Pak Haris menarik baju yang dikenakan Kevin. Anak tunggal Pak Benjamin terkejut bukan main melihat kebrutalan Papa kandung Jasmine. Pukulan bertubi-tubi dilayangkan pada tubuh Kevin. Lelaki itu tak dapat mengelak. Kedua matanya masih mengantuk. Jimmy dan Jasmine berusaha melerai keduanya.
"Papa, sudah, Pa ... sudah, Pa ...." teriak Jasmine, berusaha keras melepaskan tangan Pak Haris dari leher Kevin.
Sementara itu, di dekat pintu kamar, Ibu Liana menangis histeris.
"Nona, menyingkirlah! Biar saya saja yang melerai mereka," ucap Jimmy, memberi isyarat pada Jasmine agar menjauh dari keduanya. Jasmine menurut, ia mendekati Mamanya. Ibu dan anak itu saling merangkul.
"Lelaki brengs*k! Berani sekali kamu menyiksa anak gadisku! kurang ajar!"
Pukulan keras mengenai hidung Kevin hingga mengeluarkan darah. Kevin jatuh terjerembab di atas lantai. Jimmy menarik tubuh Pak Haris agar menjauh dari Kevin.
"Pak, sudah, Pak ... tenang dulu. Saya mohon, Pak!" ucap Jimmy pada Pak Haris. Papa kandung Jasmine napasnya memburu akibat kemarahan yang tidak dibendung.
Seorang ayah yang melihat anaknya disakiti oleh pria lain, pasti sangat marah. Apalagi Pak Haris yang selama ini tidak pernah melukai fisik Jasmine. Tetapi, Kevin? Lelaki itu sangat kurang ajar. Telah bersikap kasar pada putri semata wayangnya.
"Kamu menyuruhku tenang? Hei, aku ini seorang ayah! Tidak mungkin aku bisa tenang ketika ada lelaki brengs*k sepertinya telah menyakiti anakku! Anakku telah disakiti olehnya! Memangnya dia siapa berani melukai Jasmine? Kakaknya? Suaminya? Bukan! Kamu lelaki buruk rupa yang memiliki sikap buruk pula! Cuih!"
Sangat murka, Pak Haris berbicara. Segala caci maki ia lontarkan pada Kevin. Jimmy membantu sahabatnya berdiri. Kevin menyeka darah yang mengucur dari hidungnya.
"Ada apa ini? Ada apa?"
Kedua tangan Pak Haris mengepal kuat, mendengar suara Pak Benjamin di belakangnya.
"Pak Haris, apa yang Anda lakukan terhadap anak saya?" tanya Pak Benjamin, menghampiri Kevin yang berusaha menghentikan darahnya menggunakan tissue.
"Harusnya aku yang bertanya, Apa yang anak Anda lakukan terhadap anak saya? Apa kedua matamu sudah mulai rabun, Pak Ben? sehingga tidak dapat melihat luka lebam pada wajah anakku? Apa nuranimu sudah mati, membiarkan seorang gadis belia disiksa begitu sadis oleh anakmu? Kalian semua ... akan aku penjarakan! Ayok, Jasmine! Kita lakukan pemeriksaan visum!" Pak Haris mencekal pergelangan tangan Jasmine. Namun, gadis itu bergeming, menggelengkan kepala.
"Tidak, Papa ... aku tidak mau pergi dari sini. Aku ... akan menikah dengan dia?"
Kedua mata orang tua Jasmine membeliak tak percaya mendengar ucapan anak kesayangannya.
"Ka-kamu sudah tidak waras, Jasmine? Lihat wajahmu ... wajahmu penuh lebam! Apa kamu mau menikah dengan monster itu?" Jari telunjuk Pak Haris mengarah pada Kevin. Amarahnya belum juga reda. Jika tidak dihalangi Jimmy, mungkin Pak.Haris akan membunuh Kevin.
"Pa, Ma, hanya dengan cara dinikahi dia, hutang-hutang Papa lunas. Aku tidak mau, masa tua Papa penuh penderitaan. Hidup serba kekurangan. Aku tidak mau ...." Air mata Jasmine mengalir, membasahi kedua pipinya.
"Anakku, kami tidak masalah hidup miskin! Terpenting bagi kami, kebahagiaanmu. Jasmine, ayok kita pulang! Mama dan Papa tidak akan menyerahkanmu pada mereka. Tidak akan!" Kedua tangan Jasmine digenggam erat Ibu Liana. Berharap Jasmine mau pulang bersamanya dan meninggalkan istana yang bagai neraka.
"Tidak, Ma ... aku tidak mau ... Mama, Papa, tidak perlu khawatir. Tuan Kevin sebenarnya orang yang baik. Dia pun tidak sengaja memukulku, Ma, Pa."
Seketika, hati Kevin sangat tersentuh mendengar pembelaan Jasmine terhadapnya. Gadis yang kemarin diperlakukan kasar olehnya, kini justru membela. Tidak hanya Kevin, Pak Benjamin dan Jimmy pun merasa terenyuh akan ucapan Jasmine. Jimmy tersenyum getir, sungguh beruntung Kevin jika berhasil menikahi gadis sebaik Jasmine.
"Kamu bilang tidak sengaja? Jasmine, apa kamu sudah ... astaga, apa kamu sudah mencintainya? Kamu mencintai pria buruk rupa sepertinya, Jasmine?" Ibu Liana menatap lekat kedua bola mata anak semata wayangnya. Tidak dapat dipercaya jika Jasmine memang benar-benar mencintai Kevin.
"Sebaiknya kalian paksa dia saja pergi dari sini! Asal kalian tahu, sejak kemarin aku sudah mengusirnya dari sini! Tetapi, anak kalian itu, sangat mur*han. Mengemis-ngemis ingin aku nikahi! Hahahahaah ...."
Kedua mata Pak Benjamin melotot. Ucapan Kevin kali ini sangat keterlaluan. Kemudian, tanpa diduga, Pak Benjamin menampar pipi kiri Kevin sangat keras. Semua orang yang melihatnya terkejut.
"Kamu tak punya hati, Kevin Khaled! Dosa apa yang telah aku lakukan, sehingga memiliki anak yang tidak beradab sepertimu?"
Jimmy berdiri diantara Pak Benjamin dan putra tunggalnya. Darah segar keluar dari sudut bibir Kevin.
"Faktanya memang begitu, Pa! Gadis itu yang datang ke kamarku. Memaksaku agar mau menikahinya dengan dalih, agar hutang-hutang papanya lunas! Memangnya aku salah jika menganggap dia wanita mur*han?"
Air mata Jasmine membasahi kedua pipinya. Dia benar-benar sakit hati. Kevin begitu tega menghinanya di depan Pak Haris dan Ibu Liana. Seolah Kevin memang sengaja menyakiti kedua orang tua Jasmine.
"Jaga bicaramu, brengs*k!" Pak Haris kembali mendekati Kevin. Namun, lagi-lagi Jimmy menghalangi pergerakan Papa kandung Jasmine. Pak Benjamin bergeming, ia membiarkan Pak Haris memukul anak semata wayangnya. Bahkan, kali ini Jimmy membiatkan Pak Haris memukul sahabatnya.
"Sudah cukup!" Teriakan Jasmine menghentikan gerakan Pak Haris. Semua mata tertuju pada gadis yang wajahnya sudah basah oleh air mata. Hati Jimmy sungguh tidak tega melihat gadis yang selama ini dikaguminya berderai air mata. Jika bukan karena Kevin, ingin rasanya Jimmy memeluk gadis itu.
"Apa kalian tidak lelah ribut-ribut begini? Pa, Ma, aku sangat berterima kasih kalian sungguh menyayangiku. Aku sayang kalian, sangat sayang. Oleh karenanya, aku bersedia dinikahi dia agar kalian bisa hidup bahagia. Percaya padaku, aku akan baik-baik saja jika sudah menikah dengannya. Aku bisa pastikan, Ma, Pa ...."
Jasmine memang sangat keras kepala. Keputusannya sejak awal tidak berubah sedikit pun. Ia semakin menantang kekurang ajaran Kevin. Meski dirinya sudah siksa, dihina dan dicaci, tetapi Jasmine tetaplah Jasmine. Gadis keras kepala yang pantang menyerah dan mengubah keputusan.
"Tidak, Nak ... Mama dan Papa tidak akan membiarkanmu dinikahi pria itu. Tidak akan!" Ibu Liana agak membungkuk, kedua tangan memegang bahu Jasmine. Begitu pula, Pak Haris. Lelaki itu menggelengkan kepala, tidak setuju jika Jasmine dinikahi pria buruk rupa bernama Kevin Khaled. Pak Benjamin pun tidak dapat berkata apa-apa. Tidak dapat dipungkiri kalau hatinya masih menginginkan pernikahan Jasmine dan Kevin. Mungkin jika calon istrinya bukan Jasmine, pak Benjamin tidak akan terlalu ingin Kevin menikah. Tetapi, dia pun butuh penerus keluarga Khaled dari seorang wanita yang baik dan cerdas seperti Jasmine Antonio.
"Mama, aku baik-baik saja. Tolong ... restui pernikahan kami. Ma, Pa, aku akan buktikan, kalau aku ... Jasmine Antonio akan membuat dia ...." Jari telunjuk Jasmine mengarah pada Kevin yang berdiri di samping Jimmy.
"... membuat dia menjadi manusia yang lebih baik. Suatu saat, aku dan Om Kevin akan saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. Percayalah, Ma, Pa ...."