Sandiwara Yang Rapih

1035 Words
Di sinilah mereka berada, di depan sebuah rumah mewah yang biasa orang sebut Mansion. Sejak tadi Alea tidak hentinya berdecak kagum melihat mewahnya rumah itu yang bahkan lebih besar, lebih mewah dan lebih-lebih dari segalanya ketimbang rumah milik Hansel. "Ini rumah Kakek Anda?" tanya Alea menoleh ke samping langsung pada Hansel yang berdiri di dekatnya. "Hemm, kenapa?" "Besar sekali, apa kakek mu keturunan bangsawan, atau sultan? Hais! ini sangat mewah," ujarnya yang terus mengangumi interior rumah Ravindra Marquez, kakek Hansel. Hansel mendengus lalu melangkah pergi yang langsung di susul oleh Alea juga Savian. Namun, baru saja Hansel akan masuk kedalam rumah, seorang wanita datang dan berdiri di ambang pintu. Dengan seketika langkah Hansel pun terhenti, dan suasana berbeda pun cukup terasa. Pandangan mata keduanya seakan menyiratkan sebuah peperangan, tapi siapa wanita itu? "Dia siapa?" tanya Alea dengan berbisik pada Savian. "Nona Hellen, kakak Tuan Hansel," balas Savian dengan berbisik juga. Alea memiringkan kepalanya, memperhatikan wajah Hansel dan Hellen yang bahkan tidak sama sekali ada kemiripan di setiap bentuk wajah keduanya. "Tidak mirip," gumam Alea. Wanita yang bernama Hellen melirik kearah Alea yang berdiri di belakang Hansel. Matanya memicing memperhatikan penampilan Alea yang langsung bisa ia tebak kalau Alea seorang gadis remaja yang di dandani agar terlihat dewasa. "Apa kabar? sudah lama kita tidak bertemu. Apa kau tidak merindukan kakak mu ini, hm?" tanya Hellen dengan senyuman yang aneh menurut Alea. Bukannya menjawab, Hansel malah mendengus dan memutar matanya malas. Raut wajah Hansel yang datar sudah menjelaskan kalau mereka sebenarnya tidak sama sekali dekat. "Hay gadis manis, siapa nama mu?" tanya Hellen yang kali ini di peruntukan untuk Alea. Dengan sangat manis, Alea tersenyum pada Hellen lalu membungkuk sedikit memberikan salam hormatnya. "Saya Alea, Nona," sahut Alea. "Nama yang manis, kau bersekolah di mana?" "Ak—" "Kakek pasti sudah menunggu, bisakah kau membiarkan kami lewat?" potong Hansel yang menyela apa yang akan Alea katakan. Tanpa berkata apapun, Hellen menyingkir sedikit dari tempatnya berdiri memberikan jalan untuk Hansel dan lainnya. Alea sedikit mengangguk samar pada Hellen yang membalas dengan senyuman. "Cih! apa dia berniat mengelabui kakek, dilihat dari mana pun gadis itu pasti masih berkuliah, atau mungkin bersekolah?" gumam Hellen seraya menebak-nebak status Alea. Hansel mensejajarkan langkahnya dengan Alea, karena ia ingin memberi tahu apa yang harus Alea katakan dan apa yang tidak boleh Alea jawab. "Ingat! jangan pernah bilang kalau kau masih duduk di bangku sekolah, mengerti?" peringatan itu keluar dari mulut Hansel dan langsung di mengerti oleh Alea. "Sangat mengerti, Tuan muda," sahut Alea meledek. "Cih!" "Berlakon, itu sangat mudah bagiku," gumam Alea yang tersenyum penuh makna. "Kalian sudah datang? kemarilah, Liu membuatkan makanan istimewa hari ini," seru Ravindra yang menyambut kedatangan Hansel dan lainnya. Akan tetapi, mata Ravindra terus saja tertuju pada Alea yang tersenyum manis kepadanya. "Selamat pagi Tuan besar," sapa Alea dengan sopan. "Selamat pagi, dia–" Mata Ravindra beralih ke cucu laki-lakinya, meminta jawaban atas pertanyaan di benaknya. "Dia Alea, Kek." Hansel berucap seraya meraih tangan Alea dan menggenggamnya, seakan memberi tahu kalau Alea adalah kekasihnya tanpa memberitahu langsung. "Nama yang cantik, tapi kenapa kau tidak pernah membawanya ke sini?" sungut Ravindra pada Hansel. "Maafkan Alea, Kek. Alea baru sempat mengunjungi Kakek sekarang," sambar Alea yang sedang memerankan bagiannya. "Tidak apa, Nak. Kemarilah, duduk makan dengan Kakek!" panggil Ravindra, Alea pun segera menghampiri Ravindra setelah melepaskan genggaman tangan Hansel tanpa permisi. Alea duduk manis di samping Ravindra yang bahkan menyambutnya dengan baik. Menyendokkan makanan ke piring Alea sampai minum pun Ravindra yang menuangkannya, Alea sempat menolak tapi Ravindra tetap memaksa. Hansel memicing lalu ikut duduk tepat di depan Alea dan di samping Kakeknya. Menatap Alea yang berlaga sok manis di depan Ravindra, membuat Hansel kesal tapi memang itu yang dia harapkan agar sang kakek percaya dan Alea bisa membuat kesan baik di pertemuan pertama ini. "Hellen duduklah! kita makan bersama. Dia calon istri adik mu," seru Ravindra pada Hellen yang ikut bergabung di meja makan. "Oh ya? bertemu di mana kalian?" tanya Hellen sembari tangannya mengoleskan butter pada rotinya. "Iya, coba ceritakan pada Kakek, kalian bertemu di mana? Kenapa bisa menyukai cucu Kakek yang nakal itu!" ujar Ravindra. Hansel tertegun, ia takut kalau-kalau Alea salah berkata dan membuat rencananya berantakan. "Aku bertemu di cafe, saat aku sedang bekerja—" "Jadi maksudmu, kamu kerja sebagai pelayan di cafe?" Belum Alea menyelesaikan ucapannya, Hellen memotongnya begitu saja tanpa menunggu Alea menyelesaikannya. "Hahah, tidak apa-apa, tidak masalah Alea bekerja sebagai pelayan pun. Lagipula Kakek sudah kaya, harta Kakek juga akan kalian nikmati nantinya," ujar Ravindra mencairkan suasana yang sedikit canggung karena Hellen, cucu perempuannya. "Maaf Nona, saya bukan pelayan di sana. Saya owner di cafe itu," ucapan Alea membuat Hansel dan Savian saling menatap kagum karena sandiwara Alea yang benar-benar mengalir sempurna, seperti sedang tidak bersandiwara. "Wah! hebat!" puji Ravindra. "Cih, sombong! baru saja jadi owner disatu cafe!" Hellen nyinyir dengan suara yang pelan. "Kamu masih sangat muda tapi sudah memiliki cafe?" tanya Ravindra yang merasa bangga dengan Alea. "He'um, dan bulan ini aku juga akan membuka cabang di daerah anggrek. Kakek harus datang!" seru Alea dengan riang. "Pasti, pasti. Kakek pasti datang, tidak sangka gadis muda seperti mu sudah memiliki dua cafe." Apa yang Alea katakan mungkin terdengar membanggakan bagi Ravindra, tapi tidak dengan Hansel yang gelisah ditempatnya karena sandiwara Alea sudah melewati batas. "Bocah ini! sangat berlebihan," gerutu Hansel yang menatap sinis pada Alea yang justru melemparkan senyuman untuknya. Ketidaknyamanan Hansel tertangkap basah oleh Hellen, yang semakin membuat perempuan dewasa itu yakin kalau adik laki-lakinya memang sedang menyembunyikan sesuatu. Maka, Hellen pun akan menambahkan bumbu agar Hansel yang merupakan adik laki-lakinya sekaligus rivalnya semakin gelisah. "Oh ya? kalau begitu apa aku boleh berkunjung ke cafe mu?" ucap Hellen. "Tentu saja, datanglah. Aku akan menyambut dengan baik," jawab Alea dengan sangat tenang, berbeda dengan Hansel yang semakin panik. "Wah terima kasih." Makan bersama pun telah usai, tapi ketahuilah sepanjang makan sarapan Hansel dan Savian benar-benar merasakan cemas karena takut Alea keceplosan dan membuat berantakan semuanya. Namun, yang ia lihat, sejauh ini Alea masih bersikap dengan begitu tenang. "Oh ya, Alea. Apa nama cafe mu? agar aku mudah menemukannya?" ucap Hellen lagi setelah mengelap bibirnya menggunakan tisu. Mata Hansel membesar, ia sudah benar-benar pasrah jikalau Alea dan dia ketahuan sedang berbohong.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD