Akhirnya aku sampai juga di Negara impianku. Paris, aku nggak nyangka bisa menginjakan kaki di sini. Bayangkan!! Kini aku sedang menghirup dalam-dalam aroma Kota Paris. Astaga!! Apa iya Kota ini punya aroma? Tapi aku bisa merasakannya. Setidaknya aroma itu datang padaku. Aroma kebahagian. Ah alay.
Ya ampun kalau dipikir-pikir kenapa Hiro bodoh amat ya? Dia ngasih aku 1 miliar cuma buat tutup mulut. Sekaya apa Hiro sampai memberiku uang sebanyak itu?
Sebodoh aja lah ya, yang penting sekarang aku di Paris dan nggak perlu takut kehabisan uang. Surga banget nggak sih hehe.
Baiklah.
Pertama-tama yang harus aku lakukan adalah mendatangi hotel yang kemarin sudah aku cari tahu. Berkat semua serba online, jadi aku nggak perlu keliling nyari hotel yang pas. Tinggal browsing dan nggak butuh lima menit ketemu deh hotel yang diinginkan.
Satu jam kemudian aku sampai di penginapan. Check in dulu habis itu mandi dan tidur. Capek juga, penerbangan ke Paris itu harus transit dulu. Kebetulan aku pilih dari Jakarta ke Singapura dulu, baru terbang ke Paris. Pokoknya tubuhku butuh istirahat sebelum memburu tempat wisata di Kota ini.
***
Jembatan Gembok Cinta, atau bahasa kerennya jembatan Pont Des Arts itu nama tempat yang saat ini aku datangi. Duh rame banget tau nggak. Tempatnya keren. Sumpah masih nggak percaya bisa ke sini. Kayaknya aku harus berterima kasih sebesar-besarnya pada Hiro. Berkat dia, aku bisa datang ke jembatan gembok cinta.
Meskipun nggak sama gebetan, nggak apa-apa deh yang penting dalam listnya seorang Litia sudah pernah ke pont des art.
Berhubung sudah ke sini, mau dong di foto. Biar bisa kasih lihat anak-anak sebangsa dan senegaraku yang jauh di sana. hihi. Ahh apa lagi bosku, pasti matanya melotot karena kegirangan setelah aku pamerkan foto-foto ini.
"Ahh i am sorry," aku membalikan badan saat nggak sengaja nabrak orang. Astaga bule guys!!!
Si bule cuma tersenyum aja sebelum melenggang meninggalkan aku yang masih kepikiran tentang tinggi badannya.
Ya ampun Liti!!! Kapan sih kamu mikirin hal yang penting aja???
"Aduh!!!" nabrak lagi kan. Salahku juga sih tiba-tiba berbalik badan. Kali ini setinggi apa badan si bule? tuh kan ngelantur lagi!
"Makanya kalau jalan tuh hati-hati!"
Eh????
Kok ya bahasanya kayak bahasa Indonesia??
Kok suaranya mirip seseorang???
Keningku mengernyit memikirkan suara siapa kira-kira yang familiar di telingaku ini?
"Astaga!!!!" aku terpekik saat mendongakan kepala. "Hiro?????" tanyaku tak yakin. Ngapain nih orang ada di sini coba???
Hiro menyeringai. Nah kan, baru juga dua menit ketemu, dia udah nyebelin gitu.
Ck.
"Hai wartawan sok cantik," sapaan Hiro bikin aku panas dingin. Di tambah pusing dan mual karena muak. Si Hiro-Hiro ini bikin aku nggak napsu lagi buat jalan-jalan. Duh gusti, kenapa sih aku harus ketemu Hiro di sini.
"Kamu ngintilin aku?" tuduhku saat tiba-tiba terlintas dalam benak kalau Hiro sebenarnya sedang nguntit aku. Ahh jangan-jangan nih orang mau jadi wartawan juga??? Bisa jadi sih. Atau dia nggak rela kali aku ngabisin uangnya.
Aku berkacak pinggang. Dengan sebal aku menatap matanya, "aku nggak akan balikin uang yang udah kamu kasih ke aku!!!!" tegasku. Bodoh amat, kalau Hiro maksa, kan aku bisa teriak.
Hiro tergelak? Masa sih. Aku jadi ngeri melihatnya seperti itu. Kan semua orang tahu kalau Hiro cuma punya muka dingin plus datar. Lah kok ini jadi tergelak? Dan aku sanksi, soalnya nggak ada yang ngelucu dari tadi.
Bergidik ngeri, aku pindahkan tanganku yang tadinya di pinggang ke dahinya Hiro. Ah nggak panas kok. Tapi ngapain dia ketawa? Jangan-jangan Hiro udah nggak waras?
Woowww berita bagus. Cepat-cepat aku memotret Hiro dengan kamera yang aku bawa. Ekspresinya jadi berubah. Tawanya hilang entah kemana. Kini dia malah terlihat lebih dingin dari terakhir kali kami bertemu.
Karena takut, aku berbalik untuk lari dari tatapan mengintimidasinya itu.
Hiro berteriak, "Litia!!!!!" aku tak mengacuhkannya.
"Kembali ke sini!!" katanya. Sambil memeletkan lidah, aku mengacungkan jari tengahku. Dari kejauhan aku bisa lihat kalau Hiro benar-benar marah.
Ihh bodoh amat. Kan Hiro nggak ada urusan lagi sama aku. Kita udah impas sejak aku menghapus rekaman itu dan menerima uang suap.
Nah kenapa ini kaki nggak bisa gerak? aku merasa jalan di tempat. Di pergelangan tangan juga kayak ada yang megang.
Mataku terbelalak saat mengetahui penyebab kenapa dari tadi kakiku jalan di tempat.
"Nggak capek lari melulu?" tanya si pemilik telapak tangan yang melingkari pergelangan tanganku.
Aku berdecak kesal. Hiro lagi. Jadi percuma dong dari tadi aku ngos-ngosan demi menghindari orang ini kalau pada akhirnya aku ketangkep juga.
"Lepasin!!" desisku.
"Kalau aku nggak mau??"
"Jawab dong!! Kalau aku nggak mau lepasin, kamu mau apa?"
Ehh??? Nggak salah dengar nih? dari tadi Hiro ngomongnya santai amat kayak bajaj. Biasanya formal, kan??
"Ck. Lama! Ayo ikut!!!" katanya sambil menarikku untuk ikut sama dia.
Aku sih mau-mau aja ditarik-tarik sama cowok ganteng, tapi masalahnya udah nggak kehitung berapa kali aku hampir jatuh gara-gara Hiro nariknya kencang banget.
Aku dipaksa duduk setelah bearada di dalam mobil yang bisa aku tebak siapa pemiliknya. Alah, orang polos aja bisa nebak kalau mobil ini pasti milik Hiro, atau seenggaknya disewa oleh si Admaja ini. "Ngapain bawa aku ke sini?" bentakku. Nggak terima dong tiba-tiba diseret kayak gini sama...
Hemm... Alay nggak sih kalau aku bilang dia ini musuh bebuyutan?
Tanpa menjawab pertanyaanku, Hiro menjalankan mobilnya. Awalnya aku nggak tau Hiro mau bawa aku ke mana tapi pas udah setengah jalan aku sadar kalau Hiro membawaku ke arah perhotelan tempatku menginap. Bibirku mengerucut, jadi Hiro beneran nguntit aku? Waduh gawat dong kalau dia juga berniat menarik uang yang sudah jadi hak milikku.
Aku merapatkan pelukan terhadap tasku. Enak saja. Nggak akan aku biarkan si resek ini menarik kata-katanya lagi. Bukan mata duitan, tapi masalahnya vidio yang mau ku bikin viral itu beneran udah aku hapus. Kan rugi di aku kalau Hiro minta dibalikin uangnya lagi.
Ban mobil Hiro berdecit saat ia memarkirkan mobilnya di pelataran. Keterlaluan, dahiku sampai menabrak dashboard mobil karena ulahnya itu.
"Pelan-pelan kali!" ketusku.
Hiro berdecih. Tuh kan nyebelin banget. Apa coba maksudnya?
"Turun!" ya ampun Hiro! Bisa nggak sih dia bersikap lemah lembut dikit?
Aku memutar bola mataku. "Nggak mau!" balasku. Hiro melotot.
"Aku ke Paris buat jalan-jalan, bukan ketemu kamu!" kesalku.
"Ngapain sih nguntit aku?"
"Kamu lagi nggak ada kerjaan?"
Kali ini Hiro yang memutar bola matanya. "Kita bicarakan di kamar hotel saya," aku melotot mendengar omongannya. Ngapain juga ke kamar hotel? Jangan-jangan....
"STOP berpikiran yang tidak-tidak!!!!" aku nyengir saat Hiro memotong pemikiran konyolku.
Mengacuhkan cengiranku, Hiro membuka pintu mobilnya dan meninggalkan aku sendirian. Akhirnya ku ikuti juga ke mana perginya dia.
Ternyata kamar Hiro satu lantai sama aku. Suara kunci yang terbuka terdengar setelah Hiro memasukan id cardnya.
"Duduk!!" perintahnya.
Ia melempar majalah ke atas meja minibar yang memang di siapkan hotel sebagai tempat bersantai. "Baca!!" katanya.
Keningku berkerut. Mulutku menganga saat aku selesai membaca berita itu. "Kok bisa?" tanyaku.
Bahuku melemas. Mata Hiro memerah. Alamat disemprot olehnya lagi aku ini. Gagal sudah semua rencana yang aku buat. Kayaknya aku harus puas dengan jembatan gembok cinta aja.
.
.
TBC.