Pelunas Hutang

1227 Words
“Om serius? Om tidak bercanda?” Jasmine mamastikan ucapan Kevin. Kedua matanya melebar. Ucapan Kevin membuatnya sangat terkejut. Anak tunggal Pak Benjamin menganggukkan kepala. “Tapi, kalau kamu terbukti tidak perawan, saat itu juga aku akan menceraikanmu dan hutang keluargamu tidak kami anggap lunas!” Kevin mengeluarkan ultimatum. Satu sisi ia enggan menikahi Jasmine. Tetapi, sisi lain, Kevin penasaran ingin merasakan berc*nta dengan gadis yang masih perawan. Kevin kerap kali mendengar cerita salah satu sahabatnya kalau berc*nta dengan perawan, sensasinya sangat berbeda. Lebih menggairahkan dan lebih nikmat. Sebentar lagi Kevin akan membuktikan ucapan Jimmy, kaki tangannya sewaktu ia masih bekerja di perusahaan Ben Khaled Corporation. “Oke!” “Sekarang kamu pulang, kabarkan kedua orang tuamu kalau besok kita akan menikah! Cepat pergi sana!” Kevin mendorong bahu Jasmine. Gadis itu enggan keluar kamar. Ia tetap mematung di dalam kamar itu. Jasmine tidak mungkin pulang ke rumah sebelum ia menjadi istri sah Kevin. Jasmine takut kalau pernikahannya ditentang oleh Pak Haris dan Ibu Liana. Sekarang Kevin sudah bersedia menikah dengannya, jika Jasmine menceritakan perihal masalah ini, khawatir orang tuanya tidak setuju. “Aku tidak mau pulang! Aku mau di sini sampai Om benar-benar menikahiku!” Kevin terhenyak. Rupanya gadis yang dihadapinya memang sangat keras kepala. Padahal Kevin sudah bersungguh-sungguh akan menikahinya esok hari. “Kalau aku menikahimu, lalu siapa walinya jika orang tuamu tidak diberitahu, heuh?” Kelopak mata Jasmine mengerjap. Dia lupa kalau menikah perlu wali. Sesaat, Jasmine bingung. Apakah ia akan pulang dulu atau menginap di rumah Pak Benjamin. “Kaum dengar aku gak?” Jasmine tersentak. Menatap lekat lelaki yang berdiri di depannya. “Om, aku tidak mau pulang karena takut Om berubah pikiran!” Lelaki itu mencebik. Tersenyum miring menanggapi ucapan Jasmine. Selama ini, Kevin pantang menarik janjinya. Dia tipikal lelaki yang tidak pernah ingkar janji apalagi masalah sakral seperti pernikahan. Mungkin benar, jika Kevin kasar. Tetapi, jika masalah janji, dia pantang mengingkari. “Kalau begitu, sekarang kamu ikut denganku! Kita temui Papa!” Kevin menarik lengan Jasmine keluar dari kamar. Mencari keberadaan Papa kandungnya. Dia ingin membicarakan keputusan yang akan menikahi Jasmine Antonio. Seorang gadis yang rela meninggalkan bangku kuliah demi menikah. Sebelumnya tak pernah terbayangkan jika Jasmine akan menikah muda. Jasmine seorang gadis yang sulit ditaklukkan hatinya, Jasmine seorang gadis yang sangat menjaga kehormatan keluarga dan Jasmine yang bersemangat menggapai cita-citanya menjadi seorang designer muda yang terkenal, kini semua itu harus kandas demi menstabilkan perekonomian keluarga. Entah bagaimana keadaan rumah tangganya nanti, dinikahi oleh lelaki yang tidak dicintai dan mencintainya. “Papa!” Panggilan Kevin membuat Pak Benjamin yang duduk di samping rumah terlonjak. Lelaki tua itu kerap kali menghabiskan malam duduk di kursi samping rumah sambil menikmati pemandangan malam. Dirinya sangat kesepian sejak Kevin mengalami musibah kecelakaan pesawat padahal dahulu, sebelum kecelakaan itu terjadi, Kevin anak yang cukup dekat dengan Pak Benjamin. Mereka kerap kali mendiskusikan masalah pekerjaan atau pun masalah rekan bisnis. “Ada apa?” Kevin menarik lengan Jasmine, berdiri di depan lelaki yang rambutnya sudah mulai memutih. “Aku bersedia menikahinya,” terang Kevin menatap lekat Pak Benjamin. Sontak saja, lelaki yang mengharapkan seorang menantu membeliakkan kedua mata, tersenyum lebar. “Kamu serius, Vin?” “Iya. Siapkan pernikahannya besok. Dan tolong, suruh gadis ini pulang, beritahukan kedua orang tuanya terutama Papanya agar bersedia menjadi wali pernikahan kami.” Sangat tegas, Kevin memberi perintah pada Papanya. Sikap Kevin tak layak ditiru. Sangat tidak sopan. “Jasmine tidak perlu pulang. Biar saja dia di sini. Papa yang akan memberitahu Pak Haris dan Ibu Liana. Ya sudah, sekarang kalian istirahat. Tidur yang nyenyak. Oke?” Pak Benjamin langsung melesat keluar rumah. Menyambangi rumah Pak Haris dan Ibu Liana. Dia ingin menyampaikan kabar itu secara langsung. Tidak peduli meskipun waktu sudah malam. Kevin sangat kesal karena gadis yang seharian ini mengganggunya harus tidur di kamarnya. “Sebaiknya kamu tidur di kamar lain! Jangan di kamarku!” titah Kevin menatap nyalang gadis yang tengah tersenyum manis. “Tidak mau! Aku mau tidur satu kamar sama Om! Kalau aku tidur beda kamar, nanti Om akan kabur!” Jasmine berjalan lebih dulu, masuk ke dalam kamar Kevin. Tidak ingin ia dibohongi lelaki berwajah buruk rupa itu. “Hei, kamu! Berhenti!” Gadis belasan tahun itu berjalan semakin cepat hingga ia bisa masuk ke dalam kamar Kevin lebih dulu. Tak lupa, kunci kamar dimasukkan ke dalam saku piyama. “Kamu ini sangat keras kepala! Aku tidak mungkin kabur! Sudahlah, sekarang kamu keluar dari kamarku! Keluar!” dengan kasar, Kevin menarik lengan Jasmine. Lagi-lagi gadis itu meronta. Berhasil melepaskan diri dari cekalan tangan Kevin. “Aku sudah katakan, aku mau tidur di sini! Silakan Om tidur di atas kasur! Aku di sofa! Yang penting, Om dan aku tidur dalam satu kamar!” ucap Jasmine, berjalan ke arah sofa. Merebahkan tubuh. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyum kemenangan. Hati Jasmine sangat bahagia, perjuangannya tidak sia-sia walaupun rasa sakit di wajah dan badannya masih terasa. Tetapi, paling tidak kedua orang tuanya bisa menghabiskan masa tua tanpa kekurangan materi, tetap tinggal di rumah masa kecilnya. Samar-samar, Jasmine mendengar Kevin mengumpat, mencaci maki dirinya. Namun, Jasmine tidak peduli. Ia lebih memilih memejamkan kedua mata. *** “Pak Benjamin?” Pak Haris tak percaya kedatangan Pak Benjamin malam-malam begini. “Siapa yang datang, Mas?” suara Ibu Liana terdengar. Tubuh wanita yang kedua matanya sembab akibat menangisi anak gadisnya tak kunjung pulang itu terkejut. “Selamat malam, Pak Haris, Ibu Liana. Mohon maaf, jika kedatangan saya mengganggu,” ucap Pak Benjamin seraya tersenyum tipis. Pak Haris dan istrinya saling pandang. Mereka sangat khawatir kalau kedatangan Pak Benjamin ingin menagih hutang. “Ti-tidak, Pak Ben. Silakan masuk.” Sebisa mungkin Ibu Liana bersikap tenang. Mereka kini duduk di sofa ruang tamu. Ibu Liana masuk ke dalam, menyuruh salah satu asisten rumah tangganya membuatkan tiga cangkir kopi dan membawa dua toples berisi kue kering. Kemudian, Ibu Liana kembali ke ruang tamu. “Bagaimana kabar kalian Pak Haris dan Ibu Haris?” Pak Benjamin berbasa-basi. Sikap sepasang suami istri itu sangat tegang. Mungkin mereka menyangka kalau kedatangan Pak Benjamin malam-malam ke rumahnya karena ingin menagih hutang atau menyampaikan kabar buruk. “Kabar kami baik. Ada apa, Pak Ben? Kenapa malam-malam begini datang bertamu? Mohon maaf, bukan kami tidak merasa terganggu. Tetapi, sungguh! Perasaan kami tak enak. Misalnya ... kedatangan Pak Ben ke sini karena masalah hutang, kami sudah siap harus pergi dari rumah ini. Kami siap.” Setitik air mata membasahi pipi Ibu Liana. Perkataan suaminya yang tegar membuat wanita itu sangat bersedih. “Kalian tidak perlu risau. Kedatangan saya ke sini bukan untuk menagih hutang. Tetapi, ingin menyampaikan kabar baik sekaligus kabar gembira,” ujar Pak Benjamin setenang mungkin. Kening Ibu Liana dan suaminya mengkerut. Mereka tampak tak mengerti. “Kabar baik sekaligus kabar gembira? Maksud, Pak Ben?” Pak Benjamin memandang sepasang suami istri itu bergantian. Kemudian, Pak Benjamin kembali berkata, “Hutang kalian pada perusahaan Ben Khaled sebentar lagi akan lunas. kalian pun masih boleh tinggal di rumah ini sampai kapanpun.” Kedua mata Pak Haris dan istrinya membeliak tak percaya mendengar yang disampaikan pak Benjamin Khaled. “Ke-kenapa bisa begitu? Si-siapa yang membayar hutang-hutang kami?” Suara m Ibu Liana terdengar bergetar. Wanita itu tak percaya jika dibalik kesedihannya hari ini karena Jasmine tiba-tiba menghilang, ada kabar baik yang disampaikan Pak Benjamin. “Orang yang melunasi hutang kalian adalah ....” Pak Benjamin menjeda kalimat. “... Jasmine.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD