Bab 2. Kota Bangkok

1277 Words
Adrian tiba di Bangkok saat langit telah gelap, lampu-lampu kota menyala terang seperti lautan cahaya yang tak pernah padam. Ia berjalan melewati bandara dengan langkah tenang, meskipun pikirannya penuh dengan strategi. Tidak ada penyambutan, tidak ada kontak yang menunggu. Kali ini, ia benar-benar sendirian setidaknya untuk sementara. Setelah melewati imigrasi, Adrian langsung menuju tempat persewaan mobil. Ia memilih sedan hitam sederhana, sesuatu yang tidak mencolok namun cukup cepat jika ia butuh kabur sewaktu-waktu. Saat mobil mulai melaju di jalanan Bangkok yang ramai, ia membuka ponselnya dan mengetik pesan singkat: “Aku sudah di sini.” Beberapa menit kemudian, ada balasan. “Pasar malam. Dua jam lagi.” Adrian tersenyum tipis. Ia sudah menduga akan bertemu seseorang di tempat semacam itu—ramai, penuh orang, dan sulit untuk dilacak. Ia memacu mobilnya menuju penginapan kecil di sudut kota, tempat yang sudah ia pesan dengan identitas palsu. Setelah memastikan tidak ada yang mengikutinya, ia masuk ke dalam kamar dan mulai bersiap. Dua jam kemudian, Adrian sudah berada di tengah keramaian pasar malam Bangkok. Bau makanan, suara tawar-menawar, dan lampu-lampu neon membuat tempat ini terlihat seperti dunia lain. Ia berjalan perlahan, menyusuri lorong-lorong sempit di antara kios-kios. Matanya menangkap sosok yang ia cari, berdiri di depan kios yang menjual jam tangan murah, tampak seperti pelanggan biasa. Raka. Adrian mendekat dengan santai, berpura-pura melihat-lihat barang dagangan. “Tidak kusangka kau masih hidup,” gumamnya pelan. Raka tetap menatap jam tangan di depannya. “Kau terlalu meremehkanku.” Adrian menahan senyum. “Aku lebih suka berpikir aku terlalu berhati-hati.” “Bagus. Karena kau akan butuh itu.” Adrian meliriknya. “Apa maksudmu?” Raka akhirnya menoleh, menatap Adrian dengan mata yang sulit dibaca. “Kita dalam masalah yang lebih besar dari yang kau kira.” ... Adrian dan Raka berjalan menyusuri pasar malam tanpa berbicara lagi. Suasana terlalu ramai untuk percakapan serius, tapi mereka tahu setiap langkah membawa mereka lebih dekat ke inti permasalahan. Setelah memastikan tidak ada yang mengikuti, Raka berhenti di depan sebuah kios makanan dan memesan dua botol bir dingin. Ia menyerahkan satu ke Adrian sebelum berbicara dengan nada santai, seolah mereka hanya dua sahabat lama yang bertemu kembali. “Ada sesuatu yang perlu kau lihat,” gumam Raka tanpa menoleh. Adrian menerima botolnya dan mengambil satu tegukan sebelum bertanya, “Seberapa buruk?” Raka menyelipkan sesuatu ke dalam kantong jaket Adrian tanpa menarik perhatian. “Cukup buruk hingga kita mungkin tidak akan keluar dari ini dalam keadaan utuh.” Adrian tidak langsung melihat isi kantongnya. Ia tahu lebih baik untuk menunggu sampai di tempat yang aman. “Dan kenapa kau masih di sini kalau begitu?” Raka terkekeh kecil. “Seseorang harus memastikan kau tidak mati sebelum waktunya.” Adrian hanya menggeleng pelan. Ia sudah mengenal Raka cukup lama untuk tahu bahwa pria itu tidak akan mengambil risiko sebesar ini jika tidak punya alasan kuat. Mereka terus berjalan, menyusuri pasar malam menuju gang kecil di belakang area utama. Di tempat itu, Raka akhirnya berhenti dan menatap Adrian serius. “Aku menyusup ke jaringan Mr. X,” bisik Raka. “Dan aku menemukan sesuatu yang harus kau ketahui.” Adrian menajamkan pandangan. “Apa?” Raka menarik napas dalam sebelum berbicara. “Mr. X tidak hanya menjalankan bisnis narkoba, senjata, dan perdagangan manusia. Dia juga punya sesuatu yang lebih berbahaya.” Adrian menunggu. “Jaringan politik,” lanjut Raka. “Orang-orang penting, pejabat, bahkan militer. Semua ada di kantongnya.” Adrian merasakan darahnya berdesir. Ini jauh lebih besar dari yang ia perkirakan. “Dan kau tahu apa yang lebih buruk?” Raka menatapnya lekat-lekat. “Dia tahu kau masih hidup.” Adrian mengepalkan rahangnya. “Berapa lama aku punya waktu?” Raka menatap sekeliling sebelum menjawab, “Mungkin kurang dari yang kau harapkan.” ... Adrian dan Raka meninggalkan pasar malam tanpa terburu-buru, tetap menjaga langkah santai agar tidak menarik perhatian. Namun, di balik ketenangan mereka, ada urgensi yang tak bisa diabaikan, mereka tahu bahwa waktu sedang menghimpit. Setelah berjalan beberapa blok, mereka tiba di sebuah tempat parkir yang sepi. Adrian membuka pintu mobilnya dan masuk, sementara Raka mengambil posisi di kursi penumpang. Baru setelah mesin menyala dan mobil melaju perlahan ke jalanan Bangkok yang sibuk, Adrian mengeluarkan benda yang tadi diselipkan Raka ke sakunya. Sebuah kartu memori. “Rekaman apa ini?” tanya Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. “Data transaksi, percakapan, dan video,” jawab Raka. “Semua bukti yang menunjukkan bagaimana Mr. X mengendalikan jaringan politik di Asia Tenggara.” Adrian menatapnya sekilas. “Seberapa valid?” “Seratus persen,” Raka menjawab tegas. “Aku mendapatkannya dari salah satu orang kepercayaan Mr. X yang mulai goyah kesetiaannya. Sayangnya, dia tidak bertahan lama setelah itu.” Adrian mengencangkan genggaman di setir. “Kita harus segera melihat isinya.” “Setuju. Tapi tidak di tempat yang mudah disusupi.” Adrian berpikir sejenak. “Kita cari rumah Rena yang di Bangkok, pasti dia sudah terbang kesini.” Raka menoleh. “Kau yakin dia bisa dipercaya?” Adrian hanya menatap Raka sekilas sebelum kembali fokus ke jalan. “Dia sudah sejauh ini dengan kita. Lagipula, dia juga punya alasan untuk melihat Mr. X jatuh.” Raka tidak membantah. Mereka tahu bahwa dalam permainan ini, tidak ada sekutu yang benar-benar bisa dipercaya sepenuhnya, tapi mereka juga tidak bisa bertahan sendirian. Setelah beberapa puluh menit berkendara, mereka tiba di rumah Rena, sebuah apartemen mewah yang tersembunyi di antara gedung-gedung tinggi Bangkok. Adrian mengetuk pintu tiga kali, kode yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Pintu terbuka, memperlihatkan Rena yang masih mengenakan gaun hitamnya. Ia melirik keduanya sebelum menghela napas. “Kalian selalu membawa masalah,” katanya sambil memberi jalan. Adrian dan Raka masuk tanpa menjawab. Mereka punya banyak hal yang harus dibahas. Dan waktu mereka semakin menipis. ... Rena menutup pintu apartemen dan menyalakan sistem keamanan tambahan. Ia berjalan ke dapur, menuangkan anggur ke dalam gelasnya, lalu berbalik menatap Adrian dan Raka yang sudah duduk di sofa. “Apa yang kalian bawa kali ini?” tanyanya santai, meskipun matanya tajam mengamati mereka. Adrian mengeluarkan kartu memori dari sakunya dan meletakkannya di atas meja. “Bukti bahwa Mr. X tidak hanya sekadar bandar narkoba atau pedagang senjata. Dia juga punya cengkeraman di dunia politik dan militer.” Rena mengangkat alisnya. “Seberapa buruk?” “Separah yang bisa kau bayangkan,” jawab Raka. “Dan mungkin lebih.” Tanpa basa-basi, Rena mengambil laptopnya dan menyambungkan kartu memori tersebut. Ia mengetik beberapa perintah untuk memastikan tidak ada jebakan di dalamnya, lalu mulai membuka file yang tersimpan. Di layar, muncul daftar transaksi keuangan dalam jumlah besar, percakapan terenkripsi yang sudah berhasil dipecahkan, dan—yang paling mengerikan—video-video pertemuan rahasia antara Mr. X dan beberapa orang berpangkat tinggi. Salah satu video menunjukkan seorang pria berkacamata duduk di ruangan gelap, berbicara dengan suara yang sengaja dibuat samar. “Kita punya kesepakatan. Barang harus sampai tepat waktu, dan jangan ada jejak. Jika mereka mulai menggali lebih dalam, kita punya cara untuk mengalihkan perhatian.” Video berlanjut dengan adegan pertukaran koper antara seorang pria berbaju formal dan seseorang yang wajahnya sengaja dikaburkan. Rena bersiul pelan. “Ini lebih besar dari yang kukira.” Adrian bersandar di sofa, matanya tak lepas dari layar. “Sekarang kita punya dua pilihan, menyerahkan ini ke pihak yang berwenang atau menggunakannya sebagai senjata untuk menekan Mr. X.” “Dan kau yakin ada pihak berwenang yang bisa dipercaya?” tanya Rena skeptis. Adrian terdiam sejenak. Ia tahu jawaban dari pertanyaan itu. “Jadi kita mainkan ini dengan cara kita,” kata Raka akhirnya. Rena tersenyum miring. “Baiklah, anak-anak nakal. Apa rencananya?” Adrian menatap layar laptop sekali lagi. Ia bisa merasakan darahnya berdesir. “Pertama, kita buat mereka panik.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD