Isi Bensin

1351 Words
Tak banyak perbincangan yang terjadi, saat Arinta dan Sintya dalam perjalanan, menuju tempat yang hanya diketahui oleh si pria tampan, yang terus menyunggingkan senyum indahnya. Sedangkan Sintya, masih saja memasang wajah masam, karena masih ada rasa kesal yang belum mampu hilang sepenuhnya, setelah melewati apa yang terjadi beberapa saat lalu. Ia memang tak bisa marah sepenuhnya pada Arinta, karena dirinya sangat memahami, bahwa pria yang di cintainya tak mungkin dengan sengaja, berniat melukai hati dan perasaannya. Namun, tetap saja, hatinya yang saat ini sangat sensitif, di pengaruhi perubahan hormon, karena sedang dalam masa menstruasi, tak bisa membuat Sintya lupa begitu saja. Jalanan ibu kota hari ini begitu ramai, baik kendaraan roda dua ataupun roda empat. Namun, keramaian itu tak sampai menimbulkan kemacetan, suatu hal yang sangat menguntungkan Arinta. Karena dirinya yang baru saja menemui Sintya pukul sepuluh, saat ini hari sudah menjelang siang, tetapi mereka masih saja dalam perjalanan. Seharusnya, jika mengingat janji yang pria itu buat, pukul sepuluh mereka sudah tiba di tempat tujuan. Arinta yang mengetahui sisa bensinnya sudah tak banyak lagi, memutuskan untuk segera mencari tempat pengisian bahan bakar. Tak indah, jika mobilnya harus terhenti, karena bahan bakarnya yang habis, pria itu sangat ceroboh sekali hari ini. Bagaimana mungkin, ia melupakan untuk mengisi bahan bakar, sebelum datang menjemput Sintya tadi. Mobil hitam itu segera berbelok ke kiri, saat tempat yang di tujunya memang berada di kiri jalan. Sintya hanya tersenyum kecut, karena tak seperti biasanya, Arinta mengajak dirinya untuk mengisi bahan bakar. Arinta sudah mengetahui, sejak awal mereka menjalin hubungan, jika Sintya tak bisa mencium aroma bahan bakar yang menyengat, apalagi saat harus singgah di tempat pengisiannya. Tetapi, kali ini untuk pertama kalinya, Arinta melupakan hal yang selalu dirinya lakukan. Mengisi bahan bakar hingga penuh, sehingga selama bersama sang kekasih, pria itu tidak perlu mengisi bensin lagi. “Lupa isi bensin?” tanya Sintya sinis. “Iya, Sayang... Maaf ya, aku benar-benar lupa,” sahut Arinta dengan nada lirih dan penuh penyesalan. Pasalnya Sintya bisa merasa pusing, mual dan bahkan tubuhnya bergetar hebat, jika bau bahan bakar masuk ke dalam penciumannya. Saat ini, Arinta hanya bisa berharap, tak akan terjadi hal buruk pada sang gadis pujaan hati. Sebelum memasuki lebih dalam, area tempat pengisian bahan bakar, Arinta memutuskan untuk menghentikan kendaraannya sejenak. “Ty... Kamu tunggu disini aja, ya. Kamu bisa masuk ke minimarket dulu, selama aku isi bensin. Dari pada ikut, nanti kamu malah pusing, atau mual,” usul Arinta, yang melihat adanya minimarket, tak jauh dari tempat mobilnya berhenti. “Gak usah deh, Mas. Aku ikut aja,” ucap Sintya, yang memang merasa tak membutuhkan apapun. Sehingga tak mengetahui, apa yang harus di lakukannya, jika ia mengunjungi minimarket tersebut. “Kamu yakin?” tanya Arinta, pria itu begitu mengkhawatirkan kekasihnya. Tetapi ia tak mampu memaksa keputusan yang gadis itu buat, karena tak ingin membuat Sintya kembali kesal padanya. “Hmm... Abisnya Tya gak tau, Mas. Mau beli apa di minimarket,” ujar Sintya jujur. Selama ini, mereka memang selalu saling terbuka satu sama lain. Tak ada satu hal pun yang mereka tutupi, karena semua itu sudah menjadi kesepakatan, agar hubungannya berjalan dengan lancar. Usia mereka yang memang sudah dewasa, membuat banyaknya hal baik selalu menjaga kedamaian dalam hubungan tersebut. Keseriusan dan kedewasaan itulah, yang membuat keduanya selalu berusaha saling menghargai satu sama lain. Namun, bukan berarti perjalanan kisah cinta mereka, tak pernah di terpa sebuah masalah. Mensatukan pikiran dari dua manusia, pastinya akan bertemu dengan sebuah perselisihan. Karakter Arinta dan Sintya yang begitu tenang, mampu membuat mereka, melalui segala kerikil tajam, yang berusaha merusak rajutan tali kasih cinta yang sedang di bina. Dukungan orangtua juga menjadi faktor penting untuk mereka, dan selalu menjadi alasan keduanya menjaga perasaan satu sama lain. “Tya ke minimarket, beliin kopi buat aku. Gimana?” ucap Arinta memberikan usul, bukan untuk memerintah sang kekasih, hanya saja sedang berusaha mencarikan solusi, agar Sintya tak perlu ikut mengisi bahan bakar. “Cuma kopi aja?” tanya Sintya. Arinta menganggukan kepalanya, lalu ia mengeluarkan dompet dari saku celana. Memberikan dua lembar uang pecahan seratus ribu rupiah, dan pria itu berikan kepada sang kekasih. Dengan wajah masam, Sintya menolak uluran uang tersebut, lalu menatap Arinta dengan penuh permusuhan. “Kenapa tatapannya begitu?” tanya Arinta bingung, melihat ekspresi yang Sintya tunjukan. Pasalnya, ia tak merasa kembali berbuat salah, tetapi mengapa gadis itu sepertinya mulai kesal padanya. “Emangnya harga kopi semahal itu? Emangnya, aku gak punya uang, cuma buat bayar kopi aja?” ketus Sintya, lalu segera keluar dari mobil dan membanting pintu mobil, dengan sedikit kasar. Arinta hanya mampu menghela nafas panjang seraya menepuk keningnya, lagi dan lagi ia membuat sang pujaan hati menjadi salah paham dan tersinggung. Sungguh ujian hidup terberat untuk Arinta, saat Sintya sedang dalam masa siklus haidnya. Walau sudah lama menjalin hubungan, mengajak Sintya bepergian disaat gadis itu menstruasi, merupakan kali pertamanya. Karena biasanya, kekasih tercintanya hanya akan menghabiskan waktu di rumah tanpa ingin di ganggu. Setelah melihat Sintya masuk ke dalam minimarket, Arinta segera melajukan kendaraannya, untuk mengisi bahan bakar. Ia merasa lebih baik jika dirinya yang menunggu, karena khawatir Sintya kembali kesal, kalau harus menunggu terlalu lama. Belum lagi, melihat antrian yang cukup panjang, membuat Arinta merasa ketakutan, akan memakan waktu lama. Di dalam minimarket, Sintya memesan dua gelas kopi untuk Arinta dan dirinya sendiri. Gadis itu memang sudah tak perlu lagi menanyakan, kopi apa yang Arinta inginkan, karena dirinya sudah begitu hafal apa yang menjadi kesukaan pria tercintanya. Selain itu, Sintya juga memesan beberapa buah cookies yang begitu menarik perhatian, dan sepertinya rasanya enak. “Dua kopi americano dan satu paket cookies coklat,” ucap seorang pelayan, menyebutkan pesanan milik Sintya. Ya, gadis itu memesan satu paket cookies coklat, yang berisi enam buah. “Iya, Mba...” sahut Sintya dan langsung berdiri dari tempat duduknya. Setelah menerima pesanannya, Sintya bergegas keluar dari tempat itu. Sebuah minimarket yang menyediakan beberapa menu minuman dan makanan, layaknya sebuah coffee shop. Sintya melangkahkan kakinya, menuju tempat dimana tadi dirinya turun dari mobil. Keberuntungan sepertinya sedang berpihak pada Arinta, karena dirinya sudah lebih dulu selesai, sehingga sang kekasih bisa segera kembali masuk ke dalam mobil. Pria itu segera menerima kopi dan kotak cookies yang dibawa Sintya, agar kekasih cantiknya bisa duduk dengan nyaman. “Ini apa?” tanya Arinta, menunjuk kotak berwarna coklat bergambar cookies. Seharusnya ia sudah bisa menebak, apa isi yang ada di dalamnya. Hanya saja, ia ingin membuka perbincangan dengan Sintya, agar tak terasa canggung, setelah membuat gadis itu kesal untuk yang kesekian kalinya hari ini. “Kan itu ada gambar cookies, Mas. Ya isinya cookies lah,” jawab Sintya, namun nada bicaranya sudah sedikit lebih santai, tidak ketus ataupun menggambarkan kekesalan, seperti sebelum-sebelumnya. “Ya siapa tau, isinya donat. Minimarket itu kan, terkenal sama donatnya yang enak,” ucap Arinta, lalu menyodorkan satu gelas kopi untuk Sintya. Semenjak mengenal dirinya, gadis itu memang jadi pecinta kopi dengan cita rasa pahit tersebut. “Kok gak kasih tau?” “Siapa yang tadi main pergi gitu aja? Sampai banting pintu segala,” sindir Arinta, mampu membuat Sintya terdiam. Gadis itu benar-benar tak mengerti, dengan perubahan suasana hatinya hari ini. Biasanya dirinya hanya perlu berdiam diri, dan tak pernah melimpahkan kekesalan pada siapapun, termasuk orang terdekatnya. Namun, hari ini, sedikit saja Arinta berbuat salah, ia akan marah seolah pria itu baru saja membuat sebuah kesalahan besar. “Masih jauh ya, Mas?” tanya Sintya, berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Ia sedang berusaha untuk membuat suasana hari ini, bisa kembali menyenangkan, seperti biasanya saat dirinya bepergian bersama Arinta. “Enggak, kok. Ya udah, kita lanjut jalan, ya,” ucap Arinta, karena perjalanan mereka memang sudah hampir sampai tujuan. Mungkin, hanya membutuhkan waktu lima belas menit, untuk Arinta dan Sintya sampai ke tempat yang selalu sang pria rahasiakan. Selama perjalanan, keduanya menikmati minuman yang masih hangat tersebut, dengan sesekali Sintya menyuapi cookies pada sang kekasih, karena pria yang di cintainya itu sedang fokus berkendara. Sintya merasa sangat bersyukur, bisa memiliki pria yang begitu mengerti dirinya. Karena, bagaimanapun ia marah ataupun kesal, Arinta tak pernah berbalik marah, dan justru lebih memilih untuk diam, sampai akhirnya Sintya bisa menyadari, jika dirinya juga telah melakukan sebuah kesalahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD