Setelah mengantarkan Ravindra sampai depan pintu dan memastikan kalau kakeknya benar-benar pergi, Hansel pun kembali ke ruang tengah yang ternyata di sana Alea sudah tertidur begitu lelapnya.
Hansel bertolak pinggang menatap wajah polos Alea yang tidur seperti anak bayi, meringkuk. Ada seulas senyum yang tiba-tiba menghiasi wajah kaku Hansel, tapi itu hanya sekejap karena suara langkah kaki yang berjalan kearahnya.
"Selamat malam Tuan," suara itu berasal dari belakang, tanpa Hansel menoleh pun ia tahu kalau suara itu adalah suara Savian.
Hansel hanya berdehem menjawab sapaan Savian. Hansel tidak pernah membatasi orang-orang terdekatnya untuk datang, karena baginya siapapun yang datang pasti memiliki kepentingan tidak terkecuali Savian, yang datang pasti memiliki maksud.
"Tuan saya datang ke sini karena—"
"Ssstttt!"
Ucapan Savian terpotong karena Hansel yang menyelanya. Savian memiringkan kepalanya ingin melihat siapa yang tertidur di sofa.
"Lea?" gumam Savian yang langsung buru-buru menghampiri Alea. "Lea kenapa? kakinya terluka?"
Bukan menjawab pertanyaan Savian, Hansel justru memicing tidak suka dengan pertanyaan Savian yang menurutnya sangatlah berlebihan.
Hansel menarik kerah belakang Savian agar sedikit menjauh dari Alea. Menatapnya sejenak lalu kembali berdecak. "Kenapa aku merasa ... kau terlalu menempel dengan calon istriku?"
Pertanyaan yang serius itu muncul dari mulut Hansel yang mana Savian tahu, kalau Hansel sudah bertanya seserius itu pasti suasana hati Hansel sedang tidak baik.
Savian pun tidak berani menatap mata Hansel yang seakan siap menerkamnya kapan saja dia mau.
Namun, ada kata yang menurut Savian sangatlah epik, yaitu kata 'istriku' yang Hansel katakan tadi. Apakah Hansel sedang cemburu padanya, dan apakah Hansel juga sudah menyukai Alea? harapan Savian seakan sirna, entah kenapa dia juga ingin dekat dengan Alea.
Pasalnya Hansel mengatakan di awal, kalau dia akan menyewa Alea tanpa melibatkan perasaan, tapi sepertinya itu hanya menjadi omong kosong semata.
"Maafkan saya Tuan," ucapnya begitu lemas.
"Jangan salah paham, aku hanya tidak mau Alea merasa risih dan membuat konsentrasinya menjalankan misi terganggu. Ah sudahlah, kau ke sini pasti ada hal yang penting 'kan?" ujar Hansel.
"Aah iya, ini Tuan." Savian memberikan beberapa berkas pada Hansel. "Karena saya habis menemui klien di dekat-dekat sini, sekalian saja saya mampir untuk memberikan surat-surat yang perlu Anda tanda tangani dan ada juga surat kontrak yang perlu di periksa terlebih dahulu," jelas Savian panjang lebar maksud dari ia datang ke sana.
Selagi Hansel membaca berkas-berkas yang Savian berikan, fokusnya pun teralihkan karena mendengar gumaman Alea. Yang ternyata Alea hanya mengigau, Hansel pun meletakkan berkas itu di atas meja dan membungkuk ingin mendengar apa yang dikatakan Alea dalam tidurnya.
Namun, kebetulan saat Hansel berniat menguping, Alea pun kembali tertidur. Hansel menegakkan tubuhnya dan mengira kalau Alea bergumam karena merasa tidak nyaman tidur di atas sofa.
"Apa kau merasa tidak nyaman, hmm?" tanya Hansel dengan bergumam.
Hansel berniat membawa Alea dengan menggendongnya tapi ia kembali menoleh pada Savian yang masih memperhatikannya.
"Savian!" panggil Hansel yang membuat Savian langsung sigap ingin mengambil alih untuk menggendong Alea.
Namun, niat baiknya tidak di sambut Hansel dengan baik, karena Hansel langsung mendorongnya.
"Mau apa kamu!" ucap Hansel sedikit meninggikan suaranya.
"Tuan memanggil saya untuk membawa nona Alea 'kan?" Ya, rupanya Savian telah salah paham lagi.
Hansel mendengus kesal, rasanya ingin sekali memukul kepala Savian yang kosong itu.
"Kau bawa berkas-berkas itu ke ruang kerja ku! aku yang akan membawa dia ke kamarnya!" sergah Hansel dengan menekankan setiap katanya.
"Oh, baik Tuan." Savian menundukkan kepalanya, ia benar-benar merasa tidak enak dengan bosnya itu.
Hansel pun segera membawa Alea ke gendongannya dengan sangat hati-hati, yang rupanya Alea pun tidak sama sekali terganggu ia justru semakin meringkuk di gendongan Hansel layaknya seorang bayi yang berada di gendongan ibunya.
Mata Hansel sesekali melirik ke arah wajah polos dan manis Alea, rasanya sangat sulit fokus dengan anak tangga yang sedang ia lalui itu, tapi sebisa mungkin Hansel memang harus hati-hati, bukan?
Setibanya di kamar, Hansel meletakkan tubuh Alea di atas tempat tidur dengan perlahan, lalu menyelimutinya mematikan kalau gadis tengil itu tidur dengan nyaman.
Hansel melangkah pergi dari kamar Alea setelah mematikan lampu, tapi baru saja ia akan melangkah keluar, Alea pun menjerit begitu histeris.
"Ayah!! Ibu!! aku takut!!"
Dengan cepat Hansel langsung menghampiri Alea yang ternyata sedang meringkuk dan menangis. "Hei! kau kenapa?" tanya Hansel khawatir.
"Gelap, aku takut, hiks ...."
Maka dengan cepat Hansel pun menyalakan kembali lampu kamar Alea dan dalam sekejap Alea pun berhenti menangis. Lalu, begitu lampu di nyalakan, pertama yang Alea lihat adalah Hansel dan tanpa sadar Alea langsung memeluk Hansel dengan tubuh yang gemetar.
Tentu Hansel terkejut, bahkan ia tidak bergerak sedikit pun dengan kedua tangan yang terbuka. Rasanya sangat canggung dipeluk oleh Alea seperti itu, tapi Hansel tahu kalau Alea memang Tengah ketakutan dan memerlukannya sebagai perlindungan.
Maka, dengan ragu Hansel pun menyentuh kepala Alea, juga menepuk-nepuknya agar Alea tenang.
"Tidak apa-apa, tidak ada yang perlu di takutkan," ucap Hansel berusaha menenangkan Alea yang sepertinya masih ketakutan.
Tak berselang lama, Hansel justru mendengar dengkuran halus dari Alea yang menandakan Alea kembali tertidur. Hansel tidak menyangka kalau sentuhan tangannya sungguh ajaib membuat Alea yang langsung tertidur dalam waktu singkat.
Lantas Hansel pun segera menidurkan kembali Alea ke bantalnya dengan perlahan. Yang Hansel baru mengetahui kalau gadis tengil itu takut akan kegelapan, maka Hansel tidak lagi mematikan lampunya.
"Aku tidak mematikan lampu mu, tidurlah yang nyenyak, jangan membuat ku susah," ucap Hansel sebelum berlalu pergi.
Langkah panjang Hansel tertuju pada ruang kerjanya yang ternyata Savian masih setia menunggu di sana.
"Ku kira kau sudah pergi," ucapnya yang langsung menuju meja kerjanya.
"Belum Tuan. Emm ...."
Hansel mengangkat kepalanya ia tahu kalau ada yang ingin Savian katakan padanya. "Ada apa, katakanlah!" ucap Hansel seraya melanjutkan memeriksa berkas-berkas yang tadi Savian bawa.
"Sebelumnya saya meminta maaf kalau sikap saya membuat Tuan tidak nyaman, tapi sungguh, tidak ada maksud lain. Saya hanya ingin berteman dengannya." Hansel tersenyum dengan sebelah bibirnya tanpa mengangkat pandangannya.
"Tuan, percaya saya 'kan?"
Hansel diam sejenak, lalu menutup berkas yang sepertinya sudah ia tanda tangani setelah membaca isinya.
"Tergantung, kalau kau bisa menjaga sikapmu dari sekarang."
Savian segera mengangguk dan berjalan dari duduknya. "Kalau begitu saya pamit, Tuan."
"Hemm!" sahut Hansel.
Savian pun berlalu pergi dengan membawa perasaan yang aneh karena merasa dirinya adalah pengecut.