Bugh!
Hansel melemparkan pajangan meja pada Randi yang meringis kesakitan karena mengenai perutnya.
"Kau kenapa Han?!" tanya Randi dengan kesal.
"Jangan pernah berpikiran macam-macam, cukup periksa dia, setelah itu pulang!" cetus Hansel begitu ketus.
Randi yang tidak mengerti kenapa Hansel bersikap seperti itu, justru semakin tidak mengerti ketika mendengar tawa dari Ravindra, si kakek tua itu.
"Kenapa Kakek tertawa?" bingung Randi.
"Dia pria yang terus menggantung gadis cantik itu," ucap Ravindra dengan berbisik.
Randi terbelalak lebar, sedikit tidak percaya dan cukup membuat ia terkejut dengan adanya berita itu. Karena yang dia tahu, Hansel tidak lagi tertarik dengan wanita setelah dulu merasakan patah hati.
"Jadi, mereka?" Ravindra mengangguk memberikan jawaban untuk Randi yang ternganga di sana.
"Tapi tidak apa-apa, janur kuning belum melengkung," ujar Randi lagi, yang tidak menyadari kalau Hansel melirik tajam ke arahnya.
Ravindra terkekeh melihat tingkah Randi yang memang humble seperti biasanya. Alea yang baru bergabung pun memberikan senyuman sebagai salam pengenalan.
"Aku Randi, salam kenal." Randi mengulurkan tangannya karena ingin berjabat tangan dan dengan ramahnya Alea pun menyambutnya. "Aku Alea."
Sungguh, jika saja gadis yang ada di depannya ini bukanlah milik Hansel, sudah ia bawa lari dari sana. Ya, karena pesona gadis itu memang bagus, aura yang positif dan memiliki senyuman yang manis, siapapun pasti akan mengakui kecantikannya tidak terkecuali ialah, Randi di dokter muda itu.
Beberapa detik Randi masih saja menggenggam tangan Alea tapi deheman keras dari Hansel membuat Alea terpaksa menarik tangannya dengan sedikit kasar.
Mata Alea melirik Hansel yang terlihat acuh tapi matanya melirik ketus padanya.
"Apa dia cemburu?" tanya Randi dengan berbisik pada Alea.
Alea terkekeh, seraya menjawabnya, "Tidak mungkin, itu sangat mustahil," balas Alea. Mereka pun terkekeh bersama.
Hansel mendengus melihat Randi dan Alea, yang sudah terlihat akrab walaupun memang baru saja bertemu. Iri? itu tidak mungkin, tapi memang ada rasa jengkel melihat Alea yang sangat mudah akrab dengan pria lain, kecuali dirinya.
"Sudah ngobrolnya? bukankah aku memanggil mu untuk memeriksanya, lalu kenapa malah asik berduaan saja!" cetus Hansel.
"Ada yang panas?" sindir Ravindra dengan sengaja.
Hansel memutar bola matanya malas, karena bagi dia tidak ada yang pantas dicemburui, lagipula hubungannya dengan Alea tidaklah sungguhan.
"Ya sudah, Randi kamu periksa Alea ya, di kamar saja," ucap Ravindra yang sudah beranjak. Namun, dengan cepat Hansel menyelanya.
"No! periksa di sini saja!" tegas Hansel yang tidak mau terbantahkan.
Ravindra melirik Hansel yang terlihat kesal, yang sudah di pastikan kalau Hansel memang sedang cemburu pada Alea dan Randi, tapi pria keras kepala itu pasti tidak akan mengakuinya.
"Ya sudah di sini saja," ucap Ravindra lagi dengan pelan.
Alea berjalan ke arah sofa dengan tertatih, dan baru saja Randi akan memapahnya, Hansel sudah menepis tangan Randi.
"Jangan menyentuhnya!"
"Aku hanya ingin membantu," sahut Randi.
Hansel tidak mengindahkannya, dengan sangat hati-hati ia membantu Alea merebahkan tubuhnya di sofa. Menyadari Alea memakai dress, dengan sigap Hansel melepaskan jass-nya lalu menutupi bagian kaki Alea yang terbuka.
"Lain kali jangan pakai baju sependek ini!" Omelan Hansel membuat Alea ternganga, pasalnya dia sendirilah yang memilihkan baju itu untuknya.
"Tapi—" Baru saja Alea akan menjawab, Hansel sudah memelototinya sehingga Alea tidak jadi bicara lagi.
Randi pun mulai memeriksa pergelangan kaki Alea yang sudah sedikit membiru karena ada memar di sana. Memeriksa berarti menyentuh tapi Hansel terus menepis tangan Randi yang sedang memeriksa Alea.
"Hisshh! Kek, lihatlah Hansel! dia terus mengganggu pemeriksaan ku!"
Alis Hansel naik sebelah, menatap remeh pada pria yang bergelar dokter itu, seraya mencibirnya, "Tukang mengadu!"
"Han, biarkan dia melakukan tugasnya!" tegur Ravindra yang tidak sekali berpengaruh pada Hansel.
Randi kembali memeriksa dengan teliti kaki Alea, yang ternyata memang kaki Alea terkilir dan harus segera di obati.
Beberapa saat kemudian, Randi pun telah selesai dengan tugasnya, dan kaki Alea sudah terbungkus oleh perban elastis sebagai penyangga pergelangan kakinya yang terkilir itu.
"Dua hari sekali perbannya harus di ganti, dan aku akan memberikan resep obat yang ada beberapa obat, dan sala satunya adalah pereda nyeri," jelas Randi yang sudah membereskan peralatannya. Lalu memberikan secarik kertas yang berisikan resep obat.
"Obatnya di minum ya Alea. Semoga cepat pulih," ucap Randi dengan lembut yang lagi-lagi membuat Hansel harus mendengus kesal karenanya.
"Jangan sok manis!" sindir Hansel pada Randi. "Sudah selesai 'kan? kalau begitu silahkan pergi!" lanjutnya yang sudah jelas kalau Hansel memang mengusirnya.
"Han ... jangan seperti itu!" Ravindra menegurnya.
"Tidak apa, Kek. Aku juga ada urusan lagi setelah ini. Kalau begitu aku pamit," ucap Randi yang sudah beranjak.
"Oh ya, simpan uang mu. Kali ini untuk gadis cantik seperti Alea, aku gratiskan," bisik Randi sebelum melangkah pergi.
"Sial! aku akan membayar mu empat kali lipat bila perlu!" pekik Hansel pada Randi yang sudah berlalu pergi.
Randi terkekeh di sana karena memang itu adalah triknya untuk membuat Hansel panas lalu mengeluarkan uangnya lebih banyak.
"Dasar b***k cinta," gumam Randi sebelum masuk ke dalam mobilnya lalu pergi dari sana.
Hari sudah semakin larut, dan saat ini semua tengah berkumpul di ruang tengah karena Ravindra juga akan berpamitan untuk pulang.
Mereka berbincang banyak, terlebih lagi mengenai pernikahan yang sudah di putuskan Ravindra dan akan di gelar Minggu depan.
"Tapi Kek, Lea ada permintaan, boleh?" Alea bersuara setelah sekian lama obrolan itu di bahas.
"Emm, apa 'Nak, katakan saja."
"Lea mau Pernikahan ini hanya di hadiri sanak keluarga saja, dan tidak mau ada wartawan seperti yang tadi kakek bilang." Ravindra sedikit berpikir, karena memang niatnya di awal, dia akan mengumumkan cucu menantunya ke seluruh dunia, tapi permintaan Alea membuatnya berpikir.
"Bagaimana Kek?" Alea menegur lagi.
"Emm, ya sudah. Tidak apa-apa, kalau begitu Kakek ikut kalian saja, yang terpenting pernikahan ini sah dan sakral!" tegas Ravindra.
Di sana Hansel hanya menganggukkan kepalanya, tapi Alea justru semakin merasa bersalah pada Ravindra yang begitu mempercayainya.
"Kalau begitu, Kakek pamit pulang ya. Han! jaga Alea baik-baik, dan ... Alea, kalau dia menindas mu, beritahu Kakek, oke?"
"Hansel baik kok, Kek."
Hansel melirik sejenak, merasa aneh dengan ucapan sederhana Alea yang entah kenapa membuatnya berdebar.
Ravindra pun beranjak dan berlalu pergi, Alea yang ingin mengantar tapi Ravindra mencegahnya.
Hansel beranjak dari duduknya mengantar Ravindra sampai depan pintu. Rasanya lega karena sanga kakek akan pergi dari rumahnya karena kalau tidak, ia akan mendapatkan ceramah sepanjang malam.