17 – Silver Bullet
Terkadang untuk begitu banyak masalah
Hanya ada satu solusi
“Apakah dia silver bullet-mu?” Pertanyaan Tiger membuat Erwin mendongak dari laporan yang barusan diserahkan Tiger padanya.
Erwin tersenyum. “Dia melakukannya dengan baik sejauh ini?”
Tiger mendengus. “Apa kau tidak khawatir dengan kedekatannya dengan putrimu?”
Erwin mendesah berat. “Itu sudah bukan urusanku,” ucapnya. “Aku tidak bisa mengatur hati manusia, bahkan meskipun itu putriku sendiri.”
“Yah, tapi tetap saja. Jika kau membiarkan mereka seperti ini, kelak mereka sendiri yang akan terluka,” Tiger mengingatkan. “Baik Brian maupun Brianna, pekerjaan mereka adalah hidup mereka. Apa kau pikir mereka akan melepaskan pekerjaan mereka demi satu sama lain?”
Erwin mengedikkan bahu. “Bukankah sudah kubilang, aku tidak bisa mengatur hati manusia.”
Tiger mendesah. “Mereka akan terluka.”
Erwin menghela napas berat. “Lalu, aku harus bagaimana? Jika kau jadi aku, apakah kau pikir kau bisa menghentikan perasaan manusia untuk satu sama lain?”
“Kau bisa menghindarinya jika kau mau,” sahut Tiger.
“Tapi sayangnya, aku juga berharap Brianna akan melepaskan pekerjaannya demi anak itu,” ungkap Erwin.
Tiger mendengus tak percaya. “Dia sangat marah ketika tahu kau menyuruh Brian untuk menjaganya.”
Erwin tersenyum. “Aku hanya seorang ayah, Tiger. Apa yang kau harapkan?”
Tiger tersenyum. “Benar, aku mengerti perasaanmu. Aku juga tidak ingin putriku menantang bahaya seperti yang dilakukan putrimu itu.”
Erwin tergelak. “Jika Selena sudah besar, kau akan lebih sering mendapat sakit kepala.”
Tiger mendengus geli. “Aku tidak mendidiknya untuk menjadi sepertiku.”
Erwin mengangkat alis. “Benarkah?” Erwin pura-pura berpikir keras. “Tapi beberapa minggu lalu, saat aku bertemu dengannya, dia menodongkan pistol mainannya padaku. Apa kau tahu?”
Tiger tampak terkejut. “Benarkah?”
Erwin tertawa puas. “Dia mungkin tidak dididik sepertimu, tapi seperti ibunya. Tapi jika kau ingat, bukankah dulu ibunya juga agen SIA?”
Tiger mengerang. “Kurasa aku harus berbicara dengannya tentang ini.”
Erwin menatap Tiger dengan geli. Para wanita itu merasa begitu tangguh dan tidak ingin dilindungi. Seandainya mereka tahu, berapa banyak nyawa yang bergantung pada hidup mereka. Seandainya mereka tahu, berapa banyak rasa sakit di sekitar mereka saat melihat mereka terluka.
“Aku benar-benar berterima kasih untuk bantuanmu, Tiger,” kata Erwin kemudian.
“Tidak masalah,” sahut Tiger santai. “Berkat silver bullet yang kau kirim, tim itu akan mengerti, jika mereka tidak ingin harus meninggalkan rekan mereka, mereka harus menjaga diri mereka sendiri, dan juga menjaga rekan mereka dengan lebih baik. Itu akan meningkatkan konsentrasi mereka dalam setiap misi.”
Erwin tersenyum puas mendengarnya. Ia tahu, Brian tidak akan meninggalkan rekannya yang terluka begitu saja. Dia juga tidak akan tinggal diam jika melihat rekannya terancam. Ketulusannya untuk menjaga rekan-rekannya itu, sepertinya anak-anak itu juga bisa melihatnya.
***
“Joe sudah masuk, Brian bersiaplah,” suara Brianna di headset Brian.
“Oke. Rega?” Brian memastikan.
“Aku di belakangmu,” Rega menjawab.
Brian tersenyum. “Aku dan Joe bertaruh, siapa yang bisa memukul lawan paling banyak berhak menentukan menu makan malam besok, dan yang kalah akan membayar semuanya. Mau bergabung?”
Rega tertawa. “Tentu saja,” sahutnya. “Sayang sekali Brianna tidak bisa bergabung.”
Brianna mendesis kesal. “Aku akan membayar makananku sendiri,” sengitnya.
Rega dan Brian tertawa mendengarnya.
“Goblin ada di dalam,” kata Gading tiba-tiba. “Joe sudah melihatnya.”
Brian tersenyum lebar. “Brianna,” panggilnya.
“Apa?” ketus Brianna.
“Jika aku menang, temani aku pergi jalan-jalan. Bagaimana?” tantang Brian.
“Rega, jika kau menang, aku akan mentraktirmu makan siang di restoran favoritku dan Lena,” Brianna berkata pada Rega.
Terdengar tawa geli Rega karenanya. Brian mendengus tak percaya. Gadis keras kepala itu benar-benar ...
***
“Tujuh belas,” ucap Brian. “Aku menjatuhkan tujuh belas.”
“Aku hanya tiga belas,” Rega berkata.
Brianna mengerang kecewa. Ia lantas menoleh ke arah Joe.
Joe mengangkat tangan. “Maaf, aku hanya menjatuhkan sepuluh orang. Aku harus menangkap Goblin yang sempat mengamuk, ingat?”
Brian bersorak. “Itu berarti Joe kalah.”
“Tapi dia harus melindungi kalian dari tembakan Goblin,” protes Brianna.
“Dan tidak ada aturan semacam itu dalam taruhan ini. Jumlah terbanyak yang menang, hanya itu aturannya,” sahut Brian seraya tersenyum lebar.
Brianna mendesis kesal pada Brian.
“Dan itu berarti, akhir pekan ini kau harus menemaniku jalan-jalan,” tuntut Brian.
“Kapan aku menyetujuinya?” sengit Brianna.
“Ketika kau menawarkan makan siang pada Rega,” sahut Brian enteng.
Brianna menatap pria itu dengan kesal. “Tapi, bukan berarti aku setuju.”
Brian mendecakkan lidah. “Kenapa kau selalu menolak mengajakku jalan-jalan? Aku terakhir kali ke negara ini sepuluh tahun lalu.”
“Tidak masalah kau datang kemari setelah berapa tahun pun, reaksimu akan tetap sama. Kau membenci negara ini dan meskipun aku bisa mengerti alasanmu, tapi komentar sinismu untuk semua hal yang ada di negara ini benar-benar membuat telingaku sakit,” kesal Brianna.
Brian meringis. Pasalnya, setelah mereka kembali dari pelatihan, mereka punya dua minggu untuk menyelidiki kasus Goblin sebelum kembali beraksi. Dan dalam penyelidikan lapangan mereka, entah itu pagi, siang ataupun malam, Brian tak pernah melewatkan komentar-komentar sinis setiap kali melihat hal-hal yang mengusiknya sepanjang jalan.
Seperti saat ini, ketika mereka melewati jalan di mana ada anak-anak kecil yang bergerombol di lampu merah, pria itu kembali berkomentar,
“Kau sendiri juga tahu kan, anak-anak kecil itu juga dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab? Tapi, pemerintah ...”
Kalimat Brian terhenti ketika Brianna menatapnya tajam.
“Aku tidak buta, Brian. Tapi, itu bukan urusanku. Aku tidak bertanggung jawab atas mereka,” Brianna berkata.
Brian berdecak pelan seraya menatap ke arah lain. Ia tak lagi mengatakan apa pun sepanjang sisa perjalanan pulang ke kantor NDA. Brianna melirik Brian dan diam-diam mendesah. Kata-katanya tadi pasti sangat menyakiti Brian. Bagaimanapun, Brian membenci negara ini bukan tanpa alasan. Tidak seharusnya Brianna berkata bahwa dia tidak peduli.
“Brian,” panggil Brianna ketika mereka baru turun dari mobil.
“Lupakan saja,” ucap Brian tajam. “Aku juga tidak tertarik untuk jalan-jalan di negara ini. Benar katamu, aku tidak akan bisa menahan diri untuk tidak berkomentar buruk tentang negara ini.”
Brianna menatap lesu ke arah Brian yang sudah berjalan mendahuluinya ke arah gedung.
“Dia tidak marah padamu,” ucap Joe yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Brianna. “Dia marah pada dirinya sendiri, karena tidak bisa membantu orang-orang yang menderita karena ketidakadilan itu. Dia pernah mengalami situasi mereka dan mendapati dirinya tak bisa melakukan apa pun untuk mereka, dia pasti sangat marah dan kecewa pada dirinya sendiri.”
Brianna merasa sedih mendengarnya. Tidak hanya di negara ini, tapi di dunia ini, ketidakadilan seperti itu seolah tak kasat mata. Warga negara yang kehilangan haknya, warga negara yang menderita demi kepentingan negara, warga negara yang dikorbankan demi negara, warga negara yang diabaikan oleh negaranya. Brianna bukannya tidak tahu tentang itu. Bukan pula ia tak peduli. Hanya saja, ia tak punya kekuasaan untuk mengubah semua itu.
“Saat kau menemukan Brian, apa yang kau lihat di matanya?” tanya Brianna.
Joe mendesah berat. “Kebencian dan amarah,” jawabnya. “Aku sempat khawatir, dia akan membalas dendam pada negara ini suatu saat nanti. Tapi, dia tidak seperti itu. Karena dia tahu, jika dia menghancurkan negara ini, nasib orang-orang sepertinya juga tidak akan berubah. Mereka akan tetap menderita dan diabaikan.”
Brianna menghela napas berat. Mendadak bahunya terasa begitu berat.
“Brianna,” panggil Joe kemudian.
Brianna menoleh dan mendapati pria itu menatapnya serius.
“Brian memang terkadang bersikap bodoh. Tapi, dia anak yang baik. Dan ... semua yang dia lakukan padamu, itu tulus,” lanjutnya.
Brianna mengerutkan kening bingung. Ia tahu itu. Namun, kenapa Joe merasa perlu mengatakan itu padanya? Atau ... adakah sesuatu yang Brianna lewatkan?
***
“Sebenarnya kau mau membawaku ke mana?” Brian menarik tangannya dari pegangan Brianna ketika mereka tiba di pelataran parkir.
“Bukankah kemarin kau yang meminta diajak jalan-jalan jika kau menang?” sahut Brianna cuek seraya kembali menarik lengan Brian ke arah mobilnya.
Lagi, Brian menarik tangannya dari gadis itu. “Bukankah sudah kubilang, lupakan saja? Aku tidak mau membuat telingamu sakit.”
Brianna tak mengatakan apa pun untuk membalasnya, tapi dia kembali menarik lengan Brian dan mendorong paksa pria itu masuk ke mobilnya. Ia bahkan mengabaikan semua protes Brian karena penculikannya itu.
“Apa yang akan kau lakukan? Jangan-jangan kau memang sang Mata Kegelapan dan kau menculikku untuk membunuhku?” selidik Brian.
Brianna mendengus. “Jadilah anak manis kali ini saja, oke?”
Brian menatap gadis itu tak rela, tapi ketika ia hendak berbicara lagi, Brianna mengangkat tinjunya.
“Satu kata saja dan aku akan mematahkan hidungmu,” ancamnya.
Brian hanya bisa mendesah pasrah dan terpaksa diam sepanjang perjalanan entah ke mana Brianna membawanya. Gadis itu berhenti di beberapa tempat dan tidak mengizinkan Brian turun, ataupun membantunya membawa plastik besar warna hitam, entah apa isinya. Brianna masih tak mengatakan apa pun pada Brian ketika akhirnya dia berhenti tak jauh dari perempatan besar.
“Kenapa kita berhenti di sini?” tanya Brian bingung ketika Brianna menyuruhnya turun.
“Ini saatnya mereka menyetorkan hasil kerja mereka pada bos mereka,” kata Brianna seraya menatap ke arah perempatan.
Brian mengerutkan kening bingung ketika mengikuti arah tatapan Brianna. Dilihatnya di depan sana anak-anak kecil mengamen di perempatan saat lampu merah menyala. Selama beberapa menit Brian dan Brianna hanya menatap mereka dari kejauhan. Hingga kemudian, anak-anak itu berkumpul, lalu bersama-sama mereka berjalan meninggalkan perempatan.
“Ayo,” kata Brianna seraya mengikuti anak-anak itu.
Brian mengikuti gadis itu dengan patuh. Mereka melewati jalan-jalan kecil, lalu melewati lapangan, dan di ujung lapangan, ada sebuah bangunan yang terbengkalai dan anak-anak itu masuk ke sana. Apakah itu adalah tempat tinggal mereka?
Brianna menarik Brian untuk mempercepat langkahnya ke bangunan itu. Begitu mereka tiba di bangunan itu, mereka masuk dan bersembunyi di belakang dinding, sembari mengintip ke ruangan lain tempat anak-anak itu berkumpul.
“Siapa mereka?” bisik Brian penasaran ketika melihat tiga pria dewasa berdiri di depan anak-anak yang tadi mereka ikuti.
Brianna mendesah pelan. “Sepertinya mereka yang menguasai tempat ini.”
Brian mengerutkan kening. Apakah mereka akan menghajar anak-anak itu karena mengamen di daerah kekuasan mereka? Namun kemudian, Brian lebih terkejut lagi ketika satu-persatu anak-anak itu menyerahkan uang yang mereka dapatkan tadi pada salah satu dari ketiga pria itu.
Ketika seorang anak laki-laki menyerahkan uangnya, pria itu tampak marah. Brian merasakan Brianna menahan lengannya ketika ia nyaris melompat ke dalam ruangan dan menghajar pria yang memukul anak laki-laki tadi. Brian menatap Brianna dengan marah, tapi gadis itu menggeleng.
“Nanti,” ucap Brianna pelan, sarat janji.
Berpegang pada janji itu, Brian berusaha menahan diri. Ia kembali menoton apa yang terjadi di dalam ruangan tadi. Kali ini, pria itu berteriak pada anak laki-laki tadi,
“Kenapa kau selalu mendapat uang sesedikit ini?! Kau ini kan yang paling besar di antara mereka! Apa kerjamu hanya malas-malasan saja seharian ini?! Dasar kau ini ...” Pria itu mengangkat tangannya lagi, tapi temannya menghentikannya.
“Jika kau menghajarnya lagi, dia tidak bisa bekerja besok,” kata temannya itu.
Brian menahan geraman. Mereka sama saja. Bisa-bisanya mereka memanfaatkan anak-anak kecil itu untuk melakukan semua ini.
Setelah semua anak menyetorkan uang mereka, salah seorang pria dari ketiga pria itu menghitung uang itu. Sementara kedua pria lainnya meminta anak-anak itu berbaris. Mereka meninggalkan ruangan itu sebentar, lalu kembali lagi dengan membawa kotak kardus yang ternyata berisi roti.
“Lihat ini, kami sudah berbaik hati memberi kalian makan dan tempat tinggal,” salah seorang dari mereka berkata. “Jadi, kalian harus bekerja keras untuk kami. Kalian mengerti?”
Anak-anak itu mengangguk. Lalu, mereka dipanggil satu-persatu untuk menerima roti itu. Brian mendengus mengingat perkataan pria yang membagikan roti itu. Tempat ini mereka sebut rumah? Dan roti yang tidak seberapa itu mereka sebut makanan? Setelah mereka bekerja seharian, hanya ini yang mereka dapatkan?
Brian tak bisa tinggal diam lagi ketika pria yang menghitung uangnya tadi sudah selesai melakukan tugasnya dan menyimpan uang yang diperoleh anak-anak itu ke saku celananya. Ia berjalan masuk ke ruangan, mengejutkan ketiga pria itu.
“Siapa kau?!” bentak pria yang bertubuh paling besar.
Brian mendengus meledek. “Seharusnya aku yang bertanya,” balasnya. “Sampah macam apa kalian, yang hidup bergantung pada anak-anak seperti mereka?”
Pria bertubuh besar berteriak marah seraya menyerang Brian dengan tinjunya. Dengan mudah Brian menghindarinya. Ketika pria itu berbalik dan kembali menyerangnya, Brian menangkap tinju pria itu, lalu memukul perut pria itu dengan keras, membuat pria itu membungkuk menahan sakit. Brian melompat dan memukul punggung pria itu dengan sikunya, membuat pria itu akhirnya jatuh tersungkur.
Brian merasakan gerakan di belakangnya dan sudah berbalik untuk menghadapi serangan lainnya, tapi ternyata Brianna sudah lebih dulu menahan serangan pria itu. Brianna menangkis tinju pria itu, lalu menghindari tendangan pria itu. Brianna melompat mundur ketika pria itu kembali menendang ke arahnya. Pria itu kembali memasang kuda-kuda, dan sebelum ia sempat menyerang, Brianna sudah mengangkat kakinya dan mendaratkan tendangan keras di wajah pria itu. Menyusul kemudian, tendangan dobel di perut pria itu, membuatnya jatuh tersungkur seperti temannya tadi.
Brian dan Brianna kini berbalik dan menatap pria terakhir yang masih memegang kardus roti. Pria itu menatap mereka berdua dengan ngeri, kakinya gemetar. Ketika Brian berjalan menghampirinya, pria itu semakin ketakutan hingga kardusnya terlepas dari pegangannya.
“Ampun, Tuan ...” rengek pria itu seraya berlutut.
Brian menatap pria itu dengan jijik. Begitu ia berdiri di depan pria itu, ia membungkuk dan berkata, “Sebaiknya kau segera membawa teman-temanmu itu pergi dari sini, dan jangan kembali. Atau aku akan membunuh kalian.”
Pria itu melotot ketakutan. Ia mengangguk cepat. “Baik, Tuan. Kami akan segera pergi. Kalian ... kalian berdua bisa menguasai tempat ini ...” katanya.
Brian mendengus seraya menegakkan tubuh. Menguasai tempat ini? Ketika pria itu sudah berdiri, Brian menghantamkan tinju keras tepat ke wajah pria itu, membuatnya tak sadarkan diri seketika. Setelah itu, Brian kembali ke pria yang membawa uang anak-anak tadi, mengambil uang itu dari sakunya, lalu menghampiri anak laki-laki yang tadi sempat dihajar pria itu.
“Siapa namamu?” tanya Brian pada anak itu.
“Gi ... Gilang ...” sebut anak itu takut-takut.
Brian menyodorkan uangnya pada anak itu. “Kau selalu menyisihkan uang setoranmu, bukan?”
Anak itu, Gilang, tampak kaget.
Brian mengangkat kaos kumal anak itu dan menarik lembaran uang kertas yang terselip di pinggang celananya. “Untuk apa kau menyimpan uang ini jika pada akhirnya akan diambil juga oleh mereka?”
“Mereka tidak tahu,” ucap Gilang cepat. “Aku menyisihkan uang dan menyembunyikannya dari mereka. Mereka tidak akan tahu.”
“Dan untuk apa uang itu nantinya?” dengus Brian.
Mata Gilang tampak menyala penuh tekad saat ia menjawab, “Aku ingin membeli rumah untuk adik dan teman-temanku. Aku akan membelikan mereka rumah yang bagus dan makanan yang enak.”
Brian tertegun. Ia menatap Gilang dan melihat bahwa anak itu bersungguh-sungguh. Ia berdehem ketika menggoyangkan uang yang ada di tangannya ke arah anak itu.
“Kalau begitu, kau pasti membutuhkan uang ini,” katanya.
Gilang menatap uang itu dengan ragu. “Tapi, jika aku mengambil uang itu, mereka akan marah dan menghajarku. Mereka akan mengusirku dari sini dan tidak memberiku makan. Aku tidak akan punya tempat tinggal dan ...”
“Apa kau pikir tempat ini bisa disebut tempat tinggal?” sinis Brian. “Tinggal di tempat seperti ini, dengan orang-orang tidak berguna seperti mereka, lebih baik tinggal di jalanan. Kau bisa mencari uang untuk dirimu sendiri, mencari makan yang kau inginkan ...”
“Tapi aku juga akan mati dihajar anak-anak lainnya,” sela Gilang.
Brian tercekat. Ia menatap tubuh kurus Gilang. Anak ini mungkin masih berumur dua belas tahun, sementara anak-anak lainnya tampak lebih kecil darinya.
“Di sini, mereka memberikan kami tempat tinggal dan makanan. Dan kami tidak perlu takut dihajar anak-anak lain. Di sini, kami bisa tidur tanpa takut diangkut para petugas,” Gilang berkata.
Brian mengepalkan tangan dengan geram. Bagaimana bisa hidup seperti ini menjadi lebih baik daripada hidup di jalanan? Hidup dengan cara yang menyedihkan, diabaikan dunia, dan tak ada seorang pun yang peduli pada mereka.
“Apa kakak ini petugas? Apa Kakak akan menangkap kami?” Anak itu kini menatap Brian dengan cemas.
“Bukan,” kali ini Brianna yang menjawab. “Kami orang baik, dan kami akan menolong kalian,” ucapnya lembut.
Gilang mengerutkan kening bingung menatap Brianna.
“Kalian percaya pada kami, kan?” Brianna membungkuk dan menatap anak-anak itu.
Anak-anak itu menatap Gilang, menunggu keputusan anak itu. Gilang menatap Brianna dengan waspada.
Brianna tersenyum pada anak itu. “Kakak berjanji, Kakak tidak akan menyakiti kalian,” ucapnya sungguh-sungguh.
Gilang menatap Brian sekali lagi, lalu menatap uang yang masih dipegang Brian. Briannalah yang kemudian mengambil uang yang ada di tangan Brian, melipatnya dengan rapi, lalu memberikannya pada Gilang.
“Kau bisa mengambil uang ini, dan kau tidak perlu takut lagi pada mereka. Kami yang akan mengurus mereka,” Brianna berkata.
Gilang tampak ragu.
“Bukankah kau bilang kau ingin membelikan rumah untuk adik dan teman-temanmu ini?” lanjut Brianna.
Gilang mengangguk, dan akhirnya ia menerima uang itu.
“Sekarang, kalian ikut dengan Kakak, ya? Kakak sudah membawakan makanan untuk kalian. Nanti Kakak belikan es krim juga. Bagaimana?” bujuk Brianna.
Gilang menelan ludah. Tampaknya ia sudah sangat kelaparan.
“Kau belum makan apa pun kan, seharian ini?” tanya Brianna lembut. “Kakak sudah menyiapkan makanan yang enak untuk kalian. Tapi, jika kalian tidak mau, Kakak akan membuangnya saja ...”
“Jangan dibuang,” sergah Gilang. “Ya, kami akan ikut Kakak.”
Brianna tersenyum. Ia menegakkan tubuh, melirik Brian yang masih menatap anak-anak itu dengan sorot terluka. Tanpa mengatakan apa pun, ia menggandeng tangan Brian dan membawa pria itu pergi dari sana. Di belakang mereka, anak-anak itu mengikuti.
***