Kesepakatan Lagi

1272 Words
Aku mondar mandir di depan minibar setelah membaca majalah yang isinya tentang cinta segi tiga antara Hiro, Badu dan Anastasya Ruby. Mampus. Siapa yang menyebarkan rekaman itu? Aku tadi sempat cek alamat vidio yang di unggah di wadah yang menjadi tempat banyak orang untuk memviralkan sesuatu. Nggak usah ku sebutkan semua orang juga tahu apa itu. Oke fokus ke rekaman yang sama persis dengan punyaku. Tapi yang nerbitin berita itu bukan perusahaanku. Mbak Vanya pasti lagi histeris sekarang karena ketinggalan berita sebagus itu. Dia jauh lebih histeris kalau sampai tahu aku pernah hampir menulis berita itu tapi berubah pikiran karena uang 1 miliar. Alamat kena pecat Mbak Vanya ini. Hiro berdecak, "berhenti modar-mandir!!" bentaknya. "Aduh diam dulu deh. Aku lagi pusing mikirin pemecatanku," Hiro semakin kesal. "Kamu pusing karena itu? Nggak penting. Lebih baik kamu pikirin caranya meyakinkan atasanmu itu. Atau saya terpaksa melaporkan kamu ke polisi karena tidak bisa mengembalikan uang 1 miliar," ucapnya. Aku menganga. "Itu bukan salahku! Bahkan aku nggak minta uang ke kalian." belaku. Hiro berdecih. "Di kamar itu hanya ada kita berempat dan kamu adalah tersangkanya. Pencuri rekaman sekaligus yang menyebarkannya," Hiro salah. Buktinya Papa tiri tahu tentang rekaman itu. Artinya Papa tiri ada di sana tapi nggak mungkin dia yang menyebarkan.  Tapi semua itu nggak penting saat aku lah yang pertama jadi tersangkanya. Duh, kenapa jadi gini sih? Aku juga nggak berani angkat telpon Mbak Vanya yang dari tadi bunyi terus. "Angkat telpon kamu atau saya banting." Aku mendelik. Sembarangan. Akhirnya mau nggak mau aku angkat juga telpon Mbak Vanya. "Litia!!" tuh kan, belum apa-apa Mbak Vanya udah teriak-teriak. "Iya Mbak. Kenapa?" Tanyaku pura-pura nggak tau. Mbak Vanya berdecak. "Ceritakan apa yang terjadi!!!" Perintahnya. Bahuku lemas seketika. Kalau sudah begini Mbak Vanya nggak mungkin bisa dibohongi lagi. Aku yakin Mbak Vanya masih ingat tentang Badu yang mengaku sebagai pacarku. Sudah pasti penjelasan ini akan panjang. "Liti!!!" Aku terkejut mendengar bentakan Mbak Vanya. "Iya Mbak, aku bingung," aku yakin suaraku sangat lirih. Lihat saja tampang Hiro semakin masam. "Ck. Siapa sebenarnya Badu Admaja?" Tanya Mbak Vanya. Diam-diam aku tersenyum. Mbak Vanya pasti sangat kesal karena di bohongi oleh Badu. Hihi. "Litia!!" Ehh? Aku ketahuan menertawakan Mbak Vanya. "Iya-iya. Sabar Mbak, Litia ceritakan dari awal, oke? Tapi Mbak Vanya harus janji jangan marahin Litia, apa lagi dipecat," pintaku pada Mbak Vanya. Aku dengar dia menghela napas. "Jadi, Badu itu adiknya Hiro Admaja.." "Itu juga Mbak tau Liti!!!" penjelasanku dipotong Mbak Vanya. Aku menghela napas sejenak sebelum melanjutkan, "kalau aku dan Hiro ada something Mbak juga tau nggak?" hati-hati aku bertanya. "Apa?" Mbak Vanya terkejut. Ya, baiklah, penjelasan selanjutnya mungkin akan membuat Mbak Vanya syok. "Aku sama Badu nggak ada hubungan apa-apa tapi sama Hiro, aku pacarnya," satu kebohongan lagi tercipta. Aku berharap semuanya nggak jadi rumit seperti cerita pada novel yang sering aku baca, di mana pemeran cowok dan cewek pada akhirnya saling jatuh cinta. Iewwwwww ogah banget jatuh cinta sama si muka datar kayak Hiro. Aku mengernyit heran saat Mbak Vanya nggak ada respon apapun. "Mbak???" panggilku. Barulah Mbak Vanya menjawab, "ya?" katanya. "Mbak nggak ada respon apa-apa gitu?" tanyaku. Mbak Vanya menghela napasnya dengan lirih. "Ya sudah Mbak percaya sama kamu Liti. Mbak harap kamu nggak melakukan sesuatu yang berpotensi menyakiti dirimu sendiri," aku tertegun mendengar jawaban Mbak Vanya. Aku menggelengkan kepala, nggak mungkin Mbak Vanya tahu semuanya. Termasuk tentang kesepakan baru yang tadi aku setujui bersama Hiro. Ah ya, sebenarnya setelah aku membaca berita itu, Hiro menawarkan kesepakatan baru padaku. Flasback on Aku curiga dengan cara Hiro menatapku. "Apa?" kesalku. Hiro terkekeh sinis. Aduh pengen banget aku tuh meredam suara Hiro dengan tonjokanku. "Kita buat kesepakatan baru!" ujarnya. Mataku menyipit. Kesepakatan apa yang dimaksud Hiro? "Kamu harus mau jadi pacar saya. Tujuannya adalah agar saya tidak menjadi orang yang tersakiti karena perselingkuhan sialan itu. Saya tidak mau terlihat menyedihkan." Aku memutar bola mataku. Kenapa harus aku?  "Karena kamu menipu saya dan harus mempertanggung jawabkan semuanya!" Hiro menjawab pertanyaan yang belum sempat aku utarakan. "Sudah ku bilang itu bukan aku! Kenapa aku harus mempertanggung jawabkan semuanya." Aku menatapnya sinis. Enak saja! Emang dia pikir dia siapa? Soal uang 1 miliar yang sialnya sudah ku gunakan untuk membeli tiket dan membayar tempat penginapan itu akan aku kembalikan.  Ck Hiro berdecak. "Kamu tidak bisa menghindar. Mau tidak mau, kamu akan tetap menjadi pacar saya." "Atau kamu terpaksa masuk penjara," lanjutnya. Aku melotot. Hiro tersenyum sinis. Masuk penjara katanya? Amit-amit, jangan sampai itu terjadi. Masa aku harus mendekam di penjara gara-gara uang 1 miliar ini sih? Astaga!! Kenapa gini banget sih hidup aku?? "Bagaimana? Saya tidak punya waktu untuk menunggu keputusanmu."  Aku menelan ludah susah payah. Masuk penjara atau jadi pacar Hiro? Kalau aku nggak punya masalah sama nih orang, mungkin aku pilih opsi jadi pacar Hiro Admaja, secara ya, dia ganteng banget, kaya lagi. Tapi aku dan Hiro bertemunya karena sesuatu yang nggak bisa dibilang enak, makanya aku kudu mikir lagi. Hiro mengeluarkan handphonenya saat aku masih termenung memikirkan mana yang harus ku pilih. "Urus semuanya dengan baik!" sekali lagi aku melotot saat Hiro memerintahkan seseorang yang ia hubungi itu dengan tegas. Jangan-jangan Hiro sudah melaporkan aku? Nggak bisa dibiyarin ini. "Aku mau jadi pacar kamu!" teriakku.  "Jangan diurus dulu. Jangan laporin aku ke polisi, aku nggak mau masuk penjara," pintaku sambil memelas. Hiro mengangkat alis sebelah kirinya. Lalu menutup telpon. Aku bernapas lega. Seridaknya aku nggak masuk penjara. "Siapa juga yang mau laporin kamu?" katanya. "Itu," balasku menunjuk handphone yang ia genggam. Aku yakin baru saja melihat Hiro menahan tawanya sebelum menegaskan kalau dia bukan sedang melaporkanku, "saya menelpon bawahan saya untuk membereskan masalah adik saya dan Ana," jelasnya. Sontak mulutku menganga. Jadi aku ketipu?? Aiss aku pikir dia sudah melaporkan aku. "Jadi, sekarang kamu resmi menjadi pacar saya?" tanyanya. Sungguh aku terpaksa menganggukan kepala. "Tapi yang akan kita jelaskan ke wartawan adalah hubungan ini sudah kita jalani sejak sebelum saya bertunangan dengan Ana," Hiro terlihat menjeda penjelasannya. "Saya akan mengatakan pada publik kalau saya terpaksa bertunangan dengan Ana karena sebuah bisnis, saya juga akan berbohong bahwa saya sangat mencintai kamu. Bagaimana?" lanjutnya. Aku pasrah. Terserah Hiro, yang penting aku nggak mau masuk penjara atas tuduhan yang nggak aku lakukan. Flashback of Aku menatap Hiro yang juga menatapku. Ku hela napas yang tak kalah lirihnya dengan Mbak Vanya. Telpon masih terhubung tapi kami sama-sama diam. Sampai akhirnya aku kembali bersuara karena tak sanggup menatap mata tajam Hiro yang sejak tadi ngasih kode. "Mbak," panggilku. "Iya?" jawab Mbak Vanya. "Bantu aku nulis berita tentang hubunganku sama Hiro," ucapku. Mbak Vanya kembali menarik napasnya. "Baiklah," ia menjeda. "Berapa lama lagi kamu di sana?" tanya Mbak Vanya.  "Nggak tau Mbak," jawabku. "Apa Hiro ada di sana?" aku terkejut dengan pertanyaan Mbak Vanya. Aku melirik Hiro dan memberikan kode kalau Mbak Vanya menanyakan keberadaannya. "Tolong kasih handphone kamu ke dia," belum sempat aku kode-kodean ke Hiro, Mbak Vanya sudah minta telpoanan aja. Akhirnya aku kasih benda pipih itu ke Hiro. Awalnya Hiro mengernyitkan keningnya tapi akhirnya ia mengambil handphone dari tanganku. "Halo," aku mencebik mendengar cara Hiro menelpon. Suaranya, wajahnya. semuanya kaku. Tapi itu membuatku berdebar. Iewwww. Aku menggeleng. Nggak percaya sama pemikiranku barusan. Nggak mungkin dong aku berdebar karena Hiro? Apaan coba. "Iya. Saya tidak pernah main-main dengan apa yang sudah saya putuskan!" tegasnya. Aku saja sampai terkejut mendengar intonasinya yang meninggi. "Kenapa?" tanyaku tanpa suara. Ia malah menyodorkan handphoneku kembali. Menyuruhku bicara lagi dengan Mbak Vanya. "Halo Mbak? Kenapa singa ini ngamuk?" tanyaku sambil ngasih pelototan ke Hiro. Berharap dia takut padahal nggak. Mbak Vanya bilang nggak ada apa-apa sebelum menutup telponnya. Aku menggerutu. Aku yakin ada sesuatu yang membuat Hiro mendadak seribu kali lebih menyebalkan. . . TBC.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD