“Ma... Tolong kesini sebentar,” teriak Sintya dari ruang tamu rumahnya, pada sang ibu yang sedang berada di ruangan yang tak jauh dari tempatnya berada.
Hari kamis, Sintya sudah berada di Bandung, setelah dua hari lalu melakukan perjalanan yang cukup melelahkan. Gadis itu sedang memeriksa beberapa dekorasi untuk rumahnya, walau hanya sebuah acara sederhana, tetapi Sintya dan Arinta ingin memberikan yang terbaik, untuk acara tunangan mereka.
Farhana berjalan menghampiri putrinya yang sejak tadi pagi sudah sangat sibuk, Sintya yang selalu ingin semuanya nampak sempurna, seakan tak percaya jika semua yang ia inginkan sudah diurus oleh sang ibu. Wanita itu sangat memaklumi, karena ia begitu mengerti karakter sang putri.
“Ada apa, Nak?” tanya Farhana lembut.
“Bunga yang ini, menurut Mama gimana?” ucap Sintya menunjukan sebuah rangkaian bunga, yang mungkin akan dipakai untuk dekorasi ruangan.
“Hmm... Bagus kok, Mama suka. Apapun yang kamu pilih, Mama akan selalu suka,” ujar Farhana, mengundang senyum indah terukir di wajah cantik putri tunggalnya.
“Oke deh... Terima kasih ya, Ma.”
“Sama-sama, cantik.”
Farhana segera memutar balik tubuhnya, untuk kembali dengan kegiatan sebelumnya. Namun, Sintya kembali memanggil dirinya, sehingga wanita itu langsung menghentikan langkahnya. Sepertinya, memang masih ada hal lain, yang ingin Sintya bicarakan dengan sang ibu. Namun, Farhana yang memiliki kegiatan lain, seperti tidak sabar untuk segera beranjak pergi.
“Ada apa lagi?” tanya Farhana lembut pada putrinya, menatap Sintya yang sedang menatap ponsel milik gadis itu.
“Ini, Ma... Tya titip hp ya, kalau ada panggilan dari yang namanya Adira, tolong Mama angkat,” ucap Sintya menyodorkan ponsel miliknya, lalu mengatakan apa yang harus ibunya lakukan.
“Adira siapa?” tanya Farhana lagi, merasa asing dengan nama yang baru saja putrinya sebutkan.
“Adira itu, karyawan butik tempat Tya pesan baju. Sekarang dia lagi di perjalanan, mau antar baju Tya kesini,” ujar gadis itu menjelaskan.
“Oh gitu, memangnya kamu mau kemana?”
“Tya mau mandi dulu, Ma. Badan rasanya udah lengket banget.”
“Ya udah sana mandi, pantes aja dari tadi, ada bau kurang sedap.”
“Ish... Enggak ya, Ma...”
Meninggalkan sang ibu yang sedang terkekeh geli, Sintya segera masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan tubuh. Udara Bandung yang begitu sejuk dan cenderung dingin, membuat Sintya tak pernah mandi pagi. Seperti hari ini, gadis itu memilih melakukan banyak kegiatan setelah bangun tidur, setelah hari beranjak siang, ia baru akan mandi. Sudah menjadi hal yang tak aneh di mata Farhana, karena Sintya selalu seperti itu saat pulang dari Jakarta. Mungkin perbedaan cuaca, menjadi alasan utama putrinya tak terbiasa untuk mandi pagi.
Kedatangan Adira di sambut hangat oleh Farhana, memang wanita itu datang tidak berselang lama setelah Sintya masuk ke kamarnya untuk mandi. Farhana juga langsung mengajak Adira bersama suaminya untuk masuk ke ruang keluarga, karena ruang tamu masih sangat berantakan. Ya, wanita yang sudah lama menjadi kepercayaan Melya itu, datang ke Bandung di temani oleh sang suami tercinta. Melya mengerjakan satu hari lebih cepat dari perkiraannya, sehingga hari ini baju milik Sintya sudah bisa diantarkan.
Farhana dan Adira berbincang ringan, selama menunggu Sintya yang masih sibuk di dalam kamarnya, sedangkan suami dari wanita itu, telah pergi keluar untuk menerima telepon. Farhana merasa sangat bersyukur, putrinya bisa bertemu dengan orang sebaik Melya, yang mampu mewujudkan pakaian impiannya. Bahkan, sampai rela mengutus seseorang untuk mengantarkan baju tersebut kesini.
Tak berselang lama, Sintya sudah keluar dari kamarnya dan sangat antusias menemui Adira. Gadis itu memang sudah pernah bertemu dengan Adira sebelumnya, karena saat datang ke butik bersama Arinta, itu bukan kedatangannya yang pertama. Ia juga mengatakan pada kekasihnya, jika sudah ada beberapa baju miliknya yang dibeli di butik tersebut.
Betapa bahagianya Sintya, saat melihat baju hasil rancangan Melya, yang begitu sesuai dengan keinginannya. Gadis itu berucap dalam hati, akan menggunakan jasa Melya, untuk membuatkan baju pernikahan impiannya. Binar kebahagiaan yang terpancar jelas di wajah Sintya, membuat Adira merasa sangat kagum, dengan hasil kerja Melya, wanita yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.
Adira memang tak bisa berlama-lama disini, bukan karena Melya yang memintanya untuk segera kembali ke Jakarta, tetapi pekerjaan sang suami yang tak bisa ditinggal terlalu lama. Jadi, ia harus menghargai suaminya yang dituntut bekerja secara profesional, walaupun bosnya sendiri merupakan suami Melya.
Sintya berulang kali mengucapkan rasa terima kasihnya pada Adira, yang sudah rela meluangkan waktu untuk mengantarkan baju miliknya. Gadis itu juga menitipkan salam pada Melya, yang sudah hadir seperti malaikat penolong untuknya.
Setelah mengantarkan Adira sampai ke teras rumah, Sintya kembali masuk untuk mencari keberadaan ibunya. Ia ingin meminta ponsel miliknya, karena tak sabar ingin memberi kabar pada sang kekasih, jika baju miliknya sudah diantar. Bahkan ia akan melakukan panggilan video, agar bisa memperlihatkan, betapa cantik dan indah baju yang sudah Melya buatkan untuknya.
Gadis itu sedang duduk ditepi ranjang kamarnya, saat melakukan panggilan video pada Arinta. Cukup lama tak mendapatkan jawaban, sampai akhirnya wajah tampan sang kekasih terpampang nyata di layar ponsel miliknya. Arinta yang selalu menampilkan senyumnya, membuat perasaan Sintya semakin berbunga-bunga. Kebahagiaan yang ia rasakan, tak mampu di ungkapkan dengan kata-kata.
“Hai, Sayang... Baru abis mandi ya?” tanya Arinta, yang sudah bisa menebak kebiasaan sang kekasih.
“Hehehehe... Iya, Mas. Ini juga belum sempat keringin rambut, soalnya abis nemuin Adira,” ucap Sintya dengan ekspresi yang begitu menggemaskan.
Selain wajahnya yang nampak segar, rambut gadis itu yang masih sedikit basah, memang membuat Arinta bisa menebak, walau hari sudah siang, kekasihnya itu pasti baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Kebahagiaan yang Sintya rasakan, mampu membuat Arinta turut bahagia. Padahal, Sintya belum mengatakan atau bercerita apapun pada pria itu.
“Adira, karyawannnya Mba Melya?” tanya Arinta memastikan. Pasalnya ini baru hari kamis, sedangkan Melya menjanjikan akan mengantar pesanan itu hari jum’at.
“Iya, Mas. Kamu mau liat bajunya gak?” ujar Sintya dengan sangat antusias, berharap sang kekasih ingin melihat baju yang akan ia gunakan, di hari spesialnya nanti.
“Mau dong, coba lihat,” sahut Arinta.
Sintya segera mengarahkan ponselnya ke baju yang ia letakkan diatas tempat tidur, dengan menggunakan kamera belakang, agar Arinta bisa melihat dengan jelas baju tersebut. Arinta saja sampai terkagum-kagum, melihat hasil dari rancangan Melya itu. Sebenarnya Sintya memilih sebuah kebaya yang sudah jadi, dan siap dipakai. Namun, karena Sintya memiliki beberapa keinginan, jadi Melya benar-benar merubahnya sesuai dengan keinginan gadis itu.
“Bagus banget, Sayang...” puji Arinta dengan sangat jujur, karena baju itu memang terlihat sangat indah.
“Mas Ari suka kan?”
“Suka banget, Sayang. Kamu pasti cantik banget deh, pakai baju itu.”
“Semuanya berkat Mba Melya, Mas.”
Obrolan sepasang kekasih itu masih berlanjut, membahas keinginan Sintya, untuk memakai jasa Melya, yang akan membuatkan baju pernikahan impiannya. Arinta yang juga kagum dengan hasil rancangan Melya, sangat mendukung keinginan kekasihnya itu. Karena seperti biasanya, Arinta akan selalu menuruti apapun yang menjadi sumber kebahagiaan sang pujaan hati.
Mengingat masih ada beberapa hal yang harus diperiksa oleh Sintya, gadis itu segera mengakhiri panggilan teleponnya bersama sang kekasih. Ya, kebiasaan mereka yang hampir bertemu setiap hari, terpisah seperti ini akan menimbulkan sebuah kerinduan yang mendalam. Tetapi, demi kelancaran segala urusan mereka sampai ke hari pertunanga, keduanya harus sama-sama menahan rasa rindu itu, sampai akhirnya nanti bertemu di hari yang begitu spesial.