ENAM

1336 Words
Vaniesya bangun lebih pagi dari biasanya, hari ini adalah hari kelulusannya sebagai mahasiswi disalah satu universitas ternama di Turki. Sudah lima tahun lamanya Vaniesya menempuh pendidikan jenjang tinggi, hingga sampailah ia mendapatkan gelar sebagai sarjana Hukum. Sebenarnya ini adalah hari bahagia bagi Vaniesya. Namun, dihari bahagianya ini ia sedikit sedih, sebab hanya mommy--nya lah yang tidak bisa datang dan menemaninya selama acara kelulusan. "Kenapa melamun? Ayo kita berangkat!" ucap Amelyus, bibinya itu menyempatkan akan datang. Dan sementara, mommy--nya Vaniesya biarlah suster yang menjaga.l "Iya, omong-omong paman dimana?" "Paman mu sudah menunggu didalam mobil, ayo!" Vaniesya mengangguk dan segera berjalan keluar dari kamar. Kedua wanita itu berjalan beriringan dan sesekali tertawa kecil. "Setelah ini, apa yang akan kau lakukan? Maksud bibi, kau bekerja atau apa?" "Aku belum tahu bi, aku pikirkan masalah pekerjaan nanti saja. Lagipula setelah ini aku akan fokus pada pengobatan mommy. Niatnya aku akan membawa mommy berobat ke Jerman, disana dokternya lebih ahli. Dan ya, di Jerman peralatan medisnya lebih unggul dari pada di Turki." jelas Vaniesya. Amelyus hanya mengangguk dan tersenyum singkat. "Terserah kau saja, bibi dan paman akan mendukung semua keputusan mu. Lagipula, tidak bekerja pun tidak apa-apa, ingat siapa mommy dan paman mu itu." papar Amelyus,  dengan diakhiri kekehan kecil. "Hahah, aku tahu bi. Tapi berbalik lagi, aku menempuh pendidikan tinggi, gunanya apa kalau tidak dipergunakan?" °•°•°•°•°•° Sudah hampir lima jam Vaniesya berada didalam hotel tempat dilaksanakannya acara. Sedangkan Akhsein dan Amelyus sudah pamit kembali ke rumah sakit sejak satu jam yang lalu. Sebenarnya Vaniesya ingin sekali pulang, tapi bagaimana lagi ia merasa tidak enak untuk pulang terlebih dahulu. Padahal jika diingat-ingat acara kelulusan sudah selesai sejak dua jam yang lalu. "Hai Vaniesya, selamat ya." "Hai, selamat juga untukmu." Gadis cantik dengan balutan dress biru tua itu tersenyum menatap Vaniesya. Dia bisa dibilang salah satu orang yang lumayan dekat dengan Vaniesya. "Charlotte, apa ini masih lama? Ya Tuhan aku ingin segera pulang." gumam Vaniesya. "Sebenarnya jika kau mau pulang ya tidak apa-apa, pulang saja. Aku juga mau pulang, lagipula tidak ada gunanya menetap disini, ayo pulang." Vaniesya terdiam, sedangkan Charlotte sudah berjalan duluan meninggalkannya. Tak membuang waktu lama, Vaniesya menghubungi supirnya untuk meminta jemputan. Dengan sedikit malas, Vaniesya berjalan keluar dari hotel dan memilih menunggu diluar. Sekitar setengah jam-an supir yang ditunggu Vaniesya akhirnya datang. Ia langsung saja masuk dengan tujuan kerumah sakit. Ia masih sedikit khawatir dengan kondisi mommy-nya. "Nona, tuan Akhsein tadi berpesan jika nona dimintai tolong untuk datang ke perusahaan sebelum ke rumah sakit." jelas supir tersebut. "Untuk apa?" "Katanya, ada map penting yang harus nona ambil. Map itu tentang data kondisi nyonya Dharina." "Kalau begitu setelah kedai kopi didepan, belok kiri saja pak, biar cepat!" ucap Vaniesya memberitahu. Tak lama kemudian, mobil yang ditumpangi oleh Vaniesya berhenti didepan perusahaan Akhsein. Perusahaan besar yang menjadi identitas keluarga Yourkhan. Ia segera masuk, untuk tidak membuang-buang waktu. "Permisi, saya mau masuk kedalam ruangan tuan Akhsein. Ada beberapa dokumen penting yang harus saya ambil." ucap Vaniesya saat berhenti dihadapan sekertaris pamannya. "Silahkan nona, tuan tadi sudah memberitahu saya agar memperbolehkan nona untuk masuk." Dengan segera Vaniesya masuk dan mencari dokumen yang dimaksud oleh pamannya. Tak lama dokumen itu sudah ada ditangannya. Namun, saat bersamaan ia penasaran dengan isi dokumen berwarna kuning diatas meja. Dokumen itu terdapat tulisan Adeks Abraska Frandes Nama Adeks yang tak asing ditelinga nya. Ia pernah mendengar beberapa kali dari media tentang nama tersebut. Tapi ia sama sekali tidak tahu rupa sang pemilik nama. "Ah sudahlah, aku harus cepat." gumam Vaniesya, ia kembali meletakkan dokumen berwarna kuning tersebut. °•°•°•°•°•° Vaniesya berdiam diri didepan kamar rawat Dharina. Gadis itu enggan masuk setelah 3 jam lalu dokter mengatakan bahwa kondisi mommy-nya semakin tidak stabil. Ia sendiri bingung, apa yang harus dilakukan. "Paman tahu apa yang sedang kau pikirkan. Tapi jika kita nekat membawa mommy mu ke Jerman, itu akan semakin membahayakannya. Kau tahu kan, kondisi mommy mu sudah tidak memungkinkan lagi, jika kita tetap bersikeras membawanya, maka akan sia-sia saja." "Benar yang dikatakan pamanmu Vane, melakukan penerbangan disaat kondisi koma itu akan semakin membahayakannya." tambah Amelyus. "Sekarang kau pulanglah, sudah malam. Biar ini semua paman urus. Pulanglah dan istirahat, besok pagi kembali lah kesini " titah Akhsein. Tak membantah, Vaniesya langsung berpamitan pulang. "Aku pulang." "Iya, hati-hati." Vaniesya berjalan dengan lunglai keluar dari rumah sakit. Didepan sudah ada mobil yang menunggunya. "Mampir ke restauran sebrang sana dulu ya,  saya lapar." ucap Vaniesya sebelum mobil dijalankan. Sesuai dengan perintah Vaniesya, mobilnya berhenti tepat didepan restauran. Vaniesya berpesan agar menunggunya di parkiran selagi ia masih makan. Sepeninggal mobilnya, Vaniesya masuk kedalam restauran. Tapi sebelum itu ia dikejutkan adanya seseorang yang menarik pergelangan tangannya. "Kau lagi, kita bertemu lagi." racau pria dengan setelan formal. Vaniesya mengenali wajah pria itu, pria yang mobilnya sempat ia tabrak dan pria waktu di Cafe. "Lepaskan." sentak Vaniesya. Tapi ia tidak berhasil melepaskan cengkraman dilengannya. "Kenapa terburu-buru nona?" tanya pria itu. Ketika pria itu semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Vaniesya, baru Vaniesya sadari jika pria ini mabuk. Tapi kenapa bisa disini? Oh ya Tuhan. Disampingnya sana, terdapat club malam yang selalu ramai dikunjungi. Pantas saja, mungkin pria ini baru keluar dari club itu. "Lepaskan saya tuan." "Kenapa?" tanya pria itu. Sebenarnya Vaniesya ingin berlari, dan berteriak. Tapi sayang, restauran didepannya ini sangat sepi pengunjung, ada satu atau dua pengunjung saja itu pun beras dipojok ruangan. Mustahil dengar jika Vaniesya berteriak. Maklum sekarang sudah hampir tengah malam. "Mau apa kau?" jerit Vaniesya, ketika pria itu menyeret tubuhnya. Vaniesya memberontak, tapi kekuatannya jauh dari kekuatan pria itu. "Lepas. Lepaskan." teriak histeris Vaniesya, ketika pria itu membawanya masuk kedalam mobil. "Lepas!" sentak Vaniesya. "Kenapa?" "Lepas, aku mohon lepas." lirih Vaniesya. Gadis itu sudah mengeluarkan aura matanya. Tapi sepertinya percuma, pria didepannya ini tengah mabuk dan tak akan mendengarkan perkataannya. "Lepas." "Ahhhhhhhh." °•°•°•°•°•° Apa yang baru saja terjadi, membuat Vaniesya tak bisa berbuat apa-apa. Ia sial malam ini, bertemu pria mabuk yang tiba-tiba menyeret dirinya kedalam mobil. Dan merenggut apa yang selama ini Vaniesya jaga. Dengan bercucuran air mata, Vaniesya memunguti satu per satu pakaiannya. Ia memakainya dengan cepat, dan berniat keluar dari mobil laknat itu. Tapi sepertinya takdir ingin mempermainkannya, pria itu tiba-tiba terbangun dan mencekal pergelangan tangan Vaniesya. "Lepas!" sentak Vaniesya. Gadis itu dengan cepat membuka pintu mobil dan keluar dari sana. °•°•°•° Adeks mengerang sakit ketiak kepalanya berdunyut hebat. Tapi ia mengabaikan ketika mendapati gadis yang beberapa kali ini bertemu dirinya, tengah ada didalam mobilnya. Dengan keadaan yang sungguh kacau. Kacau? Seperti terbentur besi, kepala Adeks langsung sakit ketika berhasil mengingat apa yang baru saja terjadi. Tapi sayang, ketika Adeks sudah menyadarinya. Gadis yang diketahui namanya Vaniesya itu sudah terlebih dahulu keluar dari mobilnya. Dengan cepat Adeks memunguti pakainya dan memakainya. Ah, ia harus menemukan gadis itu. Ia sungguh keterlaluan! Saat Adeks keluar dari mobil, jalanan benar-benar gelap dan sepi. Ia langsung berlari menyusuri jalan sekitar demi mencari keberadaan Vaniesya. Dan, sepertinya Tuhan tengah memudahkan dirinya. Lihatlah, disana tak jauh dari posisi Adeks berdiri, terlihat Vaniesya berjalan tertatih dengan tangan yang memeluk dirinya sendiri. "Vaniesya." teriak Adeks. Seketika membuat langkah kaki Vaniesya terhenti saat itu juga. "Vaniesya." teriak Adeks sekali lagi, pria itu berlari berniat menghampiri gadis itu, ah ralat, wanita itu. Tapi sayang, Vaniesya langsung berlari menjauh ketika Adeks hampir mendekatinya. "Vaniesya berhenti, berhenti!" Vaniesya terus lari dan menghiraukan rasa sakit diarea bawahnya. "I hate you, i hate you." teriak Vaniesya. Gadis itu tetap berlari. "I hate you, aku benci dirimu. Kau pria b******n, kau bajingan." "Kau--" BRAKKK Ucapan Vaniesya terhenti kala truk besar menubruk tubuhnya. Kejadian itu terjadi begitu saja, bahkan Adeks saat ini mematung ditempat, melihat tubuh Vaniesya berbaring di jalanan dengan darah yang bercucuran. Adeks tidak tahu jika dari arah kiri akan ada truk yang berbelok. Ya Tuhan. "Vaniesya." teriak Adeks. Ia benar-benar menyesal, jika saja ia tidak mabuk dan argh-- °•°•°•°•° "Nona Vaniesya, mengalami koma."  ucap dokter yang menangani Operasi Vaniesya. Bagai dihantam baja, tubuh Adeks tersungkur dilantai rumah sakit. Ya Tuhan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD