"Om ... Om lebih memilih satu kamar dengan sesama lelaki dari pada sama aku?" Jasmine kembali bertanya, menunjuk diri sendiri, suaranya terdengar bergetar. Dia sampai menelan air liur, membayangkan Jimmy dan Kevin tidur bersama. Pak Benjamin menahan tawa, melihat Jasmine yang tampak keheranan.
"Nona, jangan salah paham. Saya sekamar dengannya, hanya memastikan dia tidak kabur lagi. Saya akan menjaganya." Jimmy berusaha meluruskan pikiran Jasmine.
"Ooh ... Oh begitu. Oke!" Mulut Jasmine membentuk huruf O. Kevin menggelengkan kepala, menarik tangan Jimmy agar segera masuk ke kamarnya.
"Hei, tunggu!" Cegah Jasmine lagi. Tetapi, dua lelaki itu melesat pergi, masuk kamar yang sama.
"Jasmine, kamu tenang saja. Jimmy dan Kevin sudah bersahabat sejak lama. Mungkin karena kedekatan mereka itulah, ada beberapa orang yang berpikiran kalau Kevin penyuka sesama jenis. Tetapi, aku bisa pastikan kalau Kevin lelaki normal." Tuan Benjamin memberi penjelasan agar Jasmine bersikap tenang. Gadis belasan tahun itu mengangguk.
"Oh begitu, ya? Oke deh!"
"Sekarang kamu pilih saja kamar yang ada di rumah ini. Terserah kamu, mau istirahat di kamar yang mana."
"Baik, Pak Ben. Aku mau di kamar itu saja." Jasmine menunjuk kamar yang dekat dengan ruang keluarga. Pak Benjamin mengangguk seraya tersenyum.
"Sekarang lebih baik kamu istirahat."
"Baik, Pak Ben."
"Jasmine sebentar!"
"Iya."
"Jangan panggil aku Pak Ben lagi. Panggil saja 'Papa."
"Papa?" Jasmine mengerjapkan kedua mata. Bibirnya tersenyum bahagia.
"Iya. Besok kan kamu akan menjadi menantu Papa." Jasmine tersenyum manis dan mengangguk.
"Iya, Pa. Terima kasih."
"Sama-sama."
Jasmine berlalu, masuk ke dalam kamar. Sebenarnya Pak Benjamin ingin bercerita tentang pertemuannya dengan kedua orang tua Jasmine, tetapi melihat waktu sudah menunjukkan jam dua pagi, rasanya tidak mungkin. Kasihan Jasmine, dia harus istirahat karena besok akan melangsungkan pernikahan dengan anak kandungnya. Pak Benjamin pun memutuskan untuk beristirahat.
***
"Jimmy, kamu sekarang jujur padaku! Sebenarnya kamu sudah mengenal gadis itu 'kan?" selidik Kevin saat berada di dalam kamarnya. Jimmy duduk disofa, pandangannya lurus ke depan. Sungguh, sedikit pun Jimmy tidak menyangka jika gadis yang ingin dinikahi Kevin adalah Jasmine. Sedikit banyak Jimmy mengetahui sifat Jasmine. Lelaki itu diam-diam mencari tahu tentang Jasmine, tentang keseharian anak tunggal Pak Haris Antonio.
"Kamu benar, Vin. Aku memang mengenalnya. Tetapi, dia tidak mengenalku." Jimmy mengeluarkan sebungkus rokok, memantik dan menghisapnya. Kevin duduk di sebelah sahabatnya, menatap lekat wajah Jimmy dari samping.
"Kamu menyukainya?" Kedua mata Kevin memicing seolah mencari kejujuran dari sahabatnya.
"Siapa yang tidak suka dengan gadis secantik dia? Kamu tahu, Vin? Di kampusnya dia menjadi mahasiswa populer. Tetapi, dia tidak mempunyai kekasih. Dia memiliki prinsip, hanya ingin berteman dengan semua orang. Jasmine tidak ingin menghabiskan waktu memikirkan cinta atau berpacaran. Katanya begitu."
Kevin mencibir ucapan Jimmy. Ia teringat kembali, bagaimana sikap Jasmine yang memaksa ingin dinikahi olehnya.
"Kamu tertipu, Jimmy Hernandes! Dia tidak selugu dan sepolos yang kamu kira! Seharian ini, tanpa menyerah memaksaku agar bersedia menikahinya! Padahal aku melakukan berbagai cara untuk mengusirnya dari kamar ini!"
Jimmy mengubah posisi duduk, lebih menghadap Kevin yang wajahnya sangat menyeramkan jika baru melihat.
"Segala cara? Kamu apakan dia? Kamu menyiksanya?" Tiba-tiba saja, Jimmy teringat leher Jasmine yang seperti ada bekas telapak tangan. Begitu pula, wajah Jasmine yang lebam. Kevin tak langsung menjawab. Sikapnya berubah gusar.
"Astaga, kamu mencekik lehernya? kamu menamparnya?" tanya Jimmy, wajahnya berubah tegang. Seolah mencemaskan Jasmine.
"Tetapi, dia masih hidup 'kan? Bolehlah, dia memang ... gadis yang pantang menyerah. Kalau begitu, keputusanku untuk menikahinya tidak salah. Paling tidak, dia akan menjadi pelampiasan kemarahankuu nanti. Hahahaha." Sorot mata Kevin penuh kebencian. Jimmy menelan air liur, membayangkan penyiksaan yang akan diterima dari sahabatnya.
"Kamu jangan gila, Vin! Kamu mau menjadi pembunuh? Aku bisa pastikan, dia gadis yang baik!" ujar Jimmy menjentikkan abu rokok ke atas asbak.
Kevin menggelengkan kepala, tersenyum sinis.
"Tampaknya kamu menganggumi dia?"
"Hah? Tidak. Aku hanya ... hanya kasihan saja. Memangnya alasan Jasmine ingin kamu nikahi apa?" Jimmy tidak percaya kalau gadis secerdas Jasmine mau dinikahi lelaki kasar seperti Kevin. Pasti ada hal yang membuat Jasmine bersedia dinikahi sahabatnya itu.
"Memang dia punya beberapa alasan ingin aku nikahi." Kevin menjeda kalimat, membiarkan Jimmy penasaran.
"Alasan apa?"
Kevin mengubah posisi duduk, lebih santai dari sebelumnya.
"Besok saja. Sekarang aku mengantuk! Aku mau tidur! Besok, bangunkan aku. Aku sangat penasaran dengan ucapannya kalau dia masih perawan."
Kedua mata Jimmy melebar. Sedangkan Kevin, tersenyum merekah.
"Jadi, kamu mau menikahinya karena dia bilang masih perawan?"
"Iya! Kamu tahu sendiri kan? Selama ini, aku belum pernah merasakan bercinta dengan seorang perawan! Ya sudah, aku tidur! Kamu tidur di sofa seperti biasa. Oke? Night, Jim!"
Sebenarnya Kevin menaruh curiga kalau Jimmy sebenarnya menyukai Jasmine. Tetapi, Kevin juga tahu kalau Jimmy tidak mungkin merebut Jasmine darinya. Dia tahu betul bagaimana sikap Jimmy.
Semalaman Jimmy tidak bisa tidur. Entah mengapa, ia justru memikirkan kehidupan Jasmine setelah dinikahi Kevin. Apakah Jasmine akan bahagia atau menderita? Jimmy akui, dia memang menyukai Jasmine. Namun, Jimmy pun sadar diri, tidak mungkin dirinya merebut Jasmine dari Kevin. Biar bagaimana pun, sebentar lagi Jasmine akan menjadi istri Kevin.
Pukul enam pagi, Jimmy memutuskan keluar kamar. Membiarkan Kevin tertidur pulas.
Jimmy berjalan menuju halaman belakang. Dia ingin menyendiri. Namun, pada saat Jimmy melewati kamar Jasmine, gadis itu tiba-tiba membuka pintu.
"Nona?"
"Hei, kamu ... kamu sudah bangun?"
"Iya."
"Apa Om Kevin sudah bangun?"
"Belum, Nona." d**a Jimmy terasa sesak mendengar pertanyaan Jasmine. Gadis itu memang baru mengenalnya tetapi Jimmy? sudah cukup lama.
"Kenapa kamu tidak bangunkan dia? Hari ini pernikahan kami. Aku harus membangunkannya!"
"Jangan, Nona!" Jimmy mencegah langkah kaki Jasmine. Dahi Jasmine mengerut. Mereka berdiri cukup dekat. Dengan jarak dekat, luka pada wajah dan leher Jasmine semakin jelas terlihat.
"Kenapa?"
"Nanti kamu ... kamu akan disiksanya lagi?"
Jasmine tersentak. Sebelah tangannya langsung memegang leher. Sungguh keterlaluan Kevin. Gadis mungil seperti Jasmine tega disakiti. Membayangkan penderitaan Jasmine, Jimmy memejamkan kedua mata.
"Apakah dia bercerita padamu?" selidik Jasmine, menatap lekat Jimmy yang merunduk.
"Iya. Nona, biar saya yang membangunkannya. Sekarang, Nona sarapan saja. Mungkin sebentar lagi, akan banyak orang-orang yang datang."
Jasmine mengangguk, membalikkan badan. Kedua tangan Jimmy mengepal kuat, membayangkan perlakuan Kevin pada Jasmine. Gadis yang selama ini dikaguminya.
Jimmy mengurungkan niatnya ke taman belakang. Ia justru membalikkan badan, berjalan menuju kamar Kevin.
"Vin! Kevin bangun! Kevin! Bangun! Hari ini, hari pernikahanmu. Aku mohon bangunlah!"
Kevin tampak tak peduli. Dia sama sekali tak bergerak apalagi merespon ucapan Jimmy.
"Kevin, bangunlah! Jasmine sudah mengenakan gaun pengantin! Pak Kevin Khaled, bangunlah!"
Kevin menggeliat, merentangkan kedua tangan, menguap. Pandangannya langsung tertuju pada jam dinding.
"Astaga, Jim! Masih sangat pagi. Baru jam enam! Pernikahanku dilangsungkan jam dua siang nanti!" cetus Kevin kesal, kembali menarik selimut. Jimmy menarik napas panjang. Berusaha menyingkirkan selimut dari tubuh anak tunggal Pak Benjamin Khole. Namun, Kevin justru tak peduli. Ia tetap memejamkan kedua mata. Tiba-tiba saja Jimmy terlonjak kaget saat terdengar seseorang memanggil nama Kevin.
"Kevin! Di mana kamu? B*jingan!"
Pintu kamar Kevin terbuka lebar. Terlihat kedua orang tua Jasmine datang. Wajahnya dipenuhi amarah. Lalu, pandangannya tertuju pada Kevin yang masih berbaring.
"Kevin! Bangun kamu! Kep*rat! Beraninya menyiksa anakku! Bangun kamu! Bugh!"