“Apa? Jasmine?” Ibu Liana dan Pak Haris sangat terkejut. Tidak menyangka kalau anak semata wayangnya bisa membayar hutang-hutang mereka.
“Ma-maksud Pak Ben ... Jasmine putri kami?” Pak Haris ingin meyakinkan ucapan Pak Benjamin.
“Benar, Pak Haris. Jasmine Antonio. Pak dan Ibu Haris, tadi pagi putri kalian datang menemui saya. Dan dia, bersedia memenuhi satu syarat yang saya ajukan kepada kalian.”
Kedua mata pasangan suami istri itu seperti mau melompat. Sangat terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Pak Benjamin.
“Tidak mungkin! Jasmine tidak mungkin mau menikah muda! Apalagi dinikahi oleh pria yang berstatus duda! Usia Kevin juga jauh lebih tua dari pada Jasmine! Tidak hanya itu, Jasmine pasti tidak akan mau menikah dengan pria yang tidak ia cintai dan mencintainya! Saya tahu betul sifat anak say!” Setengah berteriak, Ibu Liana menyangkal perkataan lelaki yang duduk di sofa yang bersebrangan dengan mereka.
“Jadi, anak kami ada di rumahmu?” Pak Haris memastikan, mengabaikan kemarahan istrinya.
“Betul sekali, Pak Haris. Sejak pagi, Jasmine berada di rumah saya. Dia juga seharian ini berada di dalam kamar Kevin.”
“TIDAK!” teriak Ibu Liana tak percaya kalau anaknya mau satu kamar bersama lelaki yang baru dikenalnya.
“Tidak mungkin Jasmine satu kamar dengan anak Anda yang tempramen itu! Saya tahu betul sifat Jasmine! Dia selalu menjaga diri dengan baik! Anda jangan memfitnahnya!”
“Istri saya benar! Kami memang memiliki hutang yang sangat banyak. Tetapi, kami mohon, jangan memfitnah putri kami seharian satu kamar dengan putra Anda! Kami juga yakin, Jasmine tidak mungkin mau mengabulkan syarat gilamu, Pak Ben!”
Pak Haris meradang. Dadanya begitu nyeri. Meski dia tahu, Pak Benjamin bukanlah seorang pembohong, mengingat perkenalan mereka sudah terjalin cukup lama, tetapi kali ini ia berharap kalau semua yang dikatakan Pak Benjamin adalah bohong belaka.
“Mohon maaf, Pak Haris, Ibu Liana. Nyatanya Jasmine sudah memutuskan bersedia menikah dengan anak tunggal saya. Baiklah, kalau begitu saya pamit pulang. Pernikahan Jasmine dan Kevin akan dilangsungkan esok hari pukul dua siang. Saya harap kalian mau datang. Sekarang Jasmine ada di rumah saya. Permisi, selamat malam.”
Pak Benjamin beranjak, meninggalkan pasangan suami istri yang tak percaya kalau anak kesayangan mereka esok hari.
“Mas, bagaimana ini? Kita tidak mungkin membiarkan Jasmine dinikahi orang jahat seperti Kevin, Mas! Aku tidak mau kalau kehidupan rumah tangganya menderita, tidak bahagia! Aku tidak mau, Mas!” Ibu Liana histeris, membayangkan kehidupan rumah tangga yang dijalani anak semata wayangnya.
Semua orang di kota ini sudah tahu bagaimana perangai Kevin Khaled. Manusia yang sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat sejak Erika, istri pertamanya meninggal dunia. Kevin seolah membenci manusia, seolah benci dunia. Dia beranggapan kalau semesta tidak membiarkan dirinya bahagia dengan wanita yang dicintai.
“Tenang, Liana. Kamu harus tenang. Besok pagi masih ada waktu. Pagi-pagi sekali kita ke rumah Pak Ben. Aku ingin bertemu dengan Jasmine. Ingin mendengar sendiri, apa benar, Jasmine bersedia dinikahi Kevin tanpa paksaan?
***
Kevin tak bisa tidur nyenyak. Ia sangat gelisah. Keberadaan Jasmine di dalam kamarnya, membuat Kevin frustasi. Anak semata wayang Pak Benjamin berjalan menuju balkon kamar. Ia berdiri di sana, menatap bintang yang bertaburan.
Kevin kembali teringat sosok Erika. Wanita yang dicintai dan pernah dinikahinya. Erika, satu nama yang selama ini tak pernah hilang dalam memorinya. Satu nama yang telah mengubah kepribadian Kevin menjadi lebih buruk. Kevin perlu teman bicara. Ingin bercerita tentang masalah yang tengah dihadapinya.
Kevin bergegas keluar kamar. Namun, pintu kamar dikunci. Kevin menoleh, melihat Jasmine yang tertidur pulas.
‘Pasti pintu kamar itu dia kunci! Ck, dasar keras kepala!’
Kevin menghampiri Jasmine, mengambil kunci kamar dari saku piyama. Kemudian, berjalan cepat, Kevin menuju bagasi, menaiki kendaraan mewah yang telah lama tidak ia gunakan.
Saat ini, tujuan Kevin ingin bertemu seorang pria yang dahulu menjadi sahabat sekaligus asistennya. Dia adalah, Jimmy. Namun, sejak Kevin tidak bekerja lagi. Jimmy pun pindah kerja ke perusahaan lain.
Tanpa memberitahu Jimmy sebelumnya, Kevin tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu apartemen Jimmy. Beberapa kali ia menekan bel.
Jimmy yang baru saja memejamkan kedua mata, merasa sangat terganggu dengan suara bel. Matanya melirik jam dinding, sudah jam setengah dua belas malam.
‘Siapa yang malam-malam begini datang bertamu?’ sungut Jimmy kesal. Dengan terpaksa Jimmy berjalan ke arah pintu. Sebelum membuka pintu, ia mengintip. Jimmy sangat terkejut karena wajah yang dilihatnya sangat buruk. Ia sempat berpikir kalau yang menekan bel adalah hantu. Namun, sekali lagi Jimmy mengintip. Dia baru sadar, kalau orang yang berdiri di depan pintu apartemennya adalah Kevin Khole.
“Lama amat sih buka pintunya?” gerutu Kevin saat pintu terbuka lebar. Jimmy menghela napas berat melihat sikap sahabatnya yang berubah tempramental.
Kevin masuk ke dalam apartemen, duduk di sofa depan televisi.
“Ya maaf. Lagian kamu datang ke apart orang tengah malam begini. Ada apa, Vin? Kenapa tiba-tiba ke sini? Apa kamu baik-baik saja?” selidik Jimmy, mengambil segelas air mineral, menyodorkannya pada Kevin.
"Apa tidak ada bir?”
“Aku sudah lama tidak meminumnya. Bir merusak tubuhku, Vin!” tukas Jimmy santai. Duduk di samping sahabatnya. Dengan kasar, Kevin mengambil alih segelas air mineral, meneguknya hingga tandas.
“Kenapa kamu tidak meneleponku saja? Biar aku yang datang ke rumahmu.”
“Tidak usah. Di rumahku ada setan kecil.”
“Hah? Setan kecil?” Jimmy terkejut, menatap Kevin dari samping.
“Aku akan menikah besok dengan seorang gadis yang keras kepala.”
“Oh ya?” Jimmy kembali terkejut. Kevin menoleh, menatap nyalang sahabatnya.
“Njir, wajahmu sangat menyeramkan! Wajahmu kayak monster, Kevin Khaled!"
“Kamu menghinaku?” Kevin tidak terima.
“Fakta, Kevin! Jadi, sekarang ada gadis yang bersedia dinikahi olehmu?”
“Bukan aku yang bersedia menikahinya. Tetapi dia! Dia yang bersedia aku nikahi!”
“Sama saja, Kevin Khaled! Apakah wanita itu buta? Oh maksudku ... tidak dapat melihat?”
Pembicaraan seru. Sudah lama sekali Jimmy tidak mendengar seorang Kevin menceritakan wanita.
“Tidak! Dia bisa melihat.”
“Terus, kenapa dia mau dinikahi olehmu?”
“Sialan kamu, Jim! Kamu tidak percaya kalau ada gadis yang ingin aku nikahi?” Kevin memukul kepala Jimmy. Dia benar-benar tersinggung ucapan sahabatnya.
“Bukan begitu, Kevin Khaled. Aku hanya ... hanya aneh saja. Hm ... apakah dia cantik?”
“Iya,” jawab Kevin tanpa menatap sahabatnya. “Oh tidak. Dia tidak lebih cantik dari Erika.” Ralat Kevin tak ingin memuji gadis keras kepala macam Jasmine Antonio.
“Ayoklah, Vin ... lupakan Erika. Dia sudah tidak ada di dunia ini! Kembalilah beraktivitas! Lupakan Erika! Lupakan!”
Kedua tangan Kevin mengepal kuat. Mencengkram kuat kerah piyama Jimmy.
“Berani sekali kamu menyuruhku melupakan Erika! Aku tidak mungkin melupakan Erika, Jimmy Hernandes!”
Sorot mata Kevin mendadak berubah penuh benci. Jimmy berusaha melepaskan cekalan tangan Kevin dari kerahnya.
"Mungkin ini saat yang tepat bagimu untuk melupakan Erika. Vin, aku punya beberapa bukti tentang Erika menjelang hari pernikahanmu. Dulu sampai sekarang aku sengaja merahasiakannya karena kupikir, kau sudah mau menerima kepergiannya. Tetapi ternyata, benar kata orang-orang, kau semakin gila. Cintamu terlalu dibutakan oleh Erika! Sini kau! Ikut denganku! Aku akan menunjukan beberapa foto yang akan membuatmu melupakan atau mungkin membenci Erika selamanya!”