“Kenapa di kepalamu hanya ingin melihatku menikah saja? Apa tidak ada hal lain, heuh?”
Emosi Kevin terpancing. Dirinya tak habis pikir, kenapa Pak Benjamin bersikukuh menginginkan dirinya menikah? Menikah dengan wanita yang sama sekali tidak dicintai.
“Tidak ada! Papa hanya ingin kamu menikahi Jasmine! Hanya itu! Titik!” Keinginan Pak Benjamin saat ini hanya itu. Dia tidak menginginkan hal lain. Ingin melihat Kevin berumah tangga, memiliki istri dan memiliki anak-anak.
“Argh!” Kevin berteriak, mengacak rambut, kesal. Permintaan Pak Benjamin membuat Kevin frustasi. Bagaimana mungkin dia menikah dengan gadis yang tidak dicintainya sama sekali? Bagaimana mungkin Jasmine bisa mengandung benihnya jika tidak ada rasa cinta?
Kevin bukan lelaki pemain wanita. Dia tidak pernah melakukan hubungan intim dengan wanita yang tidak dicintai. Kevin akui, setiap memiliki kekasih, Kevin kerap kali melakukan hubungan itu. Berc*nta yang didasari dengan cinta. Tetapi Jasmine? Sulit bagi Kevin jatuh cinta pada gadis keras kepala itu.
“Om Kevin sudah bangun?” Pertanyaan yang berasal dari suara Jasmine membuat kedua lelaki itu menoleh.
Kini, Jasmine sudah mengenakan piyama pemberian Pak Benjamin. Rambutnya yang sebahu ia geraikan. Wajah tanpa polesan make up terlihat sangat cantik. Kevin tak menyadari bahwa hatinya telah memuji kecantikan Jasmine. Pak Benjamin melirik putra semata wayangnya, bibir Pak Benjamin tersenyum tipis melihat Kevin yang menatap Jasmine tak berkedip.
“Om, tadi aku tanya! Ditanya malah bengong! Aneh!” cibir Jasmine berdiri agak dekat dengan Kevin. Seketika lelaki itu salah tingkah.
“A-aku mau mandi!” Kevin langsung masuk ke dalam toilet. Kening Jasmine mengkerut, melihat sikap Kevin yang menurutnya aneh.
“Dia kenapa? Kalian bertengkar?” telisik Jasmine, melihat ke arah pintu toilet.
“Tidak. Kami tidak bertengkar. Ya sudah, aku keluar dulu. Kamu masih bersemangat membujuk dia agar menikahimu?”
“Tentu saja! Aku tidak akan pergi sebelum ia bersedia menikahiku!” jawab Jasmine bersemangat. Wajahnya terlihat sumringah. Meskipun Pak Benjamin tahu jika Jasmine sebenarnya merasakan sakit di wajah dan lehernya. Tak tega, tetapi harus bagaimana lagi mencari cara agar anak tunggalnya bersedia menikah. Hanya Jasmine harapan Pak Benjamin untuk meluluhkan hati seorang Kevin Khaled.
“Jasmine, sebaiknya kamu periksakan luka leher dan wajahmu itu. Kamu pasti merasa kesakitan,” ucap Pak Benjamin khawatir. Jasmine menggelengkan kepala.
“Tidak perlu. Pak Ben, tenang saja. Aku bisa mengatasi rasa sakit ini.”
Lagi, Jasmine menunjukkan senyum getir. Pak Benjamin menganggukkan kepala. Lantas keluar kamar, meninggalkan Jasmine dan Kevin berdua.
Jasmine menarik napas panjang. Sebelah tangannya memegang pipi. Masih terasa nyeri akibat tamparan yang dilakukan Kevin terhadapnya. Sepanjang hidup, baru kali ini ia merasakan tamparan dari lelaki yang baru ia kenal. Sayangnya, Jasmine tak mampu mengelak. Ingatan Jasmine melayang pada kedua orang tuanya. Jika bukan karena mereka, tidak Sudi dirinya mendekati lelaki kasar dan buruk rupa seperti Kevin. Mungkin jika hanya buruk rupa, Jasmine masih bisa terima. Tetapi Kevin? Sudah buruk rupa, buruk pula perangainya.
Jasmine merapikan isi kamar Kevin. Merapikan sprei, mini bar dan juga meja kerja yang terletak di sudut kanan kamar. Pecahan beling akibat pertengkaran mereka tadi siang sudah dibersihkan. Kevin cukup lama berada di dalam toilet. Pandangan Jasmine melirik pada jam dinding. Rupanya sudah pukul sembilan malam.
“Hei, kamu! Kenapa masih di sini, heuh? Bukannya pulang! Kamu gak takut kalau orang tuamu mencarimu kemana-mana?"
Jasmine tergelak, membalikkan badan mendengar cercaan yang terucap dari Kevin. Lelaki itu keluar dari toilet hanya melilitkan handuk sebatas pinggang. Berjalan santai ke lemari pakaian.
“Aku sudah katakan, tidak akan pergi dari sini kalau Om belum mau menikahi denganku!” jawab Jasmine tegas. Kevin terkekeh sembari melepaskan lilitan handuknya begitu saja. Kedua mata Jasmine membeliak, kedua tangan menutup matanya, membalikkan badan.
‘Sial! Duda sialan! Mataku sudah ternoda melihat tubuh bagian belakangnya tanpa busana!’ Jasmine memaki dalam hati.
“Jangan bermimpi! Kalau untuk ... One night stand, aku mau! Bagaimana kalau kita melakukan itu saja?”
Kini, Kevin sudah mengenakan seluruh pakaian. Dia tampak berbeda dengan mengenakan pakaian santai. Terlihat lebih ramah.
“Aku hanya ingin dinikahi sama Om, bukan mau menjual diri!” Jasmine menanggapi tegas. Kedua matanya yang bulat besar menatap lekat lelaki yang berdiri di depannya. Kevin terkekeh, berjalan ke tempat tidur, merebahkan tubuhnya.
“Benarkah? Kamu munafik! Aku tahu, tujuanmu ingin aku nikahi karena menginginkan harta bukan? Apa bedanya dengan w*nita panggil*n?”
Sungguh menyebalkan! Jasmine merutuk dalam hati. Kenapa manusia itu meski terlahir di muka bumi? Manusia paling menyebalkan!
“Terserah apa kata Om. Aku harap, Om bersedia menimbang kembali keinginanku dan keinginan Pak Benjamin.”
“Tidak perlu aku pertimbangkan! Aku tidak mau menikah! Apalagi menikah dengan gadis yang tidak memiliki keseksian sepertimu! Sangat tidak menarik!” Kevin mengejek tubuh Jasmine yang memiliki postur tubuh semampai. Bahkan kedua d*danya tidak terlalu menonjol.
“Dasar Om duda m*sum! Buruk rupa, buruk sikap, buruk otak! Lengkap!” cibir Jasmine melangkah ke sofa yang berada di depan layar televisi.
“Kalau kamu sudah tahu aku seperti itu, kenapa masih ingin aku nikahi?” teriak Kevin merasa tersinggung. Jasmine menyalakan televisi, duduk santai.
“Aku ingin Om nikahi karena permintaan Pak Benjamin. Karena ingin mematahkan kalau Om bukan seorang gay!”
“Karena membayar hutang kedua orang tuamu juga ‘kan?”
“Iya.”
“Bukan karena mencintaiku?”
Jasmine menoleh, bibirnya menyunggingkan sinis.
“Wanita mana yang mau cinta sama Om? Apa Om jarang bercermin? Aku saja ... Kalau bukan karena kedua orang tuaku, tidak Sudi ingin Om nikahi! Makanya, Om ... Harusnya Om beruntung memiliki istri sepertiku! Sekarang Om lihat aku!” Jasmine berdiri, menghadap Kevin yang berbaring miring di tempat tidur.
“Meskipun aku tidak terlalu seksi. Tetapi aku, memiliki wajah yang cantik! Oh ya, satu lagi ... Aku masih perawan! Zaman sekarang, sulit kan ada perawan yang mau dinikahi duda jelek sepertimu!”
Aneh, kali ini Kevin tidak marah. Dia justru terkekeh. Pikiran dewasanya membayangkan bercinta dengan Jasmine. Kevin akui, selama ini dia tidak pernah melakukan hubungan intim dengan seorang perawan. Semua wanita yang pernah disentuhnya sudah tidak perawan termasuk Erika. Tetapi dulu, Kevin tidak mempedulikannya. Menganggap, wanita yang sudah tidak perawan memang biasa.
Kevin tersenyum, turun dari ranjang, menghampiri Jasmine yang masih berdiri menatapnya.
“Kamu yakin masih ....” pandangan Kevin mengarah ke bawah.
“Yakin! Seratus persen yakin! Begini saja, Om. Jika setelah menikah nanti, aku terbukti tidak perawan lagi, maka Om ... Om boleh menceraikanku malam itu juga!”
Terlalu berani Jasmine mengambil keputusan. Kevin kembali menunjukkan senyum jahatnya.
“Kamu sungguh-sungguh ingin aku ceraikan kalau kamu sudah tidak perawan?”
“Iya!”
“Baiklah! Aku pegang omonganmu!”
Kevin menelisik tubuh Jasmine dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Jadi bagaimana? Om mau menikah denganku?” Jasmine bertanya seraya tersenyum manis. Kevin memutar mata malas, menghela napas panjang, lalu,
“Oke, aku akan menikahmu. Tetapi kamu harus pegang omonganmu tadi.” Keduanya saling berhadapan. Sekarang Jasmine sudah tidak takut lagi melihat wajah Kevin yang buruk lebih dekat.
“Tentu saja. Aku akan pegang omonganku!”
“Ya sudah, kalau begitu, besok kita akan menikah!”