Rena menutup laptopnya dengan bunyi klik pelan, lalu menatap Adrian dan Raka dengan tatapan tajam.
“Bagaimana caranya kita membuat mereka panik tanpa membahayakan diri sendiri?” tanyanya.
Adrian menyilangkan tangan. “Kita bocorkan sebagian kecil informasi ini ke salah satu media independen yang punya kredibilitas, cukup untuk membuat kehebohan, tapi tidak cukup untuk mengungkap semua kartu kita.”
Raka mengangguk. “Kalau kita memberikan terlalu banyak, mereka akan langsung tahu dari mana sumbernya. Kita harus membuat mereka sibuk mencari siapa yang membocorkan informasi ini.”
Rena menyandarkan tubuhnya ke sofa, menyesap anggurnya sebelum berbicara. “Aku punya beberapa kontak di media yang bisa diandalkan. Tapi kalau kita ingin mereka percaya, kita butuh sesuatu yang lebih dari sekadar dokumen atau rekaman.”
“Seperti?” tanya Adrian.
Rena tersenyum kecil. “Sebuah insiden. Sesuatu yang membuat nama Mr. X mulai diperbincangkan di dunia bawah tanah dan memaksanya untuk bertindak terburu-buru.”
Raka mengangkat alis. “Kau punya sesuatu dalam pikiran?”
Rena mengangguk. “Kita buat seolah-olah ada pengkhianat di dalam jaringannya. Sesuatu yang akan membuatnya curiga pada orang-orangnya sendiri.”
Adrian tersenyum tipis. “Kau licik, Rena.”
“Aku realistis,” balasnya. “Kalau kita hanya menunggu dan berharap, kita yang akan diburu duluan.”
Raka berpikir sejenak. “Baik. Kita bisa menyebarkan informasi palsu ke salah satu kaki tangannya yang kita tahu rakus atau mudah goyah. Biarkan dia jadi kambing hitam, biarkan Mr. X fokus ke dalam.”
Adrian mengangguk. “Dan sementara dia sibuk menertibkan jaringannya, kita bisa menyusup lebih dalam.”
Rena meletakkan gelasnya di meja. “Baiklah, ayo mulai. Aku akan menghubungi orang-orangku.”
Adrian berdiri dan meraih jaketnya. “Raka, kita punya pekerjaan lain. Kita butuh umpan yang bisa dipercaya.”
Raka tersenyum samar. “Aku tahu tempat yang bisa kita datangi.”
Malam itu, roda permainan mulai bergerak.
Dan di sisi lain kota, Mr. X tidak tahu bahwa sebuah badai sedang menuju ke arahnya.
...
Di sebuah klub malam kelas atas di Bangkok, lampu neon berkedip-kedip mengikuti irama musik elektronik yang menghentak. Di sudut ruangan, seorang pria paruh baya dengan jas mahal duduk santai di sofa VIP, ditemani beberapa wanita muda yang tertawa kecil di sampingnya.
Namanya Somchai—salah satu perantara utama dalam jaringan Mr. X. Dia bukan orang besar, tapi cukup berpengaruh untuk mengetahui pergerakan di dalam organisasi.
Adrian dan Raka masuk ke dalam klub, berpakaian seperti dua pria kaya yang datang untuk menikmati malam. Mereka memilih duduk di bar, cukup jauh untuk tidak mencurigakan, tapi cukup dekat untuk mengamati target mereka.
“Dia terlihat santai,” bisik Raka sambil menyesap minumannya.
Adrian mengangguk, lalu melirik ke arah wanita berbaju merah yang baru saja mendekati Somchai. Itu tanda dari Rena—wanita itu adalah informan yang telah mereka bayar untuk memancing target bicara.
Tak butuh waktu lama sebelum Somchai mulai membual setelah beberapa gelas alkohol masuk ke dalam tubuhnya.
“Kau tahu, bos besar tidak akan senang dengan apa yang terjadi belakangan ini,” kata Somchai dengan suara sedikit mabuk. “Ada orang-orang yang mulai bertanya-tanya terlalu banyak.”
Wanita berbaju merah pura-pura tertarik. “Maksudmu siapa?”
Somchai tertawa kecil. “Ada banyak orang. Tapi yang paling sial adalah orang dalam sendiri. Ada yang bermain dua kaki.”
Adrian dan Raka saling bertukar pandang. Itu lebih cepat dari yang mereka duga.
Raka menekan tombol kecil di jam tangannya, memberi sinyal kepada Rena untuk melanjutkan rencana selanjutnya.
Wanita itu bersandar lebih dekat pada Somchai. “Siapa yang berkhianat?” bisiknya.
Somchai menyeringai, bersiap menjawab. Tapi sebelum kata-kata itu keluar dari mulutnya, terdengar suara keras—seorang pria di sudut lain klub tiba-tiba berteriak, menuduh seseorang telah mencuri dompetnya.
Kekacauan kecil terjadi. Dalam kebingungan itu, wanita berbaju merah dengan lincah mengambil ponsel Somchai dari meja dan menyelipkannya ke dalam tasnya sebelum dengan cepat berbaur kembali ke kerumunan.
Adrian dan Raka segera berdiri dan berjalan keluar dari klub dengan tenang, seolah-olah mereka hanya dua pria yang bosan dengan suasana malam itu.
Begitu mereka berada di luar, Adrian menekan tombol di alat komunikasinya.
“Kita dapat umpan kita,” katanya.
Di seberang sana, suara Rena terdengar. “Bagus. Sekarang mari kita lihat seberapa dalam rahasia yang dia simpan.”
Malam itu, rencana mereka mulai berjalan.
Dan di dalam klub, Somchai tidak menyadari bahwa permainannya sudah berakhir.
...
Di sebuah kafe kecil yang tersembunyi di sudut Bangkok, Rahmat duduk dengan gelisah. Dia menyesap kopinya sambil melirik jam tangan, menunggu seseorang.
Pintu kafe terbuka, dan seorang pria berbadan tegap dengan hoodie hitam masuk. Dia berjalan ke arah meja Rahmat tanpa ragu.
“Gilang,” sapa Rahmat pelan.
Gilang duduk tanpa basa-basi. “Rena bilang kau punya informasi penting.”
Rahmat mengangguk. “Kita punya target. Gudang penyimpanan manusia di pinggiran kota. Tapi kita butuh lebih banyak orang untuk menyerangnya.”
Gilang menyandarkan tubuhnya. “Tim Mr. Midnight sudah siap. Arma dan Dirga sudah mengatur persenjataan. Kita hanya butuh momen yang tepat.”
Rahmat menatapnya serius. “Adrian dan Raka berencana membuat kekacauan di dalam jaringan Mr. X sebelum kita bergerak. Kita harus pastikan efeknya cukup besar agar mereka lengah.”
Gilang tersenyum tipis. “Kalau begitu, kita buat mereka sibuk dengan masalah mereka sendiri.”
Di tempat lain, Adrian dan Raka berdiri di atas gedung kosong yang menghadap ke gudang target mereka. Lewat teropongnya, Adrian melihat beberapa pria bersenjata berjaga di sekitar gedung.
“Kita harus pastikan ini terlihat seperti pengkhianatan dari dalam,” ujar Raka.
Adrian mengambil ponselnya, lalu mengetik pesan yang dikirim langsung ke salah satu orang kepercayaan Mr. X.
“Seseorang di antara kalian bermain dua kaki. Malam ini, sesuatu akan terjadi di gudang.”
Pesan itu dikirim melalui nomor anonim yang tidak bisa dilacak.
Tak butuh waktu lama sebelum reaksi mulai terlihat. Salah satu penjaga menerima pesan, wajahnya berubah tegang. Dia berbisik kepada rekannya, lalu bergegas masuk ke dalam gudang.
Adrian tersenyum. “Kita baru saja menyalakan api.”
Raka mengeluarkan senapan sniper dari tasnya dan merakitnya dengan cepat. “Sekarang kita tunggu mereka saling curiga dan mulai berantakan.”
Di dalam gudang, suasana berubah tegang. Para penjaga mulai saling menatap curiga. Salah satu dari mereka, seorang pria bertato naga di lengannya, berbicara kasar kepada yang lain.
“Siapa yang mengkhianati kita?”
Tidak ada yang menjawab.
Ketegangan meningkat saat seorang pria lain mengeluarkan pistolnya, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Di atap gedung seberang, Raka berbisik, “Sedikit lagi.”
Adrian mengangguk. Dia mengambil pistol peredam, membidik salah satu lampu jalan di dekat gudang, dan menembaknya.
Bzzzt!
Lampu padam. Beberapa orang di dalam gudang langsung menoleh panik.
Raka menyeringai. “Sekarang mereka benar-benar kacau.”
Dan saat itulah, tim Mr. Midnight mulai bergerak.