Hukum Ahli Waris

1025 Words
Pertanyaan Hellen benar-benar membuat cemas Hansel. Pasrah, dia benar-benar sudah pasrah. "Ya?" Alea yang baru saja selesai menenggak air putih tidak terlalu dengar pertanyaan Hellen. "Nama cafe mu, agar aku bisa mudah menemukannya," Hellen mengulang pertanyaannya. Alea tersenyum, melirik sejenak ke arah Hansel yang menatapnya kesal padanya. Namun, anehnya Alea tidak sedikit pun terlihat cemas atas pertanyaan Hellen, justru Alea sangat terlihat tenang menanggapi kakak perempuan dari Hansel. "Nama cafe ku, nama ku sendiri. Azalea Cafe, aku akan senang kalau Nona bersedia mampir," papar Lea dengan ramah. Akan tetapi keramahan dan ketenangan Alea menjawab pertanyaannya membuat Hellen jengkel. "Emm," sahut Hellen seraya menganggukkan kepalanya lalu berdiri dari duduknya. "Kek, Hellen sudah selesai. Ada pekerjaan yang harus Hellen urus." Hellen membungkukkan badannya dan berlalu pergi. Hellen yang belum terlalu jauh tiba-tiba berbalik seraya berkata, "Oh ya, Hansel bisa ikut Kakak? ada yang harus kita bahas masalah pekerjaan." Lalu kembali melangkah pergi. "Dia Kakak Hansel, dia memang seperti itu. Kamu jangan ambil hati ya," ucap Ravindra pada Alea yang tersenyum. "Tidak masalah, Kek. Alea senang berkenalan dengan Nona Hellen." Mendengar tanggapan Alea membuat Ravindra bangga. Tangannya mengusap lembut kepala Alea. "Kelak panggil dia Kakak, jangan Nona, mengerti?" Sungguh! Alea tidak menyangka ada orang kaya yang se-ramah dan sebaik Ravindra, sangat berbanding terbalik dengan cucunya yang terus memasang wajah masam, juga berkata ketus. Di taman belakang rumah, Hellen menunggu Hansel dengan tidak tenang. Mengingat jawaban Alea yang tenang membuat Hellen takut kalau Alea memang benar-benar calon istri dari adik laki-lakinya yang pastinya akan mengancam posisinya sebagai ahli waris Marquez Dinasty. "Ada apa, kenapa kakak repot-repot meminta bicara padaku?" tanya Hansel dengan tangan masuk ke dua saku celananya. "Aku sudah memperingatkan mu, jangan sampai kau terhanyut. Mengerti?" ujar Hellen ketus. "Sangat di mengerti, Kakak ku tersayang." Hellen mendengus mendengar jawaban Hansel yang terkesan sedang meledeknya. "Lagipula, kau tidak pantas mendapatkan semuanya, kau hanya anak dari wanita simpanan ayahku, anak yang tidak sah!" ucap Hellen penuh hinaan bagi Hansel, tapi seperti biasa, Hansel bisa menahan itu karena menurutnya kalau dia menunjukkan sisi lemahnya, Hellen akan terus mencercanya dengan hinaan hinaan lain. "Emm, aku tahu. Bahkan aku sangat sadar siapa aku, tapi kakak juga harus ingat! hukum ahli waris, aku anak laki-laki dari ayah yang lebih berhak mendapatkan semuanya, ketimbang anak perempuan seperti kakak," balas Hansel tak kalah sengitnya. Bahkan membuat Hellen mati kutu. Namun, persaingan saudara tiri itu akan terus bergulir entah siapa yang menang dan siapa yang akan kalah. "Cih! Jangan terlalu jemawa kamu, justru kau anak laki-laki, sudah sepantasnya kau bekerja keras tanpa mengharapkan warisan!" cecar Hellen tidak mau kalah. Namun, bukannya merasa terpojok Hansel justru tertawa seakan meledek perkataan Hellen. "Emm ... lalu, apa suami kakak tidak menafkahi kakak dengan benar, sampai-sampai masih menempel di bawah kuasa kakek." Mendengar apa yang dikatakan Hansel membuat Hellen meradang, dan pergi begitu saja. Hansel tidak menyangka kalau Hellen akan tersinggung dengan apa yang dia katakan, tapi itu membuat dia senang, karena bisa menang berdebat dengan ratu komodo itu. "Tuan?" Savian menyusul Hansel. Hansel menoleh dengan susah tawanya, dan dapat ditebak kalau Tuan Muda nya itu telah menang telak berdebat dengan Hellen. "Bagaimana dia?" tanya Hansel setelah berdehem. "Nona Alea sangat cerdas, dia berbakat berakting. Terlihat nona sangat tenang menjawab semua pertanyaan Tuan besar," celoteh Savian. "Memangnya tadi saat aku pergi, kakek bertanya apa?" tanya Hansel merasa tidak suka dengan Savian yang memuji Alea. "Banyak. Kapan bertemu Tuan, apa yang membuat dia suka Tuan, apa yang membuat dia yakin kalau Tuan tidak main-main dengannya sehingga akan menikahinya, dan nona Alea menjawab dengan, tak tak tak! pokonya lancar," Savian menceritakan dengan excited. "Jangan berlebihan!" cetus Hansel yang langsung berlalu pergi meninggalkan Savian seorang diri di sana. Hari itu Hansel rasa untuk mengajak Alea berkenalan dan mengambil hati sang Kakek, sudah lebih dari cukup. Maka Hansel pun memohon pamit pada Tuan besar Ravindra, walaupun memang Ravindra terus memaksa agar Alea dan Hansel akan tetap tinggal di sana untuk satu malam. Namun, Hansel tetap keukeuh akan pergi. "Baiklah tidak hari ini, tapi kau harus berjanji kapan-kapan akan menginap di sini bersama Alea," ucap Ravindra pada cucunya. "Emm, aku berjanji." "Dan jangan terlalu lama. Segeralah mengambil keputusan!" Ravindra menepuk pundak Hansel yang segera diiyakan nya. Hari sudah mulai gelap, mereka sudah berada dalam perjalanan, tetapi Alea tiba-tiba meminta diturunkan di tepi jalan yang membuat Hansel mendelik curiga. "Apa kau akan kabur?" "Astaga Om! mana bisa aku kabur, lagipula aku kan sudah mengatakannya, mana bisa aku kabur, kau sangat kaya pasti akan sangat mudah mencari ku, dan lagi, kau juga sudah memegang kartu pelajar ku 'kan?" ujar Alea yang kesal karena lagi-lagi Hansel mencurigainya. "Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarmu ke tempat tinggal mu," jawab Hansel. "Terserah!" kesal Alea. "Oh ya, kenapa kau sangat berani mengatakan kalau kau adalah pemilik sebuah cafe, segala memberitahu nama cafe khayalan mu!" sungut Hansel mengingat sandiwara ya g dilakukan Alea. Alea hanya mendengus dan tak berselang lama Alea memekik meminta Savian untuk menghentikan laju kendaraannya. "Aku tidak berkhayal! itu memang milikku!" Alea mendelik kan matanya dan bersiap untuk keluar dari mobil, tapi sebelum itu ia justru berpamitan kepada Savian bukan pada Hansel. "Kak Vian, aku keluar dan ya, terima kasih." Alea pun berlalu pergi seraya membanting pintu sedikit kencang. Hansel mendengus tidak terima karena sikap Alea, yang bisa ramah pada Savian tapi tidak dengannya. "Bocah itu! awas kau!" gerutu Hansel. Savian yang mendengar gerutuan Hansel hanya bisa tertawa kecil, baru kali ini ia lebih di lihat ketimbang Tuan-nya, dan itu pada Alea. Alea masuk kesebuah cafe yang cukup ramai pengunjung tapi sebelum itu ia berbalik dan melambaikan tangannya, bukan pada Hansel tapi pada Savian. Yang semangkin membuat Hansel kesal dibuatnya. "Dia benar-benar tidak sopan! akulah calon suaminya, tapi kenapa malah lebih akrab dengan mu!" sungut Hansel lagi. "Lea gadis yang baik, dia tahu mana yang baik dan tidak," ucap Savian tanpa sadar dan itu membuat Hansel memicing padanya. "Kau panggil dia siapa? Apa kau sudah sangat akrab dengannya, sampai ada panggilan akrab seperti itu?" ketus Hansel. "Dan apa tadi? jadi, menurut mu aku tidak baik, dan kau orang yang lebih baik dari ku, iya?!" lanjut Hansel dengan marah. Mendengar Hansel yang marah membuat Savian menyesali apa yang dia katakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD