Di tengah kekacauan di dalam gudang, para penjaga sibuk saling mencurigai. Beberapa dari mereka mulai berdebat, sementara yang lain berusaha menghubungi atasan mereka. Tapi semuanya sudah diatur—komunikasi mereka telah diblokir oleh sistem yang Rena masukkan ke dalam jaringan mereka beberapa jam sebelumnya.
Dari kejauhan, Arma, Dirga, dan Gilang sudah bersiap dengan senjata mereka.
“Ini saatnya,” ujar Arma pelan.
Dirga mengangguk. “Kita masuk dengan cepat. Prioritas utama adalah mengeluarkan para korban sebelum baku tembak terjadi.”
Gilang menekan tombol di alat kecil di tangannya. Seketika, sebuah ledakan kecil terjadi di sisi lain gudang, membuat semua orang di dalam panik.
Adrian dan Raka segera turun dari posisi mereka di atas gedung dan bergerak menuju pintu belakang. Dengan sekali tendangan, Adrian membuka pintu itu dan langsung menembak dua penjaga yang berjaga.
Mereka masuk dengan cepat. Beberapa korban perdagangan manusia yang dikurung di dalam sel besi menoleh dengan wajah ketakutan.
“Jangan takut, kami di sini untuk menyelamatkan kalian,” ujar Raka sambil mulai membobol kunci sel.
Di luar, Arma dan timnya mulai menembak para penjaga yang tersisa. Ledakan dan baku tembak semakin membuat situasi kacau.
Rena, yang masih di lokasi aman dengan laptopnya, berbicara melalui radio. “Kalian punya waktu kurang dari lima menit sebelum bala bantuan mereka datang. Cepat!”
Adrian menarik salah satu korban, seorang gadis muda yang tampak ketakutan. “Ayo keluar. Ikuti kami!”
Satu per satu, para korban mulai berlari keluar dari gudang, dibantu oleh tim Mr. Midnight.
Namun saat mereka hampir mencapai pintu keluar, salah satu penjaga yang tersisa berusaha menembak ke arah mereka.
Dor!
Tembakan meleset tipis dari kepala Adrian.
Sebelum pria itu bisa menembak lagi, sebuah peluru menembus kepalanya dari kejauhan.
Adrian menoleh dan melihat Raka menurunkan senapannya. “Jangan terlalu santai, bro.”
Adrian hanya menyeringai dan melanjutkan misinya.
Akhirnya, semua korban berhasil keluar. Tim Mr. Midnight pun segera mundur sebelum tempat itu dikepung oleh pasukan Mr. X.
Saat mereka berada di dalam kendaraan yang melaju menjauh, Arma menoleh ke Adrian. “Ini baru awal. Mr. X pasti tidak akan tinggal diam.”
Adrian mengepalkan tangan. “Bagus. Aku juga belum selesai dengannya.”
Di kejauhan, sirene polisi mulai terdengar. Gudang itu terbakar, dan organisasi Mr. X baru saja kehilangan salah satu aset terbesarnya.
Tapi pertempuran belum selesai.
...
Kendaraan yang ditumpangi tim Mr. Midnight melaju kencang menembus jalanan Bangkok yang mulai ramai. Lampu-lampu kota berkedip-kedip, menciptakan bayangan di wajah Adrian yang masih fokus menatap jalan.
Di kursi belakang, Raka sibuk mengecek senjatanya sementara Rena duduk di sebelahnya, masih menatap layar laptopnya.
“Kita berhasil mengeluarkan mereka, tapi ini belum selesai,” ujar Rena tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. “Aku baru saja memonitor pergerakan jaringan Mr. X. Mereka mulai panik. Beberapa lokasi lain sedang diperketat keamanannya.”
Arma, yang duduk di kursi depan, menoleh ke belakang. “Artinya, mereka tahu kita sedang memburu mereka.”
Dirga, yang menyetir, menyeringai. “Bagus. Itu artinya mereka juga ketakutan.”
Gilang, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. “Tapi kita masih belum tahu di mana Mr. X berada. Kita baru menghancurkan satu bagian kecil dari bisnisnya. Dia pasti sudah menyiapkan rencana balasan.”
Adrian mengepalkan tangannya. “Kalau begitu, kita harus menemukan dia sebelum dia menemukan kita.”
Rena mengetik cepat di laptopnya, kemudian tersenyum tipis. “Aku mungkin punya petunjuk.”
Semua mata tertuju padanya.
“Ada satu transaksi besar yang akan terjadi besok malam di Bangkok. Aku baru saja meretas jaringan komunikasi mereka dan menemukan daftar nama orang-orang penting yang akan hadir.”
Raka menyandarkan punggungnya. “Dan biarkan aku tebak… salah satunya adalah Mr. X?”
Rena mengangguk. “Tidak langsung. Tapi salah satu orang kepercayaannya, seorang pria bernama Thanapat Suriyawan, akan ada di sana.”
Adrian mengingat nama itu. Thanapat adalah salah satu tangan kanan Mr. X yang sering menangani transaksi besar untuknya.
“Kalau kita bisa menangkapnya, kita bisa memaksa dia berbicara,” kata Adrian.
Arma berpikir sejenak, lalu berkata, “Kalau begitu, kita harus menyusun rencana. Kita tidak bisa masuk begitu saja dan berharap semuanya berjalan lancar.”
Gilang tersenyum. “Tenang saja. Kita sudah sering melakukan hal semacam ini.”
Dirga menginjak pedal gas lebih dalam, mempercepat laju mobil. “Baiklah, ayo kita habisi mereka.”
Di kejauhan, lampu-lampu Bangkok terus berkelap-kelip, menyembunyikan kegelapan yang masih mengintai di baliknya.
...
Malam di Bangkok terasa lebih mencekam dari biasanya. Lampu-lampu neon di pusat kota berpendar, memantulkan cahaya ke jalanan basah setelah hujan sore tadi. Di salah satu gedung tinggi yang menjadi tempat transaksi ilegal, Thanapat Suriyawan baru saja tiba, dikawal oleh beberapa pria bersenjata.
Sementara itu, di gedung yang berseberangan, tim Mr. Midnight sudah bersiap.
“Kita punya waktu sempit sebelum transaksi dimulai,” bisik Rena sambil memasang alat penyadap ke headset-nya. “Thanapat sudah masuk.”
Adrian mengamati gedung itu melalui teropongnya. “Keamanannya ketat. Setidaknya ada dua belas orang bersenjata.”
Arma berdiri di sampingnya, menilai situasi. “Kita masuk dengan dua tim. Aku, Raka, dan Dirga akan masuk dari lantai bawah, pura-pura jadi pembeli. Adrian dan Gilang, kalian masuk dari atap.”
Gilang tersenyum tipis. “Seperti dulu lagi.”
Rena menyela, “Aku akan tetap di mobil dan memantau pergerakan mereka. Kalau ada perubahan situasi, aku akan kasih tahu.”
Adrian mengangguk. “Baik. Mari kita selesaikan ini.”
PENYUSUPAN DIMULAI
Arma, Raka, dan Dirga berjalan ke arah pintu masuk gedung, berpakaian seperti pebisnis kelas atas. Mereka menunjukkan undangan palsu yang sudah disiapkan oleh Rena.
Di atap, Adrian dan Gilang mulai bergerak, meluncur dengan tali ke balkon lantai atas. Dengan cepat, mereka merobohkan dua penjaga yang berjaga di sana.
Di dalam gedung, Thanapat sedang duduk di meja pertemuan, berbicara dengan seorang pria berkacamata yang tampak seperti perwakilan kartel lain. Di sekeliling mereka, koper-koper berisi uang dan dokumen berserakan.
“Kita serang begitu transaksi selesai,” bisik Adrian melalui earpiece.
Arma menjawab dari dalam, “Mengerti. Kalian siapkan jalur keluar.”
Saat itu, tiba-tiba ada suara gaduh di radio komunikasi penjaga.
“Seseorang menyusup ke lantai atas! Periksa sekarang juga!”
Adrian dan Gilang langsung saling pandang.
“Kayaknya kita sudah ketahuan,” gumam Gilang.
“Kalau begitu, kita tidak punya pilihan lain.”
Adrian mengangkat senjata. “Kita buat kekacauan.”