Hari pertunangan sudah di tetapkan, kini Arinta dan Sintya hanya tinggal mengurus segala keperluannya. Karena acara akan dilaksanakan di Bandung, keduanya membutuhkan banyak bantuan dari Farhana. Wanita itu tentu saja dengan senang hati, akan terus membantu putra putrinya. Sebuah acara sederhana yang akan berlangsung di kediaman Farhana, tidak akan terlalu banyak tamu yang datang, hanya keluarga dan kerabat terdekat saja. Bahkan, Arinta dan Sintya tidak mengundang teman-teman yang di Jakarta, mungkin nanti saja saat acara pernikahan.
Hari ini Arinta akan mengantar Sintya untuk mencari baju, karena gadis itu belum sempat untuk membeli baju untuk acara spesialnya itu. Jangankan untuk mendatangi penjahit pakaian, pergi ke pusat perbelanjaan saja Sintya tak memiliki waktu luang, karena pekerjaannya yang sangat menyita waktu. Jadi, gadis itu memutuskan untuk membeli baju yang sudah siap pakai saja, begitu juga dengan Arinta yang akan menyesuaikan dengan baju Sintya nantinya.
“Sekarang kita mau kemana dulu?” tanya Arinta, saat mereka sudah tiba di parkiran sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta.
“Hmm... Aku belum punya tujuan sih, masuk aja dulu, nanti sambil aku pikirin,” jawab Sintya, yang sudah bersiap untuk turun dari dalam mobil.
Arinta hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti, hari ini memang di khususkan untuk mencari pakaian saja. Sehingga mereka memiliki waktu yang cukup, tanpa merasa terburu-buru. Esok hari, baru mereka akan mengurus hal yang lainnya, karena mulai dari hari ini, keduanya sudah mengambil cuti untuk tidak melakukan pekerjaan apapun, agar fokus mengurus segala keperluan acara penting itu. Apalagi, Sintya sudah harus pulang ke Bandung dua hari lagi, karena ia harus memastikan segala persiapan sudah sempurna, tak ada kekurangan apapun.
Berkeliling dari satu toko ke toko yang lainnya, mencoba dan melihat berbagai jenis pakaian yang dirasa cocok untuk acara tersebut. Namun, Sintya masih belum mendapatkan yang sesuai dengan keinginan hatinya. Sampai hari sudah siang, Arinta merasakan perutnya lapar, lalu segera mengajak kekasihnya itu untuk makan siang lebih dulu.
“Mau makan siang dimana, Mas?” tanya Sintya, karena Arinta yang mengajaknya lebih dulu, jadi ia meminta pendapat dari pria itu.
“Kamu lagi mau makan apa?” ucap Arinta. Bukan menjawab pertanyaan dari Sintya, pria tampan itu justru mengajukan pertanyaan lainnya.
“Hmm... Apa ya, Mas? Aku juga bingung sih,” ujar Sintya, yang memang sedang tak memiliki keinginan memakan sesuatu. Maksudnya, apapun yang menjadi pilihan Arinta, gadis itu akan ikut saja.
“Bakwan malang, mau gak?” ucap Arinta menawarkan, makanan khas salah satu kota di Jawa Timur itu.
“Boleh deh,” sahut Sintya setuju.
Benar saja, apapun yang menjadi pilihan Arinta, Sintya akan menyetujuinya. Apalagi, kalau itu makanan yang memang ia sukai. Sintya memang begitu menyukai berbagai makanan olahan dari daging sapi, bakso salah satunya. Jadi, keputusan Arinta mengajak makan bakwan malang, merupakan pilihan paling tepat.
Sepasang kekasih itu segera mencari restoran yang menjual menu makanan tersebut, setelah tiba mereka segera mencari tempat duduk dan memesan makanan yang diinginkan. Menikmati makan siang bersama seperti ini, sudah menjadi hal yang biasa mereka lakukan, walau dirasa tak ada yang spesial, tetapi di hati keduanya selalu terasa begitu indah, saat bisa menghabiskan waktu berdua.
“Sayang...” ucap Arinta disela kegiatannya mengunyah makanan.
“Hmm... Kenapa, Mas?” tanya Sintya, yang kali ini sedang menyeruput minuman dingin di hadapannya.
Arinta mengutarakan usulannya untuk pergi ke sebuah butik, yang berada tidak jauh dari kantornya. Karena, sudah cukup lama mereka berputar di dalam mall, tetapi masih belum bisa menemukan apa yang Sintya inginkan. Mendengar penuturan yang Arinta katakan, Sintya nampak berpikir sejenak, dan tak lama gadis itu menyetujuinya. Bukan tanpa alasan, namun Sintya sudah pernah datang ke butik yang Arinta maksud, bahkan ia sudah beberapa kali membeli pakaian disana. Tak perlu di ragukan masalah kualitas dan modelnya, disana memang menjual baju dengan kualitas terbaik.
Keduanya saling melempar senyum terbaik, saat akhirnya menemukan jalan keluar untuk masalah kali ini. Walau belum bisa di pastikan, Sintya akan mendapatkan baju yang di inginkan, setidaknya mereka tetap terus berusaha. Jika disana Sintya tak mendapatkan baju di butik tersebut, Arinta akan terus menemani kekasih tercintanya, sampai dapat apa yang gadis itu inginkan.
Selesai makan siang, Arinta segera mengajak Sintya untuk meninggalkan restoran tersebut. Sebelum menuju parkiran, Sintya ingin membeli sesuatu yang bisa ia nikmati selama perjalanan. Dari tempat mereka saat ini, memang akan membutuhkan waktu yang cukup lama, untuk bisa tiba di tempat tujuan. Apalagi akhir pekan seperti ini, disaat siang hari pasti jalanan akan begitu padat oleh kendaraan, baik roda dua ataupun roda empat.
Berbagai olahan seafood, seperti fish ball, crab stick, chikuwa dan lain-lain. Menjadi pilihan Sintya untuk menemani perjalanannya siang ini. Tak lupa, Sintya juga membeli dua gelas minuman dingin, dengan dua rasa yang berbeda, agar dirinya bisa mencicipi milik Arinta, jika miliknya dirasa kurang enak. Pasalnya, ini adalah kali pertama ia membeli minuman yang sedang viral di sosial media.
“Mas Ari kenapa sih? Kok senyum-senyum terus,” protes Sintya yang melihat sang kekasih, terus melemparkan senyum saat menatap ke arahnya.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju butik yang di maksud, dan benar saja seperti dugaan Sintya, jalanan begitu macet dan terasa sangat menyebalkan. Namun, semuanya sirna, saat ia terus mengucakan rasa syukur, atas nikmat Tuhan yang sudah diberikan padanya. Bisa menikmati hari-hari bersama Arinta, merupakan hal yang selalu ia nantikan. Apalagi, setelah padatnya aktifitas mereka, yang sangat menyita waktu sampai sulit untuk saling bertemu.
“Gak kenapa-napa sih. Bahagia aja, liat kamu bahagia,” ucap Arinta jujur. Karena kebahagiaan yang terpancar jelas di wajah pujaan hatinya, mampu membawa kebahagiaan untuk dirinya sendiri.
“Beneran?” tanya Sintya memastikan kembali.
“Iya, Sayang. Benar kan, kalau kamu lagi bahagia sekarang?” ujar Arinta.
“Iya dong, perempuan mana yang gak bahagia. Kalau impiannya, perlahan akan segera terwujud.”
“Aamiin... Semoga semua rencana kita berjalan lancar, tanpa hambatan apapun.”
“Aamiin...”
Arinta kembali fokus pada kegiatannya mengendarai mobil, begitu juga dengan Sintya yang melanjutkan kegiatannya menghabiskan camilan yang sudah dibeli. Tak lupa, sesekali ia menyuapi Arinta, karena sudah berjanji akan menghabiskan makanan itu berdua. Sampai akhirnya jalanan nampak lancar, Arinta dan Sintya merasa lega, karena tak lama lagi akan segera tiba, di tempat tujuan.
Sesampainya di butik, Arinta dan Sintya segera turun, terutama sang gadis yang sudah tidak sabar, ingin mencari pakaian yang ia inginkan. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh sang penjaga butik, seorang wanita yang nampaknya sedang hamil, karena bagian perutnya yang terlihat sedikit membuncit.
Arinta memilih untuk menunggu saja di ruang tunggu yang di sediakan, selama Sintya terus berputar dari lemari yang satu, ke lemari yang lainnya. Sampai akhirnya seorang wanita keluar dari sebuah ruangan, memanggil seseorang yang sedang bersama Sintya saat ini.
“Iya, Mba Mel. Ada apa?” tanya wanita hamil itu, kepada seseorang yang memanggilnya. Sudah dapat di pastikan, jika wanita yang memanggil itu adalah pemilik dari butik tersebut.
“Kamu lagi sibuk gak?”
“Ini Mba, lagi bantu Mba yang itu, cari baju untuk acara tunangannya,” ucap sang wanita yang sejak tadi menemani Sintya, menjelaskan apa yang sedang di kerjakannya.
Terlibat obrolan cukup lama antara kedua wanita itu di hadapan Arinta, karena sepertinya ada sesuatu yang harus segera mereka bahas berdua. Entah mengenai hal apa, Arinta tak berminat untuk mendengarkan perbincangan keduanya. Karena pria itu memilih untuk bangun dari tempat duduknya, lalu menghampiri sang kekasih, membantu memilih beberapa pakaian yang menurutnya cocok.
“Permisi, Mba... Saya Melya, pemilik butik ini. Saya gantikan ya, untuk menemani Mba mencari baju yang di inginkan. Adik saya yang tadi, namanya Priska. Sore ini, dia harus ke rumah sakit, jadi pulang lebih cepat,” ucap wanita yang akhirnya Arinta dan Sintya ketahui bernama Melya.
“Oh iya, terima kasih banyak, Bu Melya. Sampai harus repot menemani saya, apa gak ada karyawan yang lain?” tanya Sintya ramah. Sesungguhnya gadis itu merasa bingung, karena butik sebesar ini hanya ada satu orang pekerja, dan sang pemilik butik itu sendiri.
“Ini hari minggu, karyawan sudah biasa saya liburkan. Beruntung Mba dan Mas datang, sebelum jam tiga sore. Karena, biasanya kita sudah tutup lebih awal,” ujar Melya menjelaskan.
Sintya dan Arinta yang akhirnya mengerti, memilih untuk mengutarakan saja pakaian seperti apa yang mereka inginkan. Karena, ditempat tersebut juga menjual pakaian untuk laki-laki, tak ada salahnya jika Arinta juga berniat membeli di butik milik Melya itu.
Melya mengerti dengan apa yang sepasang kekasih itu inginkan, ia segera memberikan beberapa refrensi terbaiknya, untuk Arinta dan Sintya pilih, dengan harapan ada yang cocok di hati mereka. Bahkan, Melya menawarkan untuk merombak di beberapa bagian, jika itu memang di perlukan dan di inginkan oleh Sintya. Karena, untuk Arinta sendiri sudah mendapatkan jas dan kemeja yang cocok.
“Ayo kita masuk, ke ruangan saya,” ajak Melya, saat ia harus menggambar pakaian untuk Sintya. Sebetulnya, gadis itu sudah mendapatkan pakaian yang sesuai, hanya saja ada beberapa bagian yang ingin dirubah, agar baju tersebut sempurna, sesuai dengan apa yang di harapkannya.
Arinta dan Sintya mengikuti langkah Melya, mereka bertiga masuk ke sebuah ruangan yang ada di sudut butik. Ruangan yang cukup besar dan nyaman, memang sudah menjadi keharusan untuk Melya, menyediakan ruangan tersebut, agar segala kegiatan yang di lakukannya akan selalu terasa menyenangkan.
Sintya dan Arinta duduk di tempat yang sudah Melya sediakan, sedangkan wanita itu langsung mengambil sebuah kertas dan alat tulis. Wanita itu mencoba menggambar, sesuai dengan apa yang sudah Sintya jelaskan sebelumnya. Kepuasan pelanggan butik, adalah menjadi kunci utama kesuksesan Melya mengembangkan butiknya, jadi wanita itu akan terus berusaha, untuk mewujudkan apa yang pelanggan inginkan.
“Mba Sintya, bisa kesini sebentar,” panggil Melya. Mereka memang sudah saling berkenalan, oleh sebab itu Melya sudah menyematkan nama Sintya, saat memanggil gadis itu.
Sintya segera berjalan menghampiri Melya di meja kerjanya, saat Melya menunjukan hasil gambarannya, betapa terkejutnya gadis itu, saat melihat hasilnya sangat sesuai dengan apa yang ia inginkan. Tetapi, apa tidak akan memakan waktu yang lama, jika banyak perubahan dari baju yang sudah jadi itu. Sebuah kebaya modern memang menjadi pilihan Sintya, namun gadis itu memiliki beberapa keinginan, sehingga harus ada yang dirubah.
“Bagaimana?” tanya Melya, saat melihat Sintya hanya terdiam memandang hasil gambarannya.
Arinta yang melihat kejadian itu merasa penasaran, dan memilih untuk menghampiri sang kekasih, agar ia juga bisa melihat hasil gambar sang pemilik butik yang terkenal ini. Nama Melya memang sudah cukup terkenal, khususnya di kalangan para istri dari pengusaha di Jakarta, karena suami dari Melya sendiri seorang pengusaha sukses yang memiliki beberapa perusahaan besar di berbagai kota di Indonesi. Bahkan, Abimanyu Wibisana, selalu menjadi sosok yang membuat Arinta semangat menjalankan bisnisnya, agar bisa sukses seperti beliau.
“Bagus banget, Mba Melya. Benar-benar sesuai, sama apa yang aku mau. Iya kan, Mas?” puji Sintya pada hasil gambar Melya, lalu meminta persetujuan pria yang sudah berdiri disisi kirinya.
“Iya, keren banget sih. Kalau baju yang tadi kamu pilih, bisa dirubah seperti itu. Benar-benar sesuai, dengan apa yang kamu gambarkan tadi,” sahut Arinta menanggapi.
“Syukurlah kalau begitu, lalu bagaimana?” tanya Melya.
“Gimana ya, Mas?” ucap Sintya nampak bingung. Ia sangat ingin sekali mewujudkan baju itu menjadi sesuai dengan keinginannya. Tetapi, baju itu pastinya tidak akan bisa ia bawa pulang hari ini. Sedangkan lusa, dirinya harus segera pulang ke Bandung.
“Mba Melya, untuk menyelesaikan konsep baju ini. Kira-kira, membutuhkan waktu berapa lama?” tanya Arinta pada Melya. Ia sangat ingin sekali mewujudkan apa yang Sintya inginkan, tetapi waktu mereka memang hanya sedikit.
“Mari kita duduk, dan bicarakan semuanya. Supaya sama-sama enak,” ajak Melya. Kejadian seperti ini, bukan kali pertama untuknya. Jadi, ia sudah bisa menangkap, kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati pelanggannya.
Setelah duduk, Melya juga berpamitan untuk membuatkan Arinta dan Sintya minuman lebih dulu, sebelum memulai perbincangan mereka, mencari jalan keluar terbaik dari masalah kali ini. Sungguh sepasang kekasih itu tak menyangka, jika akan ada saja kerikil yang mereka temui, saat mengurus segala keperluan untuk acara tunangan mereka.
“Silahkan di minum,” ucap Melya, setelah meletakkan dua gelas minuman dingin diatas meja, lalu wanita itu duduk berhadapan dengan Sintya.
“Terima kasih,” sahut Arinta dan Sintya bersamaan, lalu mencicipi minuman itu, sebagai bentuk menghargai atas apa yang Melya lakukan pada mereka.
“Jadi, ada apa sebetulnya?” tanya Melya, berharap dua orang di hadapannya menjelaskan masalah mereka. Semoga saja, ia memang bisa membantu, dan mewujudkan pakaian yang Sintya impikan.
Sintya menjelaskan segalanya, mengenai waktu yang sudah begitu sempit, dan acara tunangan mereka yang akan berlangsung di Bandung. Gadis itu juga menjelaskan, jika lusa dirinya harus segera pulang ke kota kembang itu, dan kemungkinan tak akan bisa bertemu lagi dengan Arinta, sampai acara tersebut berlangsung. Karena, acara mereka di langsungkan pada hari Sabtu, Arinta akan berangkan dari Jakarta hari jum;at malam.
Melya mulai memahami masalah yang sedang sepasang kekasih itu hadapi, ia juga tidak bisa menjanjikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kapasitas kerjanya. Wanita itu mulai menjelaskan, untuk menyelesaikan perubahan pada baju, agar sesuai dengan yang Sintya inginkan, ia membutuhkan waktu sekitar empat sampai lima hari. Terhitung dari hari senin besok, dirinya baru bisa mulai mengerjakannya. Melya yang merupakan seorang ibu dari empat anak, tak bisa bekerja lebih lama di hari minggu, apalagi jika harus lembur sampai malam, karena suami posesifnya tidak akan pernah mengijinkan.
“Berarti baru selesai hari jum’at ya, Mba?” tanya Sintya, lalu menoleh pada Arinta dengan tatapan yang sendu.
Kesedihan terpancar jelas di wajah gadis itu, membuat Melya dan Arinta juga turut merasakan kesedihannya. Arinta sangat ingin sekali, bisa mewujudkan segala keinginan kekasihnya, karena kebahagiaan Sintya memang selalu menjadi prioritas utamanya. Namun disisi lain, Melya tak bisa memberikan janji, yang melampaui batas kemampuannya, karena tidak ingin bekerja terburu-buru, sehingga hasilnya tidak memuaskan. Ketiganya nampak saling terdiam, berusaha untuk menentukan jalan terbaik.
Arinta memang sudah di pastikan tidak akan bisa menemui Sintya, karena dirinya harus menemani kerabat dan keluarga yang datang dari luar kota. Apalagi dirinya akan berangkat ke Bandung hari jum’at malam, sedangkan baju Sintya akan di pakai hari sabtu pagi.
“Begini saja, Mba Sintya bisa kirim alamat rumah di Bandung. Begitu bajunya selesai, nanti saya minta untuk Adira antar ke Bandung,” ucap Melya mengusulkan.
“Adira?” beo Sintya, menyebutkan nama sesorang yang Melya sebutkan sebelumnya.
“Iya... Adira itu asisten pribadi saya, kebetulan sekarang lagi ijin, karena ada acara bersama putrinya. Tapi, untuk hari kamis atau jum’at nanti, saya pastikan dia yang akan antar kesana,” ujar Melya, berusaha memberi jalan keluar terbaik untuk pelanggannya.
Arinta dan Sintya saling tatap, sebelum akhirnya mereka menyetujui apa yang Melya usulkan. Bahkan, Arinta siap membayar berapapun biaya tambahan yang Melya minta, selama baju yang kekasihnya inginkan bisa terwujud. Melya hanya menanggapi perkataan Arinta dengan senyum terbaiknya, lalu wanita itu mengatakan jika nominal uang bukanlah hal penting untuknya, tetapi kebahagiaan pelanggan saat mengenakan pakaian rancangannya, akan selalu menjadi prioritas utama, seperti Arinta yang selalu memprioritaskan kebahagiaan gadis yang dalam hitungan hari, akan berubah status menjadi tunangan sekaligus calon istrinya.
Setelah sepakat, Arinta dan Sintya segera berpamitan pulang, karena hari juga sudah semakin sore. Apalagi, suami Melya sudah datang menjemput bersama empat anaknya yang terlihat tampan dan cantik. Dua anak laki-laki dan dua anak perempuan, membuat Sintya membayangkan betapa menyenangkannya, memiliki banyak anak seperti Melya dan sang suami.
Urusan hari ini mampu mereka selesaikan, dengan jalan keluar yang Melya berikan. Masih ada hari esok, dimana mereka masih harus mengurus beberapa keperluan lainnya, termasuk mencari cincin tunangan. Benar-benar mereka hanya mengurus segalanya berdua, karena ingin mewujudkan acara yang menjadi impian Sintya.
Cukup melelahkan namun menyenangkan, Arinta memutuskan untuk mengajak Sintya pulang ke rumahnya, agar besok mereka bisa pergi lebih lagi. Hal itu tentu saja sudah dengan persetujuan Sintya, karena hanya tinggal satu hari, dirinya bisa menghabiskan waktu bersama Arinta. Lusa ia akan berangkat ke Bandung, dan tak akan bertemu Arinta dalam beberapa hari, pastinya akan menimbulkan rasa rindu yang terdalam.