Pemuda jangkung itu menggeliat kecil, mengerjap-ngerjapkan matanya samar. Ia perlahan membuka kelopak mata dengan refleks menutup manik kecokelatan itu dengan lengan. Karena sinar matahari seakan langsung menyorotnya yang kini tiduran di depan teras gubuk, beralaskan batu pipih yang entah ia dapat dari mana. Sosok yang tidak lain adalah Daniel Gabriel itu pun mendudukan diri, mengamati sekitarnya yang lumayan terang dari pada saat malam hari. Ia jadi bisa melihat dengan jelas bagaimana gubuk kecil di depannya dan juga beberapa kain sobek yang berserakan di tanah. Alis Daniel mengkerut melihat salah satu kain kembali digantung di sana, seperti baru saja. Ia pun beranjak berdiri sembari melangkah tertatih-tatih mendekati pohon mati yang anehnya masih berdiri kokoh itu. “Ini s

