Lembutnya Arinta

1115 Words
“Yuk turun,” ajak Arinta, saat mobil yang di kendarainya, sudah berhenti di suatu tempat. Cafe dengan pemandangan alam yang indah, udara yang sejuk begitu menenangkan. “Ini dimana, Mas?” tanya Sintya, yang memang tak mengetahui, keberadaan mereka saat ini ada di daerah mana. Akhirnya Arinta menjelaskan, jika tempat ini berada di kota Bogor. Saat Sintya merasa bingung, karena keadaan cafe yang begitu sepi tanpa pengunjung, pria itu kembali menjelaskan jika ia sudah memesan cafe ini, untuk hari spesial mereka berdua. Sintya tak ingat, kalau hari ini adalah tepat tanggal pertama kali keduanya memulai hubungan. Sedangkan Arinta sudah mempersiapkan segalanya, tak hanya memesan cafe untuk mereka berdua saja, pria tampan itu juga sudah menyiapkan beberapa kejutan lainnya. Arinta segera mengajak gadis tercintanya untuk turun dari mobil, lalu menuju tempat yang sudah pihak cafe sediakan. Ia memang memilih tempat terbuka, agar bisa lebih menikmati nuansa alam yang begitu asri. Pemandangan gunung hijau, danau yang berada tepat di hadapan mereka, menjadi tujuan Arinta agar dirinya dan sang kekasih bisa menikmati pemandangan indah tersebut. “Kamu mau pesan makan apa?” tanya Arinta, saat mereka sudah duduk menghadap pemandangan yang Arinta inginkan. “Ini siang hari, tapi cuacanya dingin ya, Mas. Kayaknya, makan atau minuman hangat, pasti pas deh, sama cuaca disini,” ucap Sintya dengan begitu antusias, seraya menggambarkan cuaca di tempat tersebut. Suasana di daerah itu memang begitu dingin dan sejuk, walaupun hari sudah menginjak pukul satu siang. Sintya merasa nyaman, karena teringat suasana Bandung, dimana suasana yang selalu ia rindukan, saat jauh dari ibunya. Gadis itu tak henti mengeluarkan pujian, atas pemandangan yang di lihatnya. Bahkan, untuk urusan makanan dan minuman, ia serahkan pada sang kekasih untuk memesan. Selesai memesan, Arinta meminta ijin untuk ke toilet, yang hanya di tanggapi oleh Sintya dengan anggukan kepala. Pria tampan itu merasa sangat bahagia, saat melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah kekasihnya. Arinta berharap, segala hal yang sudah ia siapkan, akan menambah kebahagiaan di hati sang pujaan hati. Adanya drama yang terjadi di rumah Sintya tadi, seakan musnah terhempas oleh segala hal indah yang ada di tempat itu. Suasana hati Sintya sudah benar-benar berubah, senyuman terus menghiasi wajah cantiknya. Saat Arinta sudah kembali ke tempat duduknya, beberapa makanan pembuka sudah terhidang dengan rapi di atas meja. “Sayang, udah dong liat pemandangannya. Ayo kita makan dulu, udah waktunya makan siang loh...” ucap Arinta, mengajak gadis tercintanya untuk kembali duduk, karena Sintya sedang asik melihat pemandangan sekitar. “Mas, makanannya bawa sini, aja. Aku mau makan, sambil liat pemandangan,” sahut Sintya, seraya melambaikan tangan, berharap Arinta menuruti keinginannya. Senyum terbit dari kedua sudut bibir gadis cantik itu, saat melihat sang kekasih, sudah berdiri dari tempat duduknya. Namun, senyum itu seketika menghilang, berubah menjadi kerutan di kening, karena Sintya bingung, Arinta berjalan menghampiri dirinya tanpa membawa makanan pembuka yang sudah terhidang diatas meja. Sesampainya di hadapan Sintya, Arinta memegang kedua bahu sang kekasih menggunakan kedua tangannya. Lalu membawa tubuh gadis itu, agar berhadapan secara langsung dengan dirinya. Pria tampan yang selalu bersikap lembut itu, mendaratkan sebuah ciuman yang begitu dalam, di kening Sintya. Menyalurkan segala rasa cinta dan kasih sayang yang ia miliki, untuk gadis yang tak lama lagi akan berubah status menjadi tunangannya. “Tya cantik, pujaan hati, Mas Ari. Pemandangan disini gak akan pernah berubah, semuanya akan tetap menjadi pemandangan yang indah. Aku juga gak akan ajak kamu pulang, kalau kamu belum puas, menikmati semua keindahan alam ini. Tapi, kalau masalah mengisi perut, harus di segerakan. Karena, kita sudah melewatkan jam makan siang kita. Sayang, kita kembali duduk, ya, kan gak baik, makan sambil berdiri,” ujar Arinta lembut, memberikan pengertian pada Sintya, agar mereka menikmati makan siang bersama lebih dulu, di tempat yang seharusnya. Di perlakukan dengan sangat lembut, tutur bahasa yang begitu baik dan penjelasan sangat masuk akal. Membawa Sintya hanya mampu menuruti apapun yang kekasihnya ucapkan, mengikuti langkah kaki pria, yang saat ini sudah menggandeng tangannya, menuju meja makan yang berada tak jauh, dari tempat mereka berdiri sebelumnya. Sepasang kekasih yang saling mencintai, menikmati makan siang bersama dengan perasaan penuh cinta dan kebahagiaan. Bagaimana tidak, memiliki pria yang lemah lembut dan bijaksana, pastinya menjadi impian banyak kaum hawa. Begitu juga sebaliknya, memiliki gadis yang mampu bahagia hanya dengan hal sederhana, pastinya menjadi harapan kaum adam, yang ada di muka bumi ini. Selesai makan siang, sebelum mengajak Sintya ke danau, untuk sekedar menikmati bagaimana serunya naik sampan. Arinta memilih untuk membahas acara pertunangan mereka, yang akan di selenggarakan tak lama lagi, mungkin hanya dalam hitungan bulan saja. Kebahagiaan Sintya, kini menjadi prioritas utama Arinta, salah satunya dengan mewujudkan, apa yang menjadi impian gadis itu. Menuruti segala keinginan Sintya, dalam pelaksanaan acara penting dalam hubungan mereka. “Mau naik sampan sekarang?” tanya Arinta, saat mereka sudah selesai membahas, mangenai acara pertunangan. “Hmm... Boleh deh, tapi aku mau ke toilet dulu,” jawab Sintya lembut, lalu segera berdiri dari tempat duduknya. “Mau diantar?” ucap Arinta menawarkan, karena ia sudah lebih dulu ke toilet. Jadi, pria itu mengetahui jika jaraknya cukup jauh. “Gak usah, Mas. Aku bisa sendiri kok, kamu jangan terlalu manis, nanti aku diabetes,” ujar Sintya jenaka, disambut tawa Arinta yang menggelegar. Arinta yang selalu memejamkan matanya saat tertawa, tak menyadari jika kekasihnya sudah pergi dan tak berdiri di hadapannya. Pria itu menghela nafas, ketika menyadari kebiasaannya, membuat ia seperti orang bodoh. Untung saja, tempat ini sepi tanpa pengunjung lain, jadi tak ada yang melihat saat dirinya di tinggal oleh sang pujaan hati tercinta. Sintya baru saja selesai dengan kegiatannya di dalam toilet, ia bergegas kembali ke tempat dimana kekasihnya berada. Gadis itu sudah tidak sabar, ingin menikmati kebersamaan bersama Arinta, dan juga melihat pemandangan alam dari atas sampan, sambil berkeliling di danau. “Aw...” sebuah pekikan terdengar oleh Arinta, saat pria itu menolehkan kepalanya, ternyata Sintya sudah terjatuh. Entah apa yang menjadi penyebabnya, Arinta juga tak mengetahui dan memilih untuk tidak menanyakan. Pria itu lebih dulu berlari menghampiri Sintya, membantu gadis itu berdiri dan membawanya untuk kembali duduk. Sintya yang mengenakan celana pendek, saat terjatuh menyebabkan lututnya terluka. “Perih ya?” tanya Arinta begitu khawatir. “Sedikit,” ringis Sintya. Arinta bergegas pergi mencari pelayan cafe, meminta kotak P3K atau apapun yang bisa ia gunakan untuk mengobati luka kekasihnya. Setelah mendapatkan yang ia butuhkan, pria itu segera kembali menghampiri Sintya. Dengan begitu lembut, Arinta mengobati luka di lutut gadis pujaan hatinya, sesekali ia meniupi luka tersebut, untuk mengurangi rasa perihnya. Raut cemas sangat terpancar jelas di wajah Arinta, membuat Sintya merasa sangat bersyukur, karena pria seperti Arinta bisa hadir di kehidupannya. “Terima kasih Tuhan, atas segala kebaikanMu. Termasuk, menghadirkan dia, didalam kehidupanku,” monolog Sintya dalam hati, mengucap rasa syukur kepada sang pencipta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD