Jimmy menarik lengan Kevin menuju ruang kerja yang terletak di sudut kiri apartemennya. Ia lantas menyalakan laptop, menunjukkan salah satu folder. Kedua mata Kevin membeliak tak percaya melihat beberapa foto Erika bersama laki-laki lain.
"Foto-foto itu pasti editan. Kamu sengaja mengeditnya 'kan?" tuduh Kevin pada sahabatnya. Jimmy tersenyum miring, menggelengkan kepala.
"Eh, kamu pikir aku tidak punya kerjaan lain selain mengedit foto wanita mur*han itu?"
Sontak, kedua tangan Kevin mencengkram baju piyama yang dikenakan Jimmy.
"Jaga bicaramu, Jimmy! Erika bukan wanita mur*han!" Kevin memang selalu mengelak tiap kali Jimmy memberitahu tentang perselingkuhan Erika. Bahkan Kevin dan Jimmy sempat menjauh karena hasutan Erika. Menuduh Jimmy iri padanya, menuduh Jimmy menyukai Erika. Sungguh lucu!
Kedua tangan Kevin telah lepas dari baju Jimmy. Kevin menarik napas kasar, menjauh, dan duduk di sofa depan televisi.
"Oke! kalau begitu, aku akan menunjukkan satu bukti video Erika bersama lelaki lain di salah satu kamar hotel. Rekaman video yang dahulu tidak ingin kamu lihat sama sekali. Sekarang lihatlah, Kevin Khaled!"
Tanpa menunggu tanggapan Kevin, Jimmy memutar video tersebut dengan suara volume tinggi. Suara desahan yang sangat dikenali Kevin membuat lelaki itu menoleh cepat. Berjalan menghampiri Jimmy yang duduk santai di kursi kerjanya. Kevin langsung mematikan video itu, tidak ingin melihatnya sampai selesai.
"Keterlaluan kamu, Jimmy!"
"Siapa yang keterlaluan, Kevin Khaled? Kamu yang terlalu buta mencintai wanita yang salah! Bersyukurlah saat ini dia sudah mati!"
"Kurang ajar!"
"Kenapa? kamu mau memukulku? Sudahi perasaan dan sedihmu, Kevin! Kamu hanya menghabiskan waktu dengan percuma, menangisi wanita murah*n macam dia! Dari dulu, sering kali aku menunjukkan bahwa dia bukanlah wanita baik-baik. Tetapi kamu? Memang benar, love is blind!" gertak Jimmy kesal pada sahabatnya yang terlalu cinta pada Erika. Kalau wanita itu adalah wanita yang baik-baik, Jimmy tentu mendukungnya. Aneh memang. Kedua mata Kevin seolah tertutup rapat oleh cintanya pada Erika.
Kevin meninggalkan Jimmy, ia masuk ke salah satu kamar yang biasa ditempati saat Kevin saat menginap di apartemen Jimmy. Di dalam kamar, Kevin meluapkan amarahnya. Berteriak histeris. Beruntung, kamar itu kedap suara. Meskipun Kevin berteriak kencang, tidak akan terdengar oleh orang lain. Kevin menjambak rambut, duduk di sisi ranjang, menangis tersedu-sedu.
Sementara itu, Jimmy langsung menghubungi Pak Benjamin Khaled. Dia yakin, kepergian Kevin dari rumah tidak diketahui lelaki yang sangat disegani di kota ini.
Pak Benjamin duduk santai di ruang keluarga. Acara televisi menjadi teman baiknya tiap malam. Bibir lelaki tua itu tak henti menyunggingkan senyum. Hati Pak Benjamin sangat bahagia karena pada akhirnya Kevin bersedia menikahi Jasmine. Pak Benjamin pun tidak sabar ingin mendengar suara tangisan dan gelak tawa dari anak-anak yang akan lahir dari rahim Jasmine. Pak Benjamin akan memberi saran pada Kevin dan Jasmine agar memiliki anak dua, tiga atau empat. Lebih banyak anak, lebih bagus. Jika Kevin telah kembali lagi bekerja di perusahaan, Pak Benjamin akan berhenti kerja. Dia akan menghabiskan hari-hari bersama cucu-cucunya. Sungguh, masa tua yang sangat menyenangkan.
Suara dering handphone milik Pak Benjamin membuyarkan khayalannya. Lelaki itu mengerutkan kening ketika melihat nama kontak yang meneleponnya tengah malam.
"Selamat malam, Pak Ben." Suara di seberang terdengar saat Pak Benjamin menggeser simbol gagang telepon hijau.
"Ada apa, Jimmy?"
"Mohon maaf, tengah malam saya mengganggu. Saya hanya ingin memberitahu jika Kevin saat ini ada di apartemen saya."
"Apa?" Pak Benjamin terlonjak. Dia berdiri, mengitari sekeliling. Dalam benak, kapan Kevin keluar rumah? Sedari tadi dia duduk di ruang keluarga, tidak mendengar suara orang yang berjalan atau membuka pintu. Apakah Kevin keluar rumah saat Pak Benjamin tengah melamun hingga ia tak menyadari anak tunggalnya pergi dari rumah?
"Sekarang kamu antar dia pulang malam ini juga Jimmy! Besok Kevin akan melangsungkan pernikahan!" titah Pak Benjamin tegas. Tidak mau kalau pernikahan Kevin gagal.
"Jadi benar, besok dia akan menikah?"
"Benar, Jimmy! Cepatlah, antar dia pulang malam ini juga!"
"Baik, Pak!"
Jimmy segera mengganti pakaian. Ia harus bergegas mengajak Kevin pulang. Jimmy pikir, tidak ada wanita yang mau dinikahi Kevin. Mengingat, hampir seantero kota ini tahu bagaimana perangai dan fisik Kevin. Dulu, memang banyak wanita yang menginginkannya tetapi sejak wajah Kevin terbakar dan perangainya yang berubah tempramental, tak satu pun wanita yang bersedia dinikahi lelaki bernama lengkap Kevin Khaled.
Jimmy mengetuk pintu kamar yang di dalamnya terdapat anak tunggal Pak Benjamin seraya memanggil namanya. Namun, tak ada jawaban. Jimmy membuka pintu, rupanya tidak dikunci.
Terlihat Kevin berdiri membelakangi. Lelaki itu berdiri menghadap jendela kamar.
"Pak Kevin Khaled," panggil Jimmy secara formal. Kevin bergeming. Jimmy menarik napas panjang, berjalan menghampiri, berdiri di sampingnya.
"Astaga, kamu nangis?" tanya Jimmy, memerhatikan kedua mata Kevin yang sembab.
"Tidak."
"Tidak salah," tambah Jimmy. Memandang lurus ke depan. Sesaat, tidak ada yang bicara diantara keduanya.
"Vin, kamu harus pulang malam ini. Besok hari pernikahanmu," ucap Jimmy, berusaha membujuk sahabatnya.
"Apakah gadis itu akan berselingkuh seperti Erika?" Suara Kevin terdengar parau. Kening Jimmy mengkerut, mendengar pertanyaan Kevin.
"Memangnya kamu sudah jatuh cinta padanya? Kalau kamu tidak cinta dia, gak usah kamu pikirkan nantinya dia akan berselingkuh atau tidak!"
Kevin menghela napas. Raut wajahnya berubah masam.
"Memangnya aku tak pantas dicintai lagi?" Kevin kembali bertanya.
"Memangnya kamu bisa mencintai gadis itu?" Sontak, Kevin menoleh, menatap nyalang lelaki yang bersikap tenang.
"Kamu ini kenapa? Bukannya menjawab pertanyaanku, justru balik bertanya?" Suara Kevin meninggi. Jimmy menarik napas panjang.
"Kalau kamu bisa mencintai gadis itu, mungkin ... gadis itu pun mencintaimu."
"Aku rasa tidak!" Kevin membuang muka ke arah lain.
"Omong-omong, aku penasaran dengan gadis yang mau kau nikahi?"
"Bukan aku yang mau menikahinya! Tetapi, dia yang ingin aku nikahi!"
"Sama saja, Vin!"
"Beda!"
"Astaga! Terserah kamu ajalah! Sekarang kamu harus pulang! Pak Benjamin pasti mengkhawatirkanmu!"
"Aku bukan anak kecil yang selalu dikhawatirkannya!" tukas Kevin berjalan keluar kamar lebih dulu. Dengan cepat, Jimmy berusaha mensejajari langkah Kevin.
Tiba di kediaman Pak Benjamin, Kevin dan Jimmy masuk ke dalam rumah berbarengan.
"Om Kevin! itu Om Kevin!" pekik Jasmine saat melihat kedatangan Kevin dan Jimmy di ruang keluarga. Pak Benjamin berdiri, menghampiri Kevin dan Jimmy. Begitu pula Jasmine, dia pun mendekati calon suaminya.
"Aku pikir Om akan lari dari tanggung jawab!" seloroh Jasmine, berdiri di depan Kevin.
Jimmy tak menyangka bertemu langsung dengan gadis yang selama ini difotonya secara diam-diam.
"Jasmine Barbie," desis Jimmy tak sadar.
"Apa? Kamu bilang apa barusan? Jasmine apa katamu? Kamu mengenalnya?" Kevin yang berdiri lebih dekat dengan Jimmy, samar-samar mendengar gumaman sahabatnya. Dia langsung melontarkan beberapa pertanyaan.
Jimmy tergagap, menyadari ucapannya yang mencelos begitu saja.
"Ti-tidak. Sa-saya tidak mengenalnya." Debaran jantung Jimmy semakin tak menentu. Hampir satu tahun, Jimmy diam-diam memotret keseharian gadis yang disebutnya Jasmine Barbie.
"Kevin, Jasmine sangat mencemaskanmu. Kenapa kamu pergi tidak memberitahunya dulu?" ujar Pak Benjamin.
Ternyata gadis yang disebut setan kecil itu adalah Jasmine Antonio. Sungguh keterlaluan sekali Kevin. Tetapi, apa yang menyebabkan Jasmine bersedia dinikahi lelaki yang buruk rupa dan buruk perilaku seperti Kevin Khaled? Apa mungkin karena harta? Oh sepertinya karena itu. Hati Jimmy terus saja berbicara sendiri.
"Aku ingin memberitahunya tetapi dia tidurnya sangat nyenyak!" kilah Kevin, membuang muka ke arah lain.
"Om pasti berbohong! Aku tidak merasa kalau Om membangunkanku!" Tentu saja Jasmine tidak terima.
"Sudah, jangan dibahas lagi. Jasmine, Kevin, sebaiknya kalian istirahat. Papa ingin, pernikahan kalian berlangsung dengan baik. Tidak ada halangan apapun."
"Baik, Pak. Ayok, kita masuk ke kamar!" Jasmine memegang lengan Kevin, namun dengan kasar dihempaskan. Jimmy tak menyangka kalau Jasmine sangat agresif.
"Aku tidak mau satu kamar denganmu! Malam ini aku tidur bersama Jimmy!" kata Kevin lantang, melotot ke arah Jasmine.
"Hah? Om lebih memilih tidur ... tidur sama dia?"