjauhkan Brianna dari sini, dari tempat ini. Brian menoleh untuk menatap Brianna yang tampak senang. Berbeda dengan Brian, Brianna berakting dengan baik. Brian teringat ekspresi kesal Brianna ketika mengetahui bahwa Brian dua kali mengirimnya pergi saat Brian menjinakkan bom tanpa disadarinya.
“Aku tidak mau,” kata Brian ketika sudah tiba giliran mereka untuk naik.
Brianna menatap Brian terkejut.
“Aku takut ketinggian, jadi aku tidak mau naik ini,” ulang Brian.
Brianna melongo selama beberapa saat, sebelum kembali menguasai dirinya dan berkata, “Tidak apa-apa, Sayang. Aku akan memegang tanganmu, kau tidak akan jatuh. Aku bersamamu, jadi kau tidak perlu takut.”
Brian menggeleng. “Jika aku harus naik ini, aku tidak ingin kau ikut bersamaku.”
Brianna mulai tampak panik. “Sayang ...”
“Aku mungkin akan muntah, atau pingsan di dalam sana. Dan aku tidak ingin kau melihat keadaanku seperti itu,” sela Brian seraya memalingkan wajah.
“Sayang, tidak apa-apa. Kau akan baik-baik saja. Tidak perlu takut,” bujuk Brianna seraya menyentuh wajah Brian dengan lembut. “Kita akan naik bersama-sama. Tidak ada yang perlu kau takutkan selama aku ada di sampingmu.”
Brian tahu saat ini ia pasti tampak seperti seorang pengecut cengeng. Seharusnya ia yang mengucapkan semua kata-kata yang diucapkan Brianna itu. Namun saat ini, ia tidak peduli bagaimana orang berpikir tentangnya. Baginya, yang terpenting saat ini adalah memastikan keselamatan Brianna.
Brianna menarik wajah Brian hingga menatap gadis itu. “Percayalah padaku, oke?” ucapnya sungguh-sungguh.
Brian tertegun.
“Apa kalian akan masuk?” tanya petugas wahana itu.
“Tentu saja,” sahut Brianna cepat. Ia lalu kembali menatap Brian dan tersenyum padanya. “Tidak perlu takut. Kau akan baik-baik saja bersamaku,” ucapnya seraya menggandeng tangan Brian erat, lalu menariknya ke wahana itu.
Brian masih menatap Brianna lekat ketika mereka sudah berada di dalam dan wahana itu mulai bergerak untuk menaikkan pengunjung lainnya. Kata-kata terakhir Brianna tadi terdengar begitu tulus. Dan dengan bodohnya, Brian mempercayainya.
Brian tersentak ketika merasakan kedua tangan Brianna mendarat di pipinya. Gadis itu tersenyum, tapi apa yang ia katakan kemudian sama sekali bukan hal yang manis atau menyenangkan.
“Cepat ambil kotak di bawahmu dan selesaikan tugasmu. Dan, jangan membuat ini semakin kacau lagi,” ucap Brianna dengan nada mengancam.
Brian mendesah lelah. Ia pura-pura menunduk, lalu membungkuk dan memegangi kepalanya. Ia menunggu mereka berada cukup tinggi sebelum merogoh ke bawah bangku dan mengambil kotak bomnya. Setelah mengeluarkan alat-alat yang ia perlukan dari saku jaketnya, Brian membuka tutup bom itu.
Brian menarik napas dalam sebelum mulai mengamati bom itu, memeriksa skema kabel-kabelnya. Setidaknya semua kabel ini ada dalam skema dan tidak ada kabel jebakan. Ini bom yang sama dengan sebelumnya. Dan Brian bisa bernapas lega kini.
“Jika kau melakukan sesuatu yang bodoh lagi, aku bersumpah, akan kuhajar kau saat kita turun nanti,” kata Brianna penuh kesungguhan.
Kali ini, Brian bahkan bisa menanggapinya dengan senyum geli. Saat ini, ia masih bisa melindungi gadis itu. Namun, bagaimana dengan esok?
“Kurasa mulai saat ini, aku akan terus hidup dalam ketakutan,” ucap Brian seraya memotong salah satu kabel. “Saat ini mungkin aku bisa melindungimu, tapi bagaimana dengan besok? Dan besoknya lagi? Bagaimana jika kau terluka karena aku tidak bisa melindungimu?”
“Apa sebenarnya yang diucapkan ayahku padamu?” sengit Brianna. “Aku tidak selemah yang kalian pikir. Aku bisa melindungi diriku sendiri.”
Tidak. Ini bukan sekedar permintaan ayah Brianna. Masalahnya bagi Brian, sejak ia melihat Brianna menangis pertama kalinya, ia merasa ia harus melindungi gadis itu, agar ia tak perlu melihatnya menangis lagi. Saat Brianna menangis, gadis itu tampak begitu rapuh. Dan Brian, di luar kendalinya, merasa harus melindungi gadis itu.
“Apa pun yang kau katakan ataupun lakukan, tak akan mengubah keputusanku yang satu ini. Aku akan melindungimu,” sahut Brian tanpa ragu.
Brianna mendesis kesal. “Kau benar-benar punya kecenderungan bersikap sok pahlawan, kurasa.”
Brian tersenyum kecil. Gadis itu bisa mengatakan apa pun, tapi Brian juga bisa melakukan apa pun yang ia ingin lakukan. Jika ia ingin melindungi gadis itu, maka ia akan melakukannya. Salah satu cara paling mudah adalah dengan membuat gadis itu keluar dari tim. Dan jika hari ini tidak berhasil, ia masih punya besok.
Pikiran itu membuat Brian lebih tenang. Setelah ia menyelesaikan misi ini, dia bisa fokus memikirkan cara untuk membuat Brianna keluar dari tim mereka. Bagaimanapun caranya, dia harus membuat gadis itu meninggalkan tim. Brian tidak akan membiarkan gadis itu berurusan dengan sang Mata Kegelapan. Brian akan melakukan apa pun untuk itu.
***