Setelah tim Mr. Midnight berkumpul di apartemen Arma, mereka kembali berpencar. Misi sudah selesai untuk sementara. Adrian tahu bahwa situasi di Bangkok belum sepenuhnya beres, tapi untuk saat ini, ia memutuskan untuk pergi ke satu tempat yang ada di pikirannya.
Rumah Rena.
Malam sudah larut ketika ia sampai di depan gerbang rumah wanita itu. Jakarta masih ramai, tapi di lingkungan ini, suasana terasa lebih tenang. Adrian mengetuk pintu dua kali, menunggu. Tak lama, suara langkah terdengar dari dalam, dan pintu terbuka.
Rena berdiri di ambang pintu, mengenakan gaun tidur hitam yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Mata tajamnya menatap Adrian tanpa ekspresi, lalu bibirnya melengkung sedikit.
“Kau selalu datang tanpa pemberitahuan,” katanya santai.
Adrian menyeringai kecil. “Kalau kuberi tahu lebih dulu, kau pasti akan bilang kau sibuk.”
Rena mengangkat bahu. “Mungkin.” Ia membuka pintu lebih lebar. “Masuklah.”
Adrian melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup di belakangnya.
Ia tahu, meskipun sudah kembali ke Jakarta, pikirannya masih tertinggal di Bangkok. Masih ada sesuatu yang belum selesai. Dan ia yakin, Rena juga mengetahuinya.
...
Adrian menjatuhkan tubuhnya ke sofa di ruang tamu Rena. Tangannya meraih gelas whisky yang sudah tersedia di meja. Ia melirik Rena yang berdiri di dekat jendela, menyilangkan tangan di d**a.
“Jadi, kau ke sini untuk apa?” suara Rena terdengar datar, tapi Adrian tahu wanita itu penasaran.
Adrian memutar gelasnya, menatap cairan emas yang berputar di dalamnya sebelum meneguknya pelan. “Aku butuh tempat untuk berpikir.”
Rena mengangkat alis. “Kau bisa melakukannya di apartemen Arma.”
Adrian menyeringai kecil. “Dan harus mendengar ocehan Gilang sepanjang malam? Tidak, terima kasih.”
Rena mendecih, lalu berjalan mendekat, duduk di sofa di seberangnya. “Jadi, ini soal Bangkok?”
Adrian tidak langsung menjawab. Ia meletakkan gelasnya ke meja, lalu menghela napas panjang.
“Mr. X masih bebas,” katanya akhirnya. “Kita memang sudah menghancurkan salah satu tempat penampungannya, tapi itu belum cukup. Dia masih punya banyak koneksi, dan aku yakin dia belum selesai dengan kita.”
Rena menyandarkan tubuhnya, matanya menyipit. “Kau berpikir dia akan membalas?”
Adrian mengangguk. “Bukan cuma itu. Aku merasa ada sesuatu yang kita lewatkan. Seperti ada bagian dari jaringannya yang belum kita sentuh.”
Hening sejenak.
Rena meraih rokok dari meja, menyalakannya dengan gerakan santai. “Dan kau ingin aku membantumu mencari tahu?”
Adrian tersenyum miring. “Kau selalu lebih cepat mendapatkan informasi daripada aku.”
Rena tertawa kecil, menghembuskan asap rokoknya ke udara. “Kau memang selalu tahu cara memanfaatkan orang.”
Adrian hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa. Mereka berdua tahu, ini bukan sekadar soal memanfaatkan.
Rena menatapnya balik, lalu akhirnya menghela napas. “Baiklah. Aku akan melihat apa yang bisa kudapatkan.”
Adrian mengangguk. “Terima kasih.”
Rena tersenyum kecil. “Jangan terlalu cepat berterima kasih. Aku belum tentu menyukainya.”
Adrian hanya tertawa, lalu kembali meneguk whisky-nya.
Di luar, Jakarta tetap hidup, tetap bising. Tapi di dalam rumah itu, dua orang yang terbiasa bermain dalam bayangan mulai menyusun langkah berikutnya.
Sesuatu belum selesai.
Dan mereka akan mencari tahu.
...
Pagi di Jakarta tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson kendaraan dan hiruk-pikuk kota sudah terdengar dari luar jendela rumah Rena.
Adrian membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa berat, mungkin efek dari whisky tadi malam. Ia melirik ke samping. Rena masih tertidur dengan satu tangan di atas perutnya, wajahnya tampak tenang, kontras dengan sifat aslinya yang selalu penuh perhitungan.
Adrian duduk di tepi ranjang, meraih ponselnya yang bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Aku tahu kau masih mencariku. Kau hanya perlu melihat ke tempat yang benar.”
Adrian langsung waspada. Ia membaca pesan itu berulang kali, mencari petunjuk. Tidak ada nama pengirim, tidak ada jejak lokasi. Tapi satu hal yang pasti ini bukan pesan acak.
Seseorang mengawasinya.
“Kau kelihatan tegang.”
Suara Rena membuatnya menoleh. Wanita itu sudah terbangun, menatapnya dengan mata setengah mengantuk.
“Ada yang menghubungiku,” ujar Adrian, menunjukkan pesan di layar ponselnya.
Rena mengernyit, lalu mengambil ponsel Adrian dan membaca pesannya dengan saksama. “Ini jebakan atau tantangan?”
“Atau keduanya,” jawab Adrian, bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela. Ia memandang keluar, mengamati jalanan yang mulai ramai.
“Apa kau akan menanggapi?”
Adrian menghela napas panjang. “Aku tidak punya pilihan. Jika ini dari orang dalam jaringan Mr. X, mungkin ini petunjuk yang kita butuhkan.”
Rena bangkit dari tempat tidur, mengenakan kemeja putihnya sambil berjalan mendekat. “Kalau kau ingin melacak pengirimnya, aku bisa meminta seseorang untuk menelusurinya.”
Adrian tersenyum tipis. “Itulah sebabnya aku ada di sini.”
Rena menyalakan laptopnya. Jari-jarinya menari di atas keyboard, mencoba mengurai misteri di balik pesan anonim itu.
Adrian meraih jaketnya dan berjalan menuju pintu. “Aku akan keluar sebentar. Aku butuh udara segar.”
Rena tidak menoleh, masih fokus pada layar laptopnya. “Jangan mati sebelum aku menemukan sesuatu.”
Adrian tertawa kecil. “Aku akan berusaha.”
Ia keluar dari apartemen dengan perasaan waspada. Jika seseorang ingin menarik perhatiannya, maka itu berarti mereka punya sesuatu yang berharga atau mereka hanya ingin menghabisinya.
Dan Adrian siap menghadapi keduanya.
...
Adrian melangkah keluar dari Rumah Rena, merapatkan jaketnya saat angin pagi menyentuh kulitnya. Meski Jakarta sudah mulai panas, ada sesuatu yang terasa dingin di udara, entah perasaan atau intuisi seorang agen yang sudah terlalu sering menghadapi bahaya.
Ia menyeberang jalan, menuju sebuah kedai kopi kecil yang tidak terlalu ramai. Tempat seperti ini selalu jadi titik terbaik untuk mengamati sekitar tanpa terlihat mencolok.
Duduk di pojok, ia memesan kopi hitam, lalu membuka ponselnya. Tidak ada pesan baru. Tapi perasaannya tetap mengatakan bahwa ia sedang diawasi.
Beberapa menit berlalu sebelum seseorang duduk di kursi di depannya.
“Sudah lama sekali, Adrian.”
Adrian mendongak. Seorang pria berkacamata hitam dengan jaket kulit duduk di hadapannya. Rahmat Sudraja.
“Aku tidak tahu kau masih di Jakarta,” kata Adrian santai, meski matanya tetap waspada.
Rahmat tersenyum kecil. “Aku tidak tahu kau masih hidup.”
Adrian mendengus, menyeruput kopinya. “Apa kau yang mengirim pesan tadi pagi?”
Rahmat mengangkat alis. “Pesan?”
Adrian menatapnya, mencoba membaca ekspresinya. Tapi Rahmat tetap tenang, seperti biasa.
“Berarti bukan kau,” gumam Adrian.
Rahmat menyandarkan tubuhnya. “Tapi kalau seseorang menghubungimu dengan cara itu, artinya ada yang ingin kau ketahui, kan?”
Adrian diam. Rahmat memang selalu cerdik.
“Apa kau masih memburu Mr. X?” tanya Rahmat.
Adrian hanya menatapnya tanpa menjawab.
Rahmat tertawa kecil. “Kau memang keras kepala. Tapi kalau kau ingin melanjutkan permainan ini, aku punya sesuatu untukmu.”
Ia mengeluarkan secarik kertas dari saku jaketnya dan mendorongnya ke meja.
Adrian mengambilnya dan membaca. Sebuah alamat.
“Bangkok,” gumamnya.
Rahmat mengangguk. “Kalau kau ingin jawaban, di sanalah kau harus pergi.”
Adrian meremas kertas itu di tangannya.
Permainan belum selesai.
Dan ia akan kembali ke Bangkok.
...
Adrian berdiri di depan jendela rumah Rena, menatap langit Jakarta yang mulai memerah menjelang senja. Secarik kertas di tangannya terasa lebih berat dari seharusnya. Alamat yang diberikan Rahmat bukan sekadar tempat biasa, itu adalah pintu menuju babak baru dalam perburuannya terhadap Mr. X.
Di belakangnya, Rena duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya. Ia mengetik cepat, mencari informasi yang bisa mendukung Adrian.
“Jadi, kau benar-benar akan pergi?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Adrian mengangguk. “Aku tidak punya pilihan. Jika informasi Rahmat benar, aku bisa menemukan celah di jaringan Mr. X sebelum semuanya terlambat.”
Rena menutup laptopnya dan menatapnya. “Kau butuh dukungan. Ini bukan sesuatu yang bisa kau lakukan sendirian.”
Adrian tersenyum miring. “Sejak kapan aku sendirian?”
Rena menghela napas. “Tim Mr. Midnight sudah berpencar. Kau tidak bisa berharap semuanya akan langsung berkumpul lagi hanya karena kau butuh bantuan.”
Adrian tahu Rena benar. Tapi ada satu hal yang Rena lupa tim ini tidak pernah benar-benar meninggalkan satu sama lain.
“Kita lihat saja nanti,” ujar Adrian, mengambil jaketnya.
Rena berdiri, berjalan mendekatinya, lalu menyelipkan sesuatu ke saku jaketnya. “Tiket ke Bangkok. Aku sudah menyiapkannya.”
Adrian mengangkat alis. “Kau benar-benar selalu satu langkah di depanku.”
Rena tersenyum tipis. “Seseorang harus memastikan kau tidak mati konyol.”
Adrian terkekeh, lalu menatap Rena sejenak. “Kau tidak ikut?”
Rena menyandarkan diri ke meja. “Duluan aja, aku punya cara lain untuk membantu. Percayalah, aku tidak akan tinggal diam.”
Adrian tahu maksudnya. Rena memiliki jaringan yang luas, ia bisa mengumpulkan informasi, meretas sistem, bahkan menekan orang-orang penting jika diperlukan.
“Jangan buat kekacauan terlalu besar,” pesan Rena.
Adrian hanya tersenyum sebelum melangkah keluar.
Bangkok menunggunya.
Dan kali ini, ia tidak akan pulang sebelum menyelesaikan apa yang ia mulai.