Malam harinya, Vaniesya termenung didekat balkon. Ia menatap hamparan rumput ditaman, pandangannya kosong dan berkali-kali menghembusan nafas kasar dengan perasaan kesal. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini.
"Kenapa Tuhan, kenapa kau membuat hidup ku rumit seperti ini? Dimana pun aku berada, kenapa aku selalu terancam oleh para makhluk ciptaan mu yang dinamakan kaum adam itu? Kenapa?"
Mata Vaniesya terasa panas dan perlahan air mata jatuh membasahi pipi putihnya, yang terlihat pucat malam ini. Ruang gerak kebebasan Vaniesya terbatas, ia tak bisa seperti perempuan lainnya, yang dimanapun dan kapan pun selalu merasa nyaman dengan sekitarnya. Vaniesya berbeda, ia memiliki satu trauma yang membuatnya sangat takut untuk berdekatan dengan pria. Baginya, para pria didunia ini sama saja, sama bajingannya. Seperti pria yang tadi ditemuinya di cafe, pria yang dengan kurang ajarnya meraba tubuhnya, dan mengakuinya sebagai kekasih didepan pengunjung cafe. Cih, Vaniesya muak dengan pria seperti itu.
Vaniesya sangat membenci pria yang hanya melihat dari fisik saja. Coba bayangkan saja, jika Vaniesya tidak cantik, maka pria tadi tak akan mendekatinya dan berbuat kurang ajar. Intinya, pria itu hanya melihat fisik, dan fisik berujung pada yang namanya nafsu sesaat.
"Hanya daddy dan paman pria baik bagi ku, lainnya adalah pria bajingan."
"Semua bajingan."
Air matanya kembali terjatuh, dan ingatan masa lalu kembali berputar bagikan kaset rusak. Vaniesya mengerang, ia menjambak rambutnya demi menahan rasa yang tiba-tiba menyeruak kedalam hatinya, kala ingatan masa lalu itu berputar.
"Semua b******n, semuanya tidak tulus. Aku membenci mereka."
Tok tok
Pintu terketuk dan tak lama pintu terbuka. Terdengar suara langkah kaki yang mendekat, Vaniesya bisa menebak orang itu.
"Paman"
"Iya, kenapa? Paman tahu kau sedang ada banyak pikiran, paman boleh tahu salah satunya?" tanya Akshein dengan nada lembut.
Vaniesya terdiam, ia bingung untuk menceritakannya. Jika menceritakan tentang pria yang ditemuinya di cafe dan pelecehan yang dilakukan pria itu, sudah dapat dipastikan apa yang akan diperbuat pamannya. Tapi, sepertinya lebih baik ia diam dan tak menceritakan apa yang sudah terjadi.
"Kalau tidak mau cerita, paman tidak memaksa. Oh iya, kata supir kemarin malam mobil nya tak sengaja menabrak mobil orang. Benar?"
Vaniesya menoleh dan menganggukkan kepalanya. Pembahasan ini, mengingatkannya akan pria yang mobil nya tertabrak oleh mobilnya. Ah, pria itu juga sama kurang ajarnya.
"Tapi kata supir, mobil orang itu yang berhenti mendadak. Apa benar?"
"Iya, aku sudah berniat ganti rugi, tapi pria itu bilang tidak menerima uang dari seorang perempuan. Yasudah." jawab Vaniesya acuh. Ia seperti tak peduli dengan pembahasan ini.
"Wow, kata-kata pria itu bagus sekali." puji Akhsein pada pria itu, yang entah namanya siapa. Vaniesya tak peduli.
"Sudahlah paman, jangan bahas soal itu apalagi memuji perkataan pria itu. Itu tidak penting!".
Akhsein tersenyum tipis, ia sudah terbiasa berada didalam situasi seperti ini. Dimana, Vaniesya akan kesal jika membahas hal yang berkaitan dengan yang namanya pria, karena menurutnya itu tak penting. Dan semua itu juga dipengaruhi faktor masa lalu.
"Baiklah. Kalau begitu paman keluar dulu."
"Paman." panggil Vaniesya membuat Akhsein mengurungkan niatnya pergi dari sana.
"Iya?"
"Bagiamana keadaan mommy? Maaf, untuk satu bulan kedepan aku tidak bisa ke rumah sakit. Aku persiapan untuk skripsi."
Akhsein tersenyum, ia mengelus rambut panjang ponakan kesayangannya, "Tidak apa-apa, kau fokus lah untuk mengerjakan skripsi. Biar urusan kakak, itu urusan paman."
Vaniesya mengangguk dan mengalihkan pandangannya.
"Paman pergi."
Terdengar suara langkah kaki menjauh dan pintu tertutup dengan perlahan. Vaniesya menghembuskan nafas beratnya, ia memejamkan mata dan menikmati hembusan angin malam, yang menerpa wajahnya.
"Aku harap, esok hari aku akan terbebas dari gangguan pria yang kurang ajar. Aku mohon Tuhan."
Setelahnya, Vaniesya membuka mata dan mengusap wajahnya frustasi.
°•°•°•°•°•°
Disebuah club malam terbesar di Istanbul, Adeks tengah meminum vodka dengan sesekali melirik kearah wanita yang berada disampingnya. Ia mengabaikan wanita itu dan terus meminum vodka miliknya.
Pikirannya kacau, hanya karena gadis tadi siang. Sungguh gadis itu menyita seluruh pikiran dan kegiatannya. Entah apa yang terjadi dan apa yang sudah terjadi.
"Adeks, kenapa kau diam saja hem? Sia-sia saja kau datang kesini, tapi diam saja tak melakukan sesuatu. Kau tahu? Aku rindu padamu, sudah lama sekali kau tidak ke Turki. Tapi sekalinya ke Turki, kau malah seperti ini." rajuk wanita itu.
"Aku sedang banyak pikiran Lita, tolong jangan banyak bicara atau aku akan melakukan sesuatu yang membuatmu menyesal, telah banyak bicara." desis Adeks membuat tubuh Lita menegang. Ia terlalu takut dengan pria yang bernama Adeks.
Baginya Adeks itu pria baik, lembut, perhatian dan kejam dalam waktu bersamaan. Ia tahu siapa Adeks sebenarnya, karena dia bukan hanya wanita biasa, ia wanita yang cukup dekat dengan Adeks.
"Lebih baik kau pergi Lita."
Tak membuang waktu lama, Lita langsung berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan Adeks sendirian. Tak lama setelah kepergian Lita, Amer datang dan duduk disamping Adeks.
"Kenapa tuan menelfon saya? Apa ada yang harus saya lakukan?"
Adeks menaruh gelasnya, dan menatap Amer tajam.
"Cari tahu gadis itu, aku tidak tahu namanya. Tapi aku sangat ingat wajahnya."
Amer terdiam, jika tidak tahu nama itu akan mendapat peluang kecil untuk menemukan informasi.
"Jika wajah saya sepertinya sulit tuan, saya tidak tahu wajahnya."
"Cari saja Amer! Besok, aku harus dapat informasi tentang dia. Bisa tidak bisa, besok informasi gadis itu harus ditangan ku. Aku tidak mau tahu."
"Aku tadi bertemu dia lagi, di cafe dekat universitas. Aku rasa dia salah satu mahasiswa disana. Kau cepat cari tahu!"
Amer mengangguk mantap dan berdiri sekaligus pamit untuk mencari tahu informasi tentang gadis yang dimaksud Adeks.
Selepas kepergian Amer, Adeks menatap kearah pojok yang memperlihatkan sepasang lawan jenis yang sedang berbagi kenikmatan, sungguh Adeks benci melihat hal itu. Tidak bisakah mereka menyewa kamar dan melakukannya didalam.
Ah, tapi masa bodoh. Itu terserah mereka, mau melakukannya disini, didalam kamar atau di luar sekaligus. Entah kenapa ia menjadi sensi dengan orang sekitarnya? Argh, ini karena gadis sialan itu.
"Awas kau. Kau sudah membuat hidup seorang Adeks tidak karuan."
"Kenapa kau tidak enyah dari pikiran ku heh? Dasar gadis sialan."
Berkali-kali Adeks mengeluarkan u*****n kasar, itu semua dikarenakan gadis yang ditemuinya siang tadi.
"Lita." panggil Adeks ketika melihat Lita berjalan melewatinya. Lita berhenti dan menatap Adeks dengan tanda tanya.
"Temani aku, aku butuh pelepasan."
Lita terdiam dan setelahnya mengangguk menyetujui. Ia adalah wanita yang sudah menaruh perasaan kepada Adeks selama ini, namun ia bukan seperti wanita lain yang ingin mendapatkan Adeks dengan cara murahan. Memang ia adalah wanita malam, dan ia juga mendekati Adeks dengan cara merayu atau bergelayut manja pada lengan Adeks. Tapi, jika Adeks sudah menyuruhnya menjauh atau pergi, ia akan menurutinya. Bukan hanya karena takut kepada Adeks, melainkan ia menghormati keinginan Adeks. Karena Adeks adalah orang yang sudah membantu hidupnya selama ini. Tanpa Adeks, mungkin ia sudah mati dijalan kerena kelaparan dan tidak mempunyai tempat tinggal.